Belasan Kecamatan Rawan Banjir

Belasan Kecamatan Rawan Banjir

  Kamis, 6 December 2018 14:06
BANJIR: Kondisi banjir yang terjadi di Teluk Barak, Kelurahan Kedamin Hilir, Kecamatan Putussibau Selatan, belum lama ini. ISTIMEWA

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Tingginya intensitas hujan di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu dan sekitarnya, menyebabkan genangan di beberapa wilayah. Salah satunya terjadi di wilayah Teluk Barak, Kelurahan Kedamin Hilir, Kecamatan Putussibau Selatan.

Menurut salah satu warga setempat, Muhammad Fikri, banjir yang terjadi di wilayah Teluk Barak tersebut disebabkan curah hujan yang tinggi. Akibatnya, dia menambahkan, Sungai Kapuas mengakibatkan volume air Sungai Kapuas Meluap. “Di sini memang sudah langganan. Setiap kali hujan, pasti banjir,” kata Fikri ditemui Pontianak Post, kemarin.

Menurut Fikri, dulunya daerah Teluk Barak merupakan bagian dari Sungai Kapuas. Namun, dia menambahkan, karena terjadinya perubahan alam, maka menjadi daratan. “Daerah ini merupakan dataran rendah, karena memang bagian dari Sungai Kapuas,” terangnya.

Banjir yang terjadi di daerah itu, digambarkan dia, mencapai lutut orang dewasa. Tidak sedikit dari warga di sana yang menurut dia harus mengungsikan kendaraan bermotornya, agar tidak terkena dampak banjir.

Sementara itu, Ketua Tagana Kapuas Hulu Kalimantan Barat Hatta mengatakan ada 12 kecamatan tersebar di wilayah Kapuas Hulu yang rawan terjadi bencana banjir. Belasan kecamatan itu, sebut dia, terdapat di pesisir Sungai Kapuas dan di sejumlah kecamatan daerah perbatasan Indonesia – Malaysia wilayah Kapuas Hulu. “Banjir biasanya terjadi apabila curah hujan tinggi dan sungai Kapuas meluap sehingga merendam 12 kecamatan di Kapuas Hulu,” kata Hatta. 

Menurut Hatta, 12 kecamatan rawan banjir yaitu Kecamatan Putussibau Selatan, Embaloh Hilir, Bunut Hilir, Jongkong, Bika, Selimbau, Suhaid, Semitau, Silat Hilir, dan Kalis. Kemudian untuk daerah perbatasan, sebut dia, ada beberapa kecamatan di antaranya Kecamatan Batang Lupar dan Kecamatan Badau. “Berdasarkan data Tagana Provinsi (Kalbar) ada 196 desa di Kalbar rawan banyak banjir termasuklah wilayah Kapuas Hulu, karena banyak dataran rendah,” jelas Hatta.

Disampaikan Hatta, yang memprihatinkan mereka apabila terjadi banjir yaitu daerah pesisir Kapuas. Menurut dia, di kawasan tersebut genangan banjir cukup lama dan bisa berlangsung dua minggu hingga satu bulan. Apalagi jika sejumlah danau dan anak-anak sungai juga meluap, tak dipungkiri dia aktivitas masyarakat akan lumpuh. “Sebab masyarakat pesisir Sungai Kapuas mengantung hidup dengan mencari ikan di Sungai Kapuas dan danau,” timpal dia.

Dikatakan Hatta, pada 2010  pernah sekali banjir besar, kemudian disusul pada 2011 yang terjadi pada November. Dia menuturkan, banjir bandang juga pernah terjadi di perhuluan sungai Kapuas pada 21 Juli 2016, yang mengakibatkan puluhan rumah warga hancur diterjang air, bahkan seorang bayi berusia 8 bulan tewas. “Tahun 2017 sempat juga banjir cukup besar, namun tidak begitu lama dan pada tahun 2018 ini sudah beberapa kali banjir namun tidak besar,” ucap Hatta.

Hatta mengatakan, dalam upaya penanggulangan dan antisipasi banjir di Kapuas Hulu, mereka selalu berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait, terutama yang berkaitan dengan bantuan untuk bencana seperti beras. Selain itu, mereka juga sering melakukan imbauan kepada masyarakat untuk tetap waspada banjir. (arf)

Berita Terkait