Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada Orang Tua

  Jumat, 15 February 2019 10:48   0

Oleh: Dr. Harjani Hefni, Lc,MA

Berbakti kepada orang tua adalah ibadah paling mulia dalam hubungan manusia dengan sesama. Perjuangan ibu mengandung dan melahirkan, serta ketulusan kedua orangtua dalam merawat, membesarkan, dan mendidik adalah alasan paling mendasar yang menyebabkan anak harus berbakti kepada mereka. 

Kalau mereka tidak maksimal menunaikan amanah Allah buat anaknya, perjuangan ibu untuk melahirkan dan semangat ayah untuk tidak menelantarkan anak saja sudah cukup menjadi alasan untuk berbakti kepada mereka. Karena itu, sehebat apapun perjuangan untuk membalas kebaikan mereka, tidak mungkin kita dapat membalasnya. 

Meskipun berbakti kepada orang tua adalah keniscayaan, tapi ada saja anak yang tidak punya hati. Ada anak yang tega menyakiti hati orang tuanya dengan berkata kasar dan tidak mau mendengarkan nasehatnya,  ada yang menelantarkannya, ada yang menjadikannya pembantu, ada yang memperkarakannya ke pengadilan, bahkan ada yang tega membunuhnya. Atas dasar itulah Allah menyampaikan wasiat khusus kepada semua manusia agar berbakti kepada keduanya. 

Allah SWT berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”. (QS. Al Ahqaaf: 15).

Dalam Alquran, wasiat Allah kepada anak untuk berbuat baik kepada orangtua lebih banyak dari wasiat Allah kepada orangtua agar berbuat baik kepada anaknya. Wasiat Allah kepada anak terdapat dalam Alquran Surah Al ‘Ankabut ayat 8, Surah Luqman ayat 14, dan Surah Al Ahqaf ayat 15 yang disebutkan di atas. Sedangkanwasiat Allah kepada orang tua terdapat dalam Surah An-Nisa’ ayat 11, yaitu tentang warisan. Data di atas cukup menjadi alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa mengingatkan anak untuk berbakti kepada orang tua harus lebih sering dilakukan dibandingkan mengingatkan orang tua agar berbuat baik kepada anaknya. Kenapa? Karena kasih sayang orang tua terhadap anaknya adalah naluri dan fitrah, tetapi kasih sayang anak terhadap orang tua meski pun juga fitrah, tetapi kadang-kadang tertutupi oleh kesibukan pribadi dan anak istrinya. Karena itu, mereka harus lebih sering diingatkan. 

Wasiat Allah secara khusus kepada anak-anak agar berbuat baik kepada orangtua menunjukkan betapa mulianya amalan ini. Sarana untuk berbakti kepada mereka sangat banyak. Di antaranya bergaul dengan mereka dengan cara yang baik, berkomunikasi dengan lemah lembut, tawadhu’ dan tidak bersikap sombong, memberikan bantuan materi, dan senantiasa mendoakan mereka. Lima hal ini akan dijelaskan secara singkat dalam tulisan ini.

Pertama, bergaul dengan mereka dengan cara yang baik. Perintah agar bersikap baik secara tegas disebutkan dalam Alquran. Bahkan, perintah ini disebutkan bersamaan dengan larangan Allah kepada anak untuk mengikuti perintah orang tua, jika mereka mengajak anaknyauntuk menyekutukan Allah. Allah berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik...” (QS Luqman: 15).  

Jika orang tua yang memaksa anaknya untuk menyekutukan Allah saja tidak boleh diperlakukan secara tidak baik, apalagi kalau mereka senantiasa mengajak dan membimbing kepada kebaikan. Bahkan, Rasulullah pernah memerintahkan seorang anak yang ingin berjihad bersamanya untuk mengurungkan niatnya berjihad dan kembali kepada orang tuanya yang menangis ditinggalkan anaknya. (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Kedua, berkata kepada mereka dengan perkataan yang memuliakan dan membuat mereka merasa mulia (qoulan kariman). Allah melarang untuk mengatakan ah (uff ), apalagi sampai membentak mereka (wala tanhar huma). Semua kata yang membuat orang tua tergores, tersayat, luka apalagi sampai patah hatinya masuk dalam kategori uff dan wala tanhar huma. Karena itu, jaga lisan dan jaga emosi, meskipun ada keinginan atau kebutuhan yang tidak atau belum bisa mereka penuhi.

Ketiga, merendahkan sayap atau bersikap tawadhu’ kepada mereka. Ketika anak sudah besar dan mungkin merasa memiliki kelebihan dibandingkan orangtuanya, kadang-kadang sikap sombong ini muncul. Bentuk kesombongan itu di antaranya tidak mau mendengarkan, suka membantah, meremehkan, dan bahkan sampai menganggap orang tua tidak ada apa-apanya. Merendahkan sayap bisa dilakukan dengan menyimak nasihat mereka, berusaha untuk selalu melaksanakan perintah mereka selama tidak melanggar perintah Allah, dan selalu ingin berkhidmat kepada mereka.

Keempat, memberikan infak kepada orangtua. Roda kehidupan selalu berputar. Di saat lahir,  kita adalah manusia yang paling lemah dan tidak memiliki apa-apa. Pada saat itu, Allah menganugerahkan orangtua yang siap berkorban apa saja untuk kebaikan anaknya. Seiring perjalanan waktu, anak tumbuh menjadi orang yang kuat dan orangtua sudah harus menyerahkan pekerjaan mereka ke orang lain dan mereka berstatus pensiun. Pada saat itu, giliran anak yang harus berbuat baik kepada mereka. Karena itu, memberikan infak kepada orangtua adalah salah satu cara berbuat baik terhadap mereka. Allah berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, ‘Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah maha mengetahui.’” (QS. Al Baqarah: 215). Terkadang, ada anak yang melupakan sisi keempat ini terutama setelah mereka menikah dan sudah memiliki anak.

Kelima, mendoakan orangtua. Perintah untuk mendoakan orangtua lengkap dengan redaksinya disebutkan oleh Allah dalam Alquran. “Robbirhamhuma kamaa rabbayaani shaghiiro” (Wahai Rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil). [Al-Isra : 24].  

Mendoakan orangtua juga merupakan salah satu ciri anak yang berbakti dan doanya akan menjadi amal yang terus mengalir untuk kedua orangtuanya.  Ya Allah, jadikan kami orangtua yang saleh yang sanggup mendidik anak yang Engkau titipkan kepada kami,  dan jadikan kami anak-anak yang saleh yang senantiasa berbakti kepada orangtua. **

*Penulis adalah Dosen Komunkasi Islam Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Pontianak.