Belajar Tertib Lalu Lintas dari Singapura , Dapatkan SIM Paling Cepat Setahun, Ongkosnya Selangit

Belajar Tertib Lalu Lintas dari Singapura , Dapatkan SIM Paling Cepat Setahun, Ongkosnya Selangit

  Kamis, 3 December 2015 10:15
RUMIT: Manager Training Singapore Safety Driving Centre, Gerrad Brian Pereira menjelaskan proses praktik pembuatan SIM sepeda motor.ARISTONO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Singapura salah satu negara dengan tingkat kecelakaan lalu lintas terendah di dunia. Berbagai macam aturan dibuat di negeri pulau dengan luas kira-kira 700 kilometer persegi ini. Bahkan untuk mendapatkan surat izin mengemudi pun, seseorang wajib pelajaran dan tes paling cepat setahun. Biayanya pun selangit. Aristono, Singapura

Langit cerah dan udara segar menyambut Pontianak Post saat tiba di Bandar Udara Changi, ujung timur Singapura. Bandara yang baru-baru ini dinobatkan sebagai terbaik dunia ini sangat modern dan memanjakan para penumpang. Gedung dan landasan pacunya yang megah, berpadu kontras dengan hijau hutan kota di sekelilingnya. Arealnya sangat luas, untuk berpindah terminal, penumpang bisa menggunakan sky train yang tak henti-hentinya datang dan pergi di stasiun tunggu.

Bersama belasan wartawan se-Indonesia, penulis merupakan salah satu pemenang Astra Motor Journalist Competition 2015. Hadiahnya berwisata ke Singapura, sembari belajar tentang keselamatan berlalu lintas di negeri Merlion ini.

Astra Motor memang tengah gencar-gencarnya mengkampanyekan keselamatan berkendara (safety driving). Singapura dipilih lantaran tingkat ketertibannya yang tinggi. Betapa tidak, jumlah korban laka lantas yang tewas gara-gara menerobos lampu merah turun dari 12 jiwa di 2011 menjadi delapan pada 2013, dan empat jiwa pada tahun lalu..

Salah satu tujuan trip ini adalah Singapore Safety Driving Centre (SSDC). Sekolah mengemudi di kawasan industri Woodlands, yang berseberangan dengan Johor Bahru, Malaysia ini adalah satu dari tiga sekolah mengemudi di Singapura. Namun SSDC merupakan yang terbesar.

Dengan total luas lahan 25.000 meter persegi, perusahaan swasta ini punya sirkuit untuk roda empat lantai dasar dan sirukit roda dua di lantai empat. Gedung megah ini juga dilengkapi berbagai fasilitas modern seperti ruang teori, ruang seminar, tempat tes, bengkel hingga pompa bensin. Ribuan kendaraan untuk praktik ada di sini.

Untuk mendapatkan SIM dari pemerintah, masyarakat bisa mendapat lisensi dengan ikut pelatihan teori dan praktik di sekolah mengemudi. Setelah itu akan diadakan tes tertulis dan lapangan. SSDC sendiri membagi kelasnya berdasarkan klasifikasi SIM yang dikeluarkan pemerintah. Singapura mengeluarkan SIM berdasarkan jenis kendaraan yang ingin dikemudikan, termasuk di dalamnya SIM Class 3 untuk mobil tidak lebih dari 7-penumpang dan berbobot lebih dari 3 ton, serta Class 3A khusus buat mobil tanpa pedal kopling (matic).

Sedangkan pembagian SIM sepeda motor terbagi atas unit berkapasitas tidak lebih dari 200 cc, 201 – 400 cc, dan 400 cc ke atas. Usia minimal untuk mendapatkan SIM adalah 18 tahun.

Manager Training SSDC, Gerrad Brian Pereira mengatakan urutan mendapatkan SIM Singapura Class 3 atau 3A dimulai dari ujian teori basik lalu mendapatkan SIM sementara. Setelah itu peserta uji wajib mendaftar di sekolah resmi mengemudi untuk belajar privat bersama instruktur. Kelas kursus mengemudi 3 / 3A berlaku selama 1 tahun sejak tanggal pendaftaran. Kemudian peserta mendapatkan pelajaran mengemudi untuk tes praktik.

Total ada 8 tahapan teori dan praktik untuk sampai ke tingkat akhir.  Setelah itu SIM bisa didapatkan bila lulus tes mengemudi dari kepolisian lalu lintas. “Itu pun jika lulus. Kalau tidak lulus, dia bisa mengulang lagi dari awal,” jelas dia.

Gerrad menyebut, jika diestimasi, maka untuk ikut pendidikan ini satu orang dibebani sekitar 800 dolar singapura atau sekitar Rp8 juta, dengan kurs saat ini.

Angka tersebut bisa bertambah lagi, apabila ada tes yang tidak lulus, sehingga peserta harus membayar ulang untuk ikut pendidikan dari awal. “Ada yang sampai habis dua ribuan dolar (Rp20 juta) untuk satu tingkat,” sebutnya.

Jangan harap bisa kongkalikong dengan para instruktur dan manajemen di sini. Gerrad menyebut, SSDC akan mendapat sanksi mahaberat apabila para alumninya banyak yang menjadi pelaku ketidaktertiban lalu lintas. Hukuman keras juga akan diberikan kepada mereka yang terbukti terlibat suap-menyuap.

Sekolah mengemudi bertahun-tahun tak lantas membuat para peserta lulus dengan mudah. Tahun ini saja, di SSDC, dari sekitar 3000an peserta, hanya 57 persen orang yang tuntas. Tidak sedikit orang yang trauma untuk ikut sekolah mengemudi lagi.

Harbans Kaur (55) misalnya. Perempuan kelahiran India ini sudah kapok ikut pelatihan mengemudi mobil.

“Sudah beberapa kali tes, tetapi tidak lulus. Akhirnya saja tidak mau ikut lagi. Biar saja suami dan anak saya yang menyetir,” kata orang yang menjadi pemandu wisata rombongan Astra Motor ini.

Anaknya yang pertama tiga kali ikut tes baru lulus. Putranya yang bungsu jauh lebih beruntung. Sekali ikut, langsung tembus.Harbans percaya, sistem pengujian sengaja dipersulit untuk membatasi jumlah kendaraan bermotor di negara sangat padat penduduknya ini. Apapun itu, toh dia bersyukur dengan aturan tersebut.“Singapura ini sangat kecil luasnya. Kalau saja semua orang bisa punya SIM, maka akan sekali kendaraan bermotor berseliweran di jalan. Orang akan ugal-ugalan karena tidak mendapat pendidikan safety riding. Tentu lalu lintas akan kacau, banyak kecelakaan dan ramai orang meninggal di jalan,” ucapnya. (bersambung)

 

 

 

Berita Terkait