Beli Baju Shio, Makan Kue Merah, atau Menonton Wayang Potehi

Beli Baju Shio, Makan Kue Merah, atau Menonton Wayang Potehi

  Senin, 4 February 2019 08:55
KOMPAK SERAGAM: Toddler KB-TK Sinar Matahari saat berada di Pasar Imlek Semawis, Semarang, kemarin. NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

Berita Terkait

Menikmati Kemeriahan Pasar Imlek Semawis di Semarang 

Baju bergambar babi emas termasuk yang paling diincar pengunjung Pasar Imlek Semawis. Cerminan keberagaman dan kerukunan warga Semarang.  

EKO WAHYU BUDIYANTO, Semarang 

SEJAK sebelum magrib, Valentina sudah datang. Bersama anak semata wayang dan kelompok PKK di tempat tinggalnya di Kelurahan Plombokan, Kota Semarang, Jawa Tengah. 

Padahal, Pasar Imlek Semawis sebenarnya baru resmi dibuka sekitar pukul 19.00. ”Tak apa. Daripada datang malam, nanti sudah ramai,” kata Valentina. Dia bersama anak dan rekan-rekan PKK-nya kompak mengenakan pakaian khas Tionghoa, cheongsam. 

Benar saja, kian beranjak malam, kondisi Jalan Wotgandul Timur, kawasan Pecinan Semarang, semakin ramai. Meski gerimis mengguyur, kerumunan pengunjung dari dalam dan luar Semarang bukan buyar, tapi malah bertambah. 

Pasar Imlek Semawis 2570 (sesuai dengan kalender Tionghoa) dihelat mulai kemarin sampai Minggu (3/2). Tahun ini merupakan edisi ke-16 penyelenggaraan yang digagas Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata).

Ada ratusan stan di lokasi Pasar Imlek Semawis. Produk yang dijual sangat beragam. Antara lain, pakaian, cenderamata, dan makanan. 

”Berburunya pakaian karena bisa dipakai meski sudah tidak Imlek. Berbeda dengan makanan,” kata Andriyanti, perempuan 33 tahun yang datang bersama suami dan anaknya, saat dijumpai di stan Arlina Fashion. 

Sejak lepas tengah hari, kondisi Jalan Wotgandul Timur mulai ramai dengan aktivitas pedagang. Semua kendaraan dilarang masuk ke jalan tersebut. Baik roda dua maupun roda empat. 

Begitu memasuki kawasan tersebut, semua pengunjung disambut dengan gapura yang berwarna merah muda. Juga, lampion yang menghiasi langit-langit gapura.

Mengutip seputarsemarang.com, Pasar Imlek Semawis terkait erat dengan Pasar Semawis yang berjalan sejak 2005. Pasar itu buka tiap Jumat, Sabtu, dan Minggu. Nah, saat perayaan Imlek, pasar tersebut berubah menjadi Pasar Imlek Semawis. 

Memasuki kawasan stan tadi malam, yang pertama menyapa hidung adalah kopi. Yang dijual di salah satu stan. Kemudian, aroma beragam makanan menyerbu saat melintasi beragam stan kuliner. 

Sejumlah makanan yang sehari-hari sulit dijumpai, termasuk di Pasar Semawis reguler, muncul saat Pasar Imlek Semawis. Salah satunya adalah kue merah. 

Namun, stan yang paling disesaki pengunjung justru yang menjual pakaian-pakaian khas Imlek. Misalnya, kaus bersablon gambar babi emas, nama tahun ini sesuai dengan kalender Tionghoa.

Arlina, pemilik Arlina Fashion, mengaku sudah 10 tahun selalu membuka stan di Pasar Imlek Semawis. ”Biasanya, yang selalu dicari memang baju bergambar shio,” kata perempuan 40 tahun yang menjual produknya dengan kisaran harga Rp 20 ribu sampai Rp 300 ribu itu. 

Keramaian serupa terlihat di stan Fuvan Fashion. Stan milik Ririn, 35, tersebut mulai buka pukul 11.00 WIB. ”Banyak yang cari baju Imlek untuk anak-anak. Karena banyak yang mau dipakai untuk karnaval di sekolah,” ujar Ririn. Hampir 80 persen pakaian yang dia jual berwarna merah. Itu menyesuaikan dengan hari Imlek yang memang identik dengan warna tersebut. ”Dress warna merah memang paling dicari,” tutur Ririn yang sudah tujuh tahun berjualan di Pasar Imlek Semawis.

Namun, jangan lantas membayangkan bahwa yang datang ke Pasar Imlek Semawis hanya kalangan Tionghoa. Seperti Pasar Semawis reguler, Pasar Imlek Semawis tak ubahnya melting pot yang sekaligus mencerminkan keberagaman dan kerukunan warga di Semarang. Sejalan dengan tema tahun ini, Waras alias Warga Rukun Agawe Sentosa.

Di arena Pasar Imlek Semawis, warga lintas etnis, lintas agama, berkumpul. Berbelanja pakaian, mencicipi makanan, ngopi, atau sekadar cuci mata. 

Begitu pula di Pasar Semawis reguler. Soal kuliner, misalnya, makanan untuk warga muslim tetap bisa ditemui.   

Seiring malam yang kian jatuh, para pengunjung tadi malam juga dihibur pertunjukan wayang potehi. Gerimis yang terus mengguyur pun tak membuat mereka bubar dari depan panggung. (*)

Berita Terkait