Bercinta Usai Bertengkar

Bercinta Usai Bertengkar

  Sabtu, 23 July 2016 09:49
Ilustrasi

Berita Terkait

Konflik biasa terjadi dalam berumah tangga. Ternyata tak selamanya pertengkaran antara suami dan istri meninggalkan pengaruh negatif dalam sebuah hubungan. Pasangan yang langsung melakukan hubungan seks setelah bertengkar dapat menikmati orgasme yang jauh lebih memuaskan.

Oleh : Marsita Riandini

Hubungan rumah tangga tak selalu harmonis. Ada gejolak yang dihadapi sehingga terjadi pertengkaran. Tetapi tak selamanya pertengkaran itu membuat hubungan semakin memburuk. Bahkan sebaliknya, bisa membuat hubungan suami istri ke arah yang lebih baik.

Kepada For Her, dr. Ali Fuchih Siauw, M. Repro.,Sp. And mengatakan ketika pasangan melakukan hubungan suami istri setelah bertengkar, kemungkinan mencapai kualitas hubungan yang baik bisa terjadi.

“Gairah untuk bercinta semakin tinggi, sehingga hubungan terasa semakin erat,” jelas pria yang ditemui di klinik Yu Tee, Jalan Abdurahman Saleh ini.

Menurut Ali, pasangan saling membujuk dan merayu usai bertengkar. Mereka saling menunjukkan kasih sayang untuk memperbaiki sebuah hubungan. Hal tersebut menimbulkan sensasi seks yang hebat.

Pada saat sedang bertengkar, lanjut Ali, sebagai bentuk pembelaan dari diri dari masing-masing orang, baik suami atau istri akan saling menjauh. Namun, ketika ketegangan telah mereda, biasanya pasangan saling berusaha memperbaikinya. “Misalnya, setelah bertengkar, suami membujuk sang istri dengan cara membelainya, menciumnya, yang kemudian lanjut bercinta. Biasanya kasih sayang yang ditunjukkan setelah bertengkar ini lebih maksimal,” ucapnya.

Pasangan suami istri melakukan hubungan seks pascabertengkar akan kembali mengalami yang namanya jatuh cinta. Mereka juga mengalami sebuah sensasi yang dahsyat saat bercinta.

“Ini juga membantu pasangan untuk melupakan pertengakaran yang terjadi. Jika dilakukan dengan sepenuh hati, sehingga pasangan bisa saling memuaskan,” papar Ali.

Ali menambahkan meskipun seks setelah bertengkar bisa lebih memuaskan, tetapi seks itu tergantung mood masing-masing orang. Kalau salah satu pihak tidak mau melakukannya, seks itu tidak akan memberikan kepuasan maksimal untuk kedua belah pihak Itu sebabnya tidak semua pertengkaran bisa membuat pasangan bisa melakukan hubungan intim setelahnya.

Ali membagi pertengkaran menjadi dua. Pertengkaran dengan permasalahan biasa, dan pertengakaran karena kebencian. “Umumnya, pasangan bisa mencapai kualitas seksualnya setelah bertengkar itu ketika masalah yang dihadapi itu masalah biasa. Misalnya istri tidak suka perilaku suami yang jorok, ataupun perilaku suami lainnya tetapi tidak sampai menaruh kebenciaan, apalagi dendam,” katanya.

Berbeda halnya pada pasangan yang bertengkar karena masalah yang cukup serius, sampai menimbulkan kebencian diantara satu atau keduanya. “Kalau sudah meninggalkan kebencian, ini cenderung sulit. Jangankan untuk bercinta setelah bertengkar, beberapa hari setelahnya pun belum tentu mencapai orgasme yang diinginkan,” ungkap Ali.

Sayangnya, kata Ali, kasus seperti ini cukup banyak terjadi pada sejumlah pasangan. Bahkan karena tidak menemukan solusi dalam masalah yang dihadapi, menimbulkan keretakan bahkan perceraian. “Biasanya hal ini menyangkut masalah-masalah yang bersifat prinsip. Sebaiknya segera temukan solusinya,” pungkasnya. **

Berita Terkait