Berharap Komunitas Bubar karena Tak Ada Lagi Orang Kelaparan

Berharap Komunitas Bubar karena Tak Ada Lagi Orang Kelaparan

  Senin, 11 March 2019 08:57
BAGIKAN NASI: Anggota Komunitas Berbagi Nasi membagikan nasi bungkus kepada warga yang membutuhkan, Jumat (8/3) malam. FIRDAUS/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Aksi Komunitas Berbagi Nasi di Jalanan Kota Pontianak

Komunitas Berbagi Nasi punya kegiatan unik: membagikan nasi secara gratis bagi warga  kurang mampu. Aksi mereka biasa dilakukan malam hari. Pontianak Post berkesempatan menyaksikan langsung aksi komunitas ini Jumat (8/3) lalu. Bagaimana kisahnya?

FIRDAUS DARKATNI, Pontianak

Malam itu, sejumlah anak muda berkumpul di pelataran ruko kompleks Pontianak Mall. Jarum jam menunukkan pukul 21.10. Mereka tampak sibuk menyiapkan nasi bungkus  dan air minum. Dibagi dua tim, mereka lalu menyisir jalan-jalan di Pontianak untuk membagi-bagikan makanan dan minuman tersebut. 

Ya, itulah aktivitas Komunitas Berbagi Nasi Jumat (8/3) malam. Ali Nukarta, Ketua Komunitas Berbagi Nasi mengatur tim dengan memilih setiap ketua regu yang memimpin dan mengatur tim. Tim pertama menyusuri Jalan Gajah Mada dan satunya lagi di Jalan Tanjungpura.

“Ada dua tim yang kita bentuk, setiap tim akan dipimpin satu ketua regu. Kita akan mulai menyebar di sekitar Jalan Gajah Mada dan Jalan Tanjungpura. Nasi bungkus harus tersampaikan ke target yang sudah kita tentukan,” tegas Ali Nukarta ketika memimpin briefing.

Target yang dimaksud Ali Nukarta adalah masyarakat yang tak punya rumah atau yang tidur di teras ruko dan satpam yang sedang berjaga malam sampai tukang becak. “Kita sudah sering keliling di dua jalan ini. Biasanya kita ajak mengobrol atau bergurau, tujuannya untuk mengetahui bahwa target ini memang sangat membutuhkan bantuan dari kita,” tambahnya.

Nasi bungkus yang terkumpul ini merupakan donasi dari berbagai pihak. Ada yang dari rumah makan dan donasi anggota komunitas. “Datangnya bisa dari mana saja. Ada yang dari donasi anggota, rumah makan bahkan teman-teman dari anggota komunitas. Terutama siapa pun yang ingin berbagi, silahkan,” paparnya.

Pontianak Post bersama Ali Nukarta masuk ke dalam tim yang sama, yakni tim yang akan bertugas membagikan nasi bungkus di sekitar Jalan Tanjungpura. Kami pun memulai dengan masuk ke arah Pelabuhan Seng Hie, sekitar Pasar Tengah dan Pasar Nusa Indah. 

Setiap bertemu dengan target, para anggota memulai dengan menyapa dengan ramah. “Sudah makan Pak, ini ada rezeki nasi bungkus dan air mineral. Silakan disantap ya pak,” ucap Wiwit salah satu dari anggota komunitas.

Dengan alas dari tikar rotan dan kain sarung yang terlipat di pinggangnya. Target pun langsung menerima nasi yang dibagikan dan melahapnya. “Terima kasih ya, Nak,” ucap target yang biasa dipanggil Nek Sarti. 

Menurut Ali, Nek Sarti yang sudah lama menjadi target dari komunitas ini. Pernah dibawa ke Panti Jompo, namun karena tak betah Nek Sarti kembali lagi tidur di emperan ruko sekitar Jalan Tanjungpura. “Nek Sarti sudah lama menjadi target kita. Tiap jumat malam, beliau tetap kita beri nasi bungkus. Kemarin pernah dibawa ke Panti Jompo, namun tak lama itu. Pulang ke sini lagi,” jelasnya.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul 23.24, Ali Nukarta memanggil semua tim untuk berkumpul di tempat semula. Anggota diajak untuk berbagi cerita dan pengalaman saat membagikan nasi bungkus ke target. 

Salah satu anggota mengaku bahwa kegiatan ini adalah salah satu bukti dari pemerintah yang tak terlalu memperhatikan kondisi tunawisma di Pontianak. “Ini bukti dari pemerintah yang tak terlalu memperhatikan rakyatnya yang kelaparan,” ungkap Hendra, salah satu anggota komunitas dengan menggebu-gebu.

Mirna yang juga anggota Komunitas Berbagi Nasi pun mengungkapkan harapan agar komunitas ini bisa bubar karena tak ada lagi dari para tunawisma yang kelaparan. ”Kita berharap tak ada lagi yang kelaparan. Dengan begitu, komunitas ini bisa bubar,” kata mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Pontianak itu.

Setelah misi selesai, para anggota yang sebagian berasal dari mahasiswa dan kalangan umum di berbagai profesi ini kemudian bersiap untuk beranjak pulang. Mereka masing-masing mengingatkan kembali bahwa rutinitas ini masih akan terus dilaksanakan setiap Jumat malam. “Ingat ye budak, Jumat depan kite ngumpul lagi,” lanjut Mirna dengan logat Pontianak yang kental. (*)

Berita Terkait