Bemby, Joy, dan Molly akhirnya Pulang ke Rumah

Bemby, Joy, dan Molly akhirnya Pulang ke Rumah

  Jumat, 20 April 2018 11:00
TERMENUNG: Molly, satu dari tiga individu orangutan yang akan dilepasliarkan ke habitatnya di Sub Daerah aliran Sungai (DAS) Mendalam, Taman Nasional Bentung Kerihun dan Danau Sentarum, Kapuas Hulu. AGUS PUJIANTO

Berita Terkait

Di Balik Kisah Pelepasliaran Tiga Orangutan di Kapuas Hulu

WILIAM Smith tampak begitu bergembira. Bukan karena dia baru mendapatkan rejeki nomplok. Melainkan karena ketiga ‘teman’ baiknya akan dikembalikan ke ‘rumah’ aslinya. Bemby, Joy dan Molly, tiga orangutan itu akan dilepasliarkan di rumah baru mereka. 

AGUS PUJIANTO, Sintang

Bagi Wiliam, pendiri Sintang Orangutan Center (SOC), orangutan sudah menjadi teman baiknya yang harus dilindungi dan dijaga kelangsungan hidupnya. “Mereka teman baik saya,” aku Wiliam, merujuk pada tiga individu orangutan yang akan dilepasliarkan ke habitatnya, Minggu lalu. 

Individu orangutan yang dimaksud William itu adalah Bemby, Joy dan Molly. Ketiganya dipastikan sudah siap untuk hidup di hutan setelah direhabilitasi di sekolah orangutan untuk pemulihan. Di ‘sekolah’, mereka diajarkan memanjat pohon, mengenali lawan dan kawan serta makanan. Sekolah ini penting bagi orangutan bernama latin Pongo Pygmeus ini. Agar, ketika mereka dileparliarkan, bisa bertahan hidup dan berkembangbiak. 

Baik Molly, Joy maupun Bembi, ketiganya merupakan individu orangutan yang dievakuasi dari seorang warga. Bembi, disita oleh Polhut pada tahun 13 Desember silam dari seorang warga yang memeliharanya. Orangutan itu tinggal di kandang kecil dan diberi makan susu dan kue. Saat ini, usianya sudah 7 tahun. Bembi kini sudah pulih. 

“Bembi dia teman saya yang paling pintar. Dia bisa mengikat tali dan sebagainya,” sebut Wiliam. 

Joy, nasibnya juga memprihatinkan. Sebelum dirawat di SOC, orangutan berusia 11 tahun ini tinggal di rumah warga. Hidup Joy terkukung dalam rumah dan dirantai tali di bagian pinggang di luar rumah. Saat akan dievakuasi pada 2 November 2013 silam, warga yang memeliharanya menolak dan sempat marah ketika Polhut hendak menyitanya. 

“Ketika tiba di pusat penyelamatan kami, Joy dalam kondisi fisik yang buruk. Dia makan apa yang dimakan manusia, seperti kue. Joe yang sangat menderita badannya kecil. Sekarang dia bisa makan anggrek, dia tahu bagaimana mengambil madu tanpa dididik,” kata Wiliam. 

Hidup Molly juga sama dengan kedua nasib Joy dan Bembi. Dari ketiganya, Molly yang paling kecil. Usianya baru lima tahun. Sebelum dirawat di SOC, Molly hidup bersama warga ditempatkan di kandang kecil dan kotor. Orangutan itu berupaya melepaskan diri dari warga yang memeliharanya dan bahkan sempat membuat resah warga. Setelah itu, warga memutuskan untuk menyerahkan Molly ke SOC Sintang pada 12 September 2015. Tiga tahun direhabilitasi, Molly dinyatakan siap untuk dilepasliarkan. 

“Molly yang sedikit harus belajar banyak dengan Joy dan Bembi. Mereka teman baik sekali. Molly pasti akan ikut belajar beradaptasi dengan habitatnya,” sebut Wiliam yang hafal betul dengan perilaku teman baiknya itu. 

Orangutan asli Kalimantan berdasarkan data UICN 2016 habitatnya semakin terancam. Saat ini, diperkirakan hanya terdapat 57.350 individu di kalimantan di habitat seluas 181.692 kilometer persegi yang meliputi Kalbar, Kalteng, Kaltim dan Serawak, Malaysia. 

“Di Kalbar sendiri, habitatnya diperkirakan terdapat 4.520 individu untuk subjenis Pongo Pygmaesus dan 15.810 untuk individu Pongo Pygmaesus wurmbii yang tersebar di dalam dan di luar kawasan konservasi,” kata Ketua SOC Sintang, Hasudungan Pakpahan. 

Status dua anak jenis Pongo Pygmaesus wurmbii dan Pongo Pygmaesus naik. Dari Endangered menjadi Critically Endangered(kritis). “Naiknya status ini disebabkan adanya kebakaran lahan serta perburuan,” sebut Pakpahan. 

Orangutan Kalimantan, kata Pakpahan, merupakan salah satu satwa perioritas yang sangat perlu mendapatkan perhatian. Sebab, keberadaanya sangat memperihatinkan. “Untuk Kalbar selama 10 tahun terakhir menunjukkan angka 145 orangutan yang diperdagangkan di sekitar Taman Nasional Gunung Palung yang dapat mengakibatkan orangutan tersebut tidak dapat dilepasliarkan ke alam bebas,” kata Pakpahan mengutip penelitian dari Freund, Rahman, Knott dalam laporan investigasinya bertajuk “First integrative trend analysis for a great ape species in Borneo” yang dipublikasikan dalam American Journal of Primatology.

Terancamnya habitat orangutan di Kalimantan membuat Wiliam khawatir. Ancaman kelangsungan hidup dan menyusutnya hutan menyebabkan konflik orangutan dengan masyarakat. “Kendala utama orangutan yaitu mereka kehilangan habitatnya. Mereka betul-betul sudah tertekan karena justru di pinggir sungai yang ada hutan dengan banyak buah, itu menjadi tempat hunian masyarakat. Jadi ada konflik langsung antara kebutuhan manusia dan orangutan,” ungkapnya. 

Wiliam memandang, pemerintah harus memikirkan wilayah konservasi lantaran areal hutan yang cocok untuk hidup orang utan sudah sangat berkurang. “Kondisinya sudah mulai kritis. Apalagi orang utan setiap 9 tahun hanya ada satu bayinya. Bisa dibayangkan kalau satu ibu hilang dengan anaknya, itu membutuhkan puluhan tahun mengembalikan populasi kembali pulih dari malapetaka itu. Untuk keselamatan orangutan harus ada areal yang seluas 30 ribu hektare, supaya populasi jangka panjang juga ada harapan hidup,” harapnya.

Setelah menjalani masa pemulihan dan pendidikan di sekolah orangutan, Joy, Bembi dan Molly dinyatakan sudah siap untuk kembali ke habitatnya. Meski akan dilepas ke hutan, ketiga individu orang utan itu tidak dilepas begitu saja. Wiliam dan masyarakat harus memastikan lagi jika teman baiknya itu bisa beradaptasi dengan alam liar. 

“Kami awasi selama enam bulan. Setiap hari. setelah mereka dilepas di hutan, kami memasang alat untuk memonitor mereka setiap hari. kami harus yakin mereka bisa makan dan tidak kesasar atau bahkan sakit. Masyarkat yang akan memantaunya yang kami beri lapangan kerja, supaya mereka juga belajar untuk lebih peduli dengan hutan dengan segala kekayaannya,” sebut Wiliam.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS), Arief Mahmud, mengatakan bahwa di Kalimantan Barat (Kalbar) merupakan kawasan hutan yang merupakan habitat asli orangutan. 

“Orangutan di Kalbar merupakan daerah kawasan habitat yang sangat komplit, Kalbar juga disebut heaven(surganya) orangutan,” kata Arief. 

Arief menilai, kejahatan terhadap satwa menjadi perhatian serius. Sehingga, pihaknya sangat mendukung upaya pelestarian orangutan tersebut. dikatakan pula, meski di seluruh pusat rehabilitasi orangutan telah dilepasliarkan ke alam, namun pada kenyataanya tidak semua individu tersebut dapat memenuhi syarat untuk kesiapan kembali menjalani kehidupan liar di habitatnya. 

Kenyataan ini kata dia menjadi pekerjaan rumah bagi gerakan penyelamatan orangutan, yaitu untuk menyediakan “rumah” yang layak bagi orangutan yang kuran beruntung tersebut. 

“Paling tidak 10 persen orangutan yang ada di sebagian pusat rehabilitas itu dapat dilepasliarkan, baik karena cacat, mungkin karena dipelihara terlalu lama. Kemudian karena tua, sakit, kelainan prilaku dan lian sebagainya. Sehingga ketika dilepaskan ke alamnya akan bisa mengganggu atau malah menimbulkan kematian. Saya berharap nantinya akan ada solusi terhadap satwa yang unreleaseable tersebut,” harapnya. (*)

Berita Terkait