Belum Ada Penjelasan Ilmiah Telur Bisa Berdiri

Belum Ada Penjelasan Ilmiah Telur Bisa Berdiri

  Jumat, 23 September 2016 09:30
KULMINASI: Suasana saat peristiwa kulminasi matahari di Tugu Khatulistiwa Pontianak, Kamis (22/9). HUMAS PEMKOT FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Wisata Edukasi Saat Kulminasi Matahari

Pemerintah Kota Pontianak fokus mengembangkan wisata edukasi saat peristiwa kulminasi matahari yang terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September di Tugu Khatulistiwa Pontianak.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

TERIKNYA sinar matahari seolah tak menghalangi para pelajar, mahasiswa, wistawan serta tamu undangan dari berbagai kalangan menghadiri peristiwa kulminasi matahari, Kamis (22/9). Kawasan Tugu Khatulistiwa Pontianak pun terlihat ramai dikunjungi sejak pukul 10.00.

Sambil menunggu kulminasi matahari yang jatuh tepat pukul 11.36, mereka yang hadir dihibur berbagai kesenian mulai musik dan tari tradisonal khas Kota Pontianak. Di sepanjang jalan menuju pusat acara yang terletak persisi di garis nol derajat lintang utara dan selatan itu juga, berdiri stan-stan dari komunitas pencinta satwa. 

Detik-detik terjadiya kluminasi matahari akhirnya tiba, ditandai dengan kehadiran robot kreasi mahasiswa Fakultas Teknik Untan yang diberi nama Kak Dare. Robot yang mengenakan kain corak insang ini yang memberikan tanda berupa suara alaram bahwa kluminasi matahari dimulai. Dalam kesempatan tersebut, komunitas Gasing Pelangi Nusantara ikut unjuk gigi, gasing kayu dibiarkan berputar tanpa ada bayangan di kiri dan kanannya. Ini terjadi sebab matahari tepat berada di atas objek.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak, Hilfira Hamid mengatakan, puncak acara kulminasi matahari sengaja banyak melibatkan pelajar dan mahasiswa. Alasannya dia berharap ke depan di Tugu Khatulistiwa menjadi ajang menggali ilmu yang berkaitan dengan fenomena kulminasi. “Para pelajara dan peneliti dari kampus bisa belajar banyak tentang fenomena ini,” katanya.  

Bertajuk Menatap Matahari Mendapat Kulminasi di Kota Smart City, agenda tahunan ini dikatakan menjadi salah satu agenda andalan Kota Pontianak. Sampai akhirnya baru-baru ini, Pontianak masuk dalam 20 kota Wonderful Indonesia, bidang sustainable development. 

“Pelajar dari MAN 1 Kota Pontianak juga ada yang membuat alat untuk mendeteksi matahari secara manual, lalu ada dari BMKG dan Lapan juga melakukan pengamatan,” terangnya.

Selain itu acara juga dimeriahkan dengan lomba pelajar anak-anak dan kontes komunitas hewan. “Ada juga  komunitas gasing, dimana gasing bergerak tanpa ada bayangan, selain itu yang unik, telur selalu bisa didirikan di wilayah Tugu Khatulistiwa ini, bukan hanya saat kluminasi matahari tapi tiap saat,” jelasnya. 

Pastinya lanjut dia, even ini sedikit banyak mampu mengundang wisatawan dari luar untuk hadir ke ibu kota Provinsi Kalbar ini. “Dari kemarin banyak wisatawan berdatangan, hanya kami belum tahu persis angkanya,” pungkas Hilfira.

Sementara itu, terkait fenomena kulminasi matahari, Staf Fungsional BPAA-LAPAN Pontianak Nata Miharja menjelaskan, Kota Pontianak sangat unik dengan keberadaanya di garis khatulistiwa. “Sehingga bisa bersama-sama menyaksikan puncak kulminasi pada hari ini, dimana matahari tepat berada di garis khatulistiwa,” ucapnya. 

Secara ilmiah, sebeanarnya peristiwa kulminasi adalah bagian dari gerak semua tahunan matahari. Artinya seolah-olah matahari beredar atau menempatkan dirinya di bumi pada garis nol derajat lintang utara dan lintang selatan. “Untuk khusus Kota Pontianak berada di bujur 109 derajat 19 menit dan 18 detik,” tambahnya.  

Menurutnya di sana perlu dibangun satu fasilitas pengamatan sains antariksa untuk mengamati matahari. “Karena mengapa beda dengan negera lain akan sangat susah sekali mencari titik pengamatan yang benar-benar ideal. Jika di Pontianak sudah benar-benar tersedia, ada di Tugu Khatulistiwa ini,” jelasnya.

Menurutnya, banyak manfaat dari keberadaan garis khatulistiwa. Pertama untuk pengembangan solar cell. Energi matahari bisa diambil dan dijadikan pembangkit listrik dan sebagainya. Kemudian bisa dikembangkan jenis-jenis tanaman tertentu yang bisa hidup dan tumbuh dengan kondisi cuaca seperti ini. 

Untuk dampaknya, kata dia, jika masuk wilayah khatulistiwa jelas iklimnya tropis. Suhu bisa mencapai maksimal di atas 30 derajat celcius. Kedua curah hujan bisa menjadi sangat tinggi. “Nanti bisa dirasakan curah hujan tinggi, karena September sampai April itu memasuki musim penghujan,” paparnya.

Mengenai fenomena telur yang bisa berdiri ketika diletakkan di garis khatulsitiwa, dari Lapan sendiri belum ada kajian ilmiah tentang hal tersebut. Belum ada yang memberikan pembenaran bahwa ada efek daya tarik bumi terhadap material yang ada di garis khatulistiwa tersebut. 

“Bisa jadi itu faktor lain, bukan dari daya tariknya, sebab belum ada penelitian ke sana. Lapan tidak bisa memberikan penjelasan atau kepastian ada pengaruh daya tarik dari material non logam. Mungkin itu bukan ilmiah, tinggal bagaimana penilaian dan kepercayaan orang saja,” pungkasnya.(*)

Berita Terkait