Berendeng, Tanggul, Tawang, Sungkung dan Desa Sekidak

Berendeng, Tanggul, Tawang, Sungkung dan Desa Sekidak

  Rabu, 23 March 2016 10:49
TOWER: Beberapa tower akan dibangun untuk mempermudah masyarakat perbatasan Jagoi Babang mengakses komunikasi, baik ponsel maupun internet. ISTIMEWA

Berita Terkait

Masyarakat mengeluhkan jaringan  telekomunikasi yang kerap terganggu. Padahal, hal itu terjadi di kawasan perbatasan negara, kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Internet maupun telepon selular jadi barang ‘’langka’’. Jaringan operator tidak tersentuh secara menyeluruh di kawasan Indonesia - Malaysia.
Airin Fitriansyah, Jagoi Babang

 

"WILAYAH perbatasan negara tidak ada sinyal sama sekali. Jadi kami warga di sini kesulitan menjalin komunikasi," ucap Deky (34), warga Kecamatan Jagoi Babang kepada Pontianak Post. Dia mengatakan gangguan jaringan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Namun pemerintah belum memberikan tanggapan terhadap permasalahan ini.

Ia menuturkan jalinan komunikasi antar daerah sangat penting dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Interaksi antara satu dengan yang lain perlu ditingkatkan agar terciptanya jalinan kehidupan berbangsa dan bernegara di kawasan perbatasan negara. mengetahui informasi tentang  situasi dan kondisi dalam negeri.

"Jadi selama ini wajar saja kami warga di perbatasan negara tidak mengetahui informasi apa apa tentang perkembangan negara sendiri. Karena jaringan komunikasi internet, tayangan televisi maupun jaringan seluler tidak tersentuh bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman maupun perbatasan negara," terang ayah dua anak ini.

Dia menyatakan apabila jaringan telekomunikasi tidak bisa di akses oleh masyarakat di perbatasan negara. Ini akan memperburuk keadaan dalam tatanan kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara.  

Guru Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kecamatan Jagoi Babang Ester (40), mengeluhkan hal sama. Kendala yang dialami oleh masyarakat hanyalah jaringan telekomunikasi yang sulit didapatkan di kawasan perbatasan negara.

"Ponselnya ada. Tapi tidah ada sinyal. Jadi kita harus mencarinya terlebih dahulu di tempat tertentu, supaya bisa berhubungan langsung dengan pihak lain," terangnya. 

Ia mengungkapkan awal bertugas di perbatasan infrastruktur pembangunan masih belum maksimal. Pada tahun 2005, jalan menuju kawasan perbatasan negara masih beralaskan tanah. Sehingga para guru yang bertugas diperlukan kesabaran tinggi untuk mendidik anak anak di kawasan perbatasan negara.

Plt Kadis Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bengkayang Damianus menanggapi, terkait permasalahan jaringan telekomunikasi sudah disampaikan oleh pihaknya kepada pemerintah pusat melalui kementerian terkait.

Dia mengatakan sudah lama pihaknya mengajukan menara telekomunikasi di wilayah pedalaman maupun perbatasan negara. Namun hasil pengajuan baru ditanggapi pada tahun 2015, akhirnya mendapat persetujuan dari kementerian terkait untuk memperkuat jaringan sinyal di kawasan perbatasan negara.

Ia mengungkapkan dari 14 pengajuan pemerintah daerah melalui Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bengkayang baru lima menara yang mendapat persetujuan pemerintah pusat. Hasil survei pihak terkait lima menara tersebut  akan dibangun di kawasan perbatasan dan pedalaman di Kecamatan Siding dan Kecamatan Jagoi Babang.

Adapun wilayah yang menjadi prioritas pembangunan menara telekomunikasi diantaranya Desa Berendeng, Desa Tanggul, Desa Tawang dan Desa Sungkung Komplek di Kecamatan Siding. 
Sedangkan Kecamatan Jagoi Babang menara telekomunikasi akan ditempatkan di Desa Sekidak karena berbatasan langsung antara batas negara Indonesia dan Malaysia.

"Kami sudah mengajukan menara telekomunikasi kepada pemerintah pusat untuk membantu masyarakat di kawasan pedalaman dan perbatasan negara. Hanya kesedia masyarakat lagi untuk menjaga keamanan pembangunan menara telekomunikasi diperbatasan negara. Supaya proyek dari kementerian pusat bisa berjalan dengan baik," imbuh mantan Sekretaris Dishubkominfo Kabupaten Bengkayang. (*)

 

Berita Terkait