Berawal dari Kata ‘Life of Muslim’

Berawal dari Kata ‘Life of Muslim’

  Selasa, 29 January 2019 09:50

Berita Terkait

Lolos dalam program Life of Muslim in Germany 2018 adalah pengalaman berharga bagi Mutiara Intan Permatasari. Dosen luar biasa jurusan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN berkesampatan belajar, mengenal, dan lebih memahami kehidupan umat muslim di Jerman.  

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Adanya kata-kata ‘Life of Muslim’ membuat Mutiara Intan Permatasari tertarik untuk mencoba program Life of Muslim in Germany 2018. Perempuan yang akrab disapa Muti ini sangat penasaran tentang kehidupan umat muslim di Negara Eropa, khususnya di Jerman yang dekat dengan Perancis dan beberapa negara lainnya. 

“Apakah umat muslim yang dikenal sangat minoritas ini bisa hidup berdampingan dengan baik di Jerman?” tanyanya. 

Berbekal dengan surat rekomendasi dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di London yang kebetulan adalah dosen pembimbingnya, yakni Prof. E. Aminuddin Aziz, Ph.D, surat rekomendasi dari MUI Kalimantan Barat, dan surat keterangan yang dikeluarkan oleh IAIN Pontianak, Muti mantap mendaftarkan mengikuti Program Life of Muslims In Germany tersebut.

Dosen luar biasa jurusan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN yang mengampu mata kuliah Bahasa Inggris ini mengatakan proses pendaftaran sama seperti apply scholarship. 

“Bisa dikatakan formatnya sudah memiliki standar, seperti mengirimkan curiculum vitae (CV) dan essay. Bedanya, essay yang ditulis lebih mengarah pada motivation letter,” jelas Muti. 

Perempuan kelahiran Bandung pada 8 Juni1990 ini mengungkapkan dalam menulis motivation letter, penulis diwajibkan menyebutkan ketertarikan mengikuti program ini dan feedback kedepannya. Banyak hal yang dituliskan Muti di dalam essay-nya yang berjudul ‘Being Muslim in a multicultural society: To Propose Not to Impose, to Share Not to Propagate The Islamic Values To the world’. 

Mulai dari Jerman termasuk salah satu top list negara yang ingin dikunjungi. Jerman dikenal sebagai negara pelajar. Terbukti banyak akademisi yang memilih menimba ilmu di negara ini. Termasuk Presiden ketiga RI, B.J Habibie yang merupakan alumni di salah satu perguruan tinggi di Jerman. Jerman juga menjadi salah satu negara Eropa yang teknologinya berkembang sangat pesat. 

Selain itu, diantara semua Negara Eropa, Jerman termasuk negara yang membuka keran untuk para muslim dari Syria dan Yaman. Dimana umat muslim yang diasingkan dari negaranya sangat diterima baik di Jerman. Dan ini juga menjadi pertanyaan yang ditujukan Muti di akhir essay-nya, bagaimana pihak pemerintah Jerman memberikan keringanan dan tempat tinggal kepada para muslim.

“Essay yang saya tulis memang sedikit sarkas. Tapi, saya ingin mengetahui dan menggali lebih dalam lagi mengenai hal ini jika berkesempatan lolos dalam program ini,” ujarnya. 

Dalam mengolah bahannya, Muti lebih banyak mengarah pada open table research. Muti benar-benar harus menguasai mulai dari paragraf pertama hingga akhir essay yang ditulisnya. Karena para juri akan memberikan beberapa pertanyaan dari essay tersebut. Di paragraf pertama Muti membahas isu pengeboman di Eropa yang seringkali ditudingkan pada pihak muslim sebagai teroris. 

Namun, masyarakat Jerman jauh lebih terbuka menyikapinya dibandingkan masyarakat Eropa lainnya. Masyarakat Jerman pada umumnya berpendapat bahwa teroris tidak memiliki agama dan Islam bukan teroris. Sementara di paragraf lainnya muti membandingkan isu multietnis yang kentara bukan hanya di Jerman saja, tapi juga di Kalbar. 

Muti menyaksikan potret keharmonisan antaretnis di Jerman yang telah berlangsung sekian puluh tahun dengan label sosial serta agamanya masing-masing. Apakah hal tersebut juga bisa terjadi di Indonesia? Dan apakah Kalbar yang dihuni oleh etnis Tionghoa, Melayu, Dayak, serta Madura cukup representatif untuk mewakilinya?

Menurut Muti, sekat antara keduanya hanya satu, dimana Jerman adalah negara maju dan Indonesia adalah negara berkembang. Dirinya ingin langsung belajar, mengadaptasi, dan membagikan ilmu ini. Tak disangka, judul essay ini berhasil menarik perhatian juri, baik dari pihak Goethe, Kedutaan Besar Jerman (pihak DAAD), dan Universitas Paramadina.

“Essay yang ditulis benar-benar jadi kunci saat interview. Walaupun ada beberapa pertanyaan yang di luar topik. Tapi, essay tetap jadi acuan. Karena tertarik tidaknya juri dilihat dari essay. Lewat essay juri juga melihat pola berpikir peserta, apakah kritis atau pronologis,” jelasnya. 

Setelah dinyatakan lolos, Muti bersama 13 orang lainnya terbang ke Jerman pada tanggal 7 sampai 22 Juli 2018. Hari pertama ia dan peserta melakukan orientasi. Kemudian hari selanjutnya ia masuk ke kelas pertama. Di kelas ini, Muti dan 13 orang lainnya dibarengi dengan Profesor Susan Kaiser, salah satu juarnalis asal Jerman yang menanungi konten Muslim. 

Setelah berdiskusi, Muti dan lainnya mendapatkan temuan lapangan dalam dimensi sosial yang cukup mengejutkan. Setiap muslim di Jerman telah membawa serta identitas etnisnya masing-masing.  Muslim dari Turki yang cenderung bergaul dan membatasi diri hanya dengan komunitasnya saja, begitu pula muslim yang datang dari komunitas lainnya.

Kondisi ini cukup berbeda jika dibandingkan dengan keberadaan para cendekiawan muslim pada atmosfer akademik. Para muslim yang mengenyam bangku pendidikan tentu saja telah mengalami akselerasi pola pikir yang menyebabkan mereka lebih fleksibel. Mereka pun dinilai lebih netral dan mampu menunjukkan gaungnya di dunia akademisi. Tidak sedikit para cendekiawan muslim yang memberikan banyak kontribusi khususnya dalam meluruskan asumsi tentang Islam yang dinilai keras. 

“Ini pulalah yang menyebabkan studi ke-Islaman sangat diminati di perguruan tinggi bukan oleh pemeluk Islam saja namun oleh mereka yang ingin mempelajari tentang Islam,” ungkapnya. 

Sependapat dengan Kaiser, Muti menyatakan bahwa sebagai negara sekuler Jerman memang telah sukses memisahkan antara agama dan negara. Sehingga segala jenis hal yang berhubungan dengan agama tidak dicampuri oleh pemerintah. Itu pula yang menyebabkan Islam berkembang pesat di Jerman (dibandingkan negara Eropa lainnya).

“Sebab siapa pun boleh memeluk agama apapun tanpa ikut campur pemerintah. Dalam ranah politik, tantangan terbesar suara muslim di parlemen Jerman masih berputar dalam hal kesamaan paradigma dan kebulatan suara,” jelas Muti.  

Karena kondisi masyarakat muslim pada skala sosial masih terkotak-kotak dan tidak adanya wadah seperti MUI, maka sangatlah sulit untuk membuat keputusan yang dirasa cukup mewakili seluruh komunitas muslim di Jerman. Karena antara komunitas muslim satu dan lainnya memiliki paradigma yang berbeda. Ini menjadi momok sekaligus PR bersama bagi para pemeluk muslim di Jerman. 

Muti berpikir bahwa wadah pemersatu umat adalah hal yang penting untuk menyatukan suara. Fakta bahwa Indonesia memiliki MUI dirasa membawa keuntungan tersendiri dan seringnya dialog antaragama yang dilakukan harus padu tanpa merusak toleransi agama manapun. Sehingga, isu-isu SARA bisa disikapi dengan lebih bijak. Ini pula yang muti tekankan pada setiap mahasiswanya agar lebih berpikir kritis dan bijak dalam menyikapi masalah apapun. **
 

Berita Terkait