Bentuk Kelompok Pengawas, Denda di atas Rp10 Juta

Bentuk Kelompok Pengawas, Denda di atas Rp10 Juta

  Kamis, 21 July 2016 10:13
SETRUM IKAN: Pencari ikan dengan alat setrum ikan buatan sendiri. ISTIMEWA

Berita Terkait

 
Pemerintah melarang keras menangkap ikan dengan cara-cara yang dilarang (ilegal fising), seperti menuba dan menyetrum. Upaya pemerintah ini agar ekosistem tetap terpelihara. Masyarakat nelayan kecamatan Bunut Hilir ikut mendukung hal tersebut.

Mustaan, Kapuas Hulu

BAGAIMANA pun, menangkap ikan dengan cara-cara ilegal, selain merusak ekosistem, juga berbahaya bagi kesehatan terutama menggunakan tuba kimia.

Ketua Danau Sunjung Kecamatan Bunut Hilir Abang Marhaban menghimbau kepada masyarakat agar tidak menangkap ikan dengan cara yang bisa merusak ekosistem. Menurut dia cara itu berdampak buruk dalam masa waktu yang sangat panjang.

"Kami sangat khawatir kalau sudah musim kemarau seperti ini, biasanya ada oknum masyarakat memanfaatkan kondisi kemarau,” tuturnya Rabu (20/7).

Karena, kata Marhaban, menangkap ikan dengan cara menuba dan menyetrum mudah dan cepat mendapat ikan dalam jumlah yang banyak. Tapi pelaku tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan.

“Musim kemarau penggunaan tuba dan alat penyetrum sangat mudah mendapatkan ikan, sebab kondisi sungai dan danau menyempit, sehingga ikan dapat dengan mudah di dapatkan,” ungkap dia.

Marhaban menyebutkan, pelaku yang menangkap ikan dengan cara menuba dan menyetrum, selain dikenakan hukum negara (pidana) juga dikenakan sangksi adat.

Berupa sanksi adat kampung dengan denda diatas Rp 10 juta dan sanksi peraturan danau diatas Rp 10 juta. Untuk pengawasan agar tidak ada yang menuba dan menyetrum ikan telah dibentuk kelompok pengawas masyarakat (Pokmaswas).

“Pokmawas ini melibatkan ketua danau, pemuka adat, kepolisian dan tokoh masyarakat," terangnya.

Dikatakannya, untuk Pokwasmas ini setiap harinya bertugas melakukan patroli, agar tidak ada yang melakukan penangkapan ikan dengan cara yang terlarang.

Dia mengatakan, dampak dari racun tuba. Semua ikan, baik dari kecil sampai yang besar mati semua dan mencemari lingkungan sekitarnya itu.

Sehingga, kata dia lagi, ikan tidak mau bersarang ditempat itu lagi. Butuh waktu yang lama untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Marhaban menyebutkan, untuk tuba di dapat dari getah akar atau kulih kayu. Akar tuba biasanya sengaja ditanam oleh masyarakat, karena fungsinya dapat membunuh hama yang ada disawah seperti belalang, ulat dan berbagai jenis hama pada padi sawah.

Marhaban menjelaskan, uUntuk pengolahan racun tuba dengan cara mengambil akar, kemudian akar itu dipukul sampai mengeluarkan getah seperti air susu.

Air tuba itu diserbarkan di sungai atau danau. Tak berapa lama, ikan akan mabuk dan mati, sehingga mudah mengambil ikan.

“Semakin banyak tuba yang dituangkan dalam air, semakin cepat ikan mabuk dan mati bersamaan," terang dia.

Dikatakannya, biasanya para pelaku setelah memanen ikan hasil tangkapan dengan menggunakan tuba, kemudian menetralisir air tersebut dengan menaburkan garam. Tetapi kebanyakan dari pelaku biasanya meninggalkan tempatnya menuba tanpa menetralisir air dengan garam.

"Dua tahun lalu adasekitar 5 atau 6 orang warga Desa Kubu (Bunut) yang ditangkap karena menyetrum,” kenangnya.

Kemudian pada tahun 2014 sekitar 5 atau 6 orang warga Kecamatan Embaloh Hilir juga ditangkap. Untuk pelaku penyetrum ikan biasanya berkelompok, mereka dari berbagai tempat dan kemudian bergabung. Mereka biasanya berasal dari Putussibau, Embaloh, Empangau dan Teluk Aur.

“Hasil tangkapan mereka jual ke Putussibau, sebab di Putussibau harga ikan sangat mahal," paparnya. (*)

Berita Terkait