Bekas Gempa dan Tambang, hingga Rafting yang Tenang

Bekas Gempa dan Tambang, hingga Rafting yang Tenang

  Selasa, 24 July 2018 10:00
RAFTING: Peserta Djarum Culvis 2918 saat berwisata arung jeram di Sungai Elo, Kabupaten Magelang. Wisata ini cocok untuk semua umur. Aliran airnya tidak terlalu deras, tapi cukup menegangkan. ISTIMEWA

Berita Terkait

Catatan Djarum Culvis 2018 (2)

SELEPAS menyaksikan Indonesia Open, esok harinya, para peserta diterbangkan menuju Jogjakarta. Kali ini Djarum Cultural Visit akan mengeksplor kota budaya tersebut. Destinasi pertama adalah Candi Prambanan. Walaupun banyak peserta yang sudah pernah berkunjung ke sini, namun bangunan bersejarah dari zaman Mataram Hindu ini masih tetap menarik.

Penulis sendiri sampai sudah lupa, sudah berapa kali ke sini. Dulu sebagai mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, antara tahun 2005-2010, candi-candi di Jogja dan Jawa Tengah rutin penulis kunjungi. Entah hanya untuk berekreasi, atau memang dalam rangka penelitian. Atau tugas kampus.

Candi Prambanan sempat rusak parah setelah dilanda gempa bumi dahsyat tahun 2006. CHampir semua candi utama retak dimana-mana. Kawasan ini ditutup berbulan-bulan lamanya. Bahkan bangunan candi ditutup terpal raksasa. Setelah itu wisata Candi Prambanan kembali dibuka. Namun renovasinya butuh waktu hampir sepuluh tahun. Sampai-sampai  UNESCO dan para ahli purbakala seluruh dunia turun tangan.

Objek wisata selanjutnya adalah Tebing Breksi, masih di Kecamatan Prambanan. Ini adalah objek wisata baru. Sesuai dengan namanya, tempat wisata ini merupakan perbukitan batuan breksit. Tebing batuan breksi yang memiliki corak yang indah menjadi daya tarik tersendiri dari tempat wisata ini.

Sebelum menjadi tempat wisata, lokasi Taman Tebing Breksi sebelumnya adalah tempat penambangan batuan alam. Kegiatan penambangan ini dilakukan oleh masyarakat sekitar. Di sekitar lokasi penambangan terdapat tempat-tempat pemotongan batuan hasil penambangan untuk dijadikan bahan dekorasi bangunan.

Sejak tahun 2014, kegiatan penambangan di tempat ini ditutup oleh pemerintah. Penutupan ini berdasarkan hasil kajian yang menyatakan bahwa batuan yang ada di lokasi penambangan ini merupakan batuan yang berasal dari aktivitas vulkanis gunung api.

Malam harinya, para peserta Culvis diajak berkeliling Malioboro. Naik andong. Kereta kuda dengan empat roda. Total ada 35 andong yang disewa panitia. Iring-iringan rombongan kami membentuk barisan lurus. Sempat kami memacetkan Jalan Malioboro dan sekitarnya, yang memang setiap hari padat kendaraan.

Selepas itu, peserta mendapat kegiatan bebas. Sebagian besar  menghabiskan waktu berbelanja. Banyak juga yang berkuliner ria. Penulis sendiri memilih ke Alun-alun Selatan atau Alkid. Jalanan Alkid, termasuk lapangannya kini jauh lebih ramai. Banyak permaina baru di sini. Misalnya odong-odong berhiaskan lampu warna-warni yang membuat semarak. Sementara penjaja makanan dan minuman tradisional berjaja di pinggir jalan.

Kami menginap semalam di sebuah hotel bintang tiga di pinggir Jalan Maliboro. Esoknya perjalanan kami berlanjut ke Candi Borobudur, Magelang. Candi terbesar di dunia, yang masuk tujuh keajaiban dunia ini juga dulu sering penulis sambangi. Namun kini penataannya lebih rapi dan indah.

Untuk memenuhi hasrat pecinta foto Instagram, pengelola memasang berbagai dekorasi latar. Misalnya hiasan ribuan topeng dan caping warna-warni sepanjang jalan masuk menuju candi. Beberapa titik juga dipasangi hiasan yang instagramable. 

Sekira dua jam di candi ini, rombongan bergeser ke kawasan wisata arung jeram Sungai Elo. Kali Elo letaknya yang berada di tengah hutan dan pedesaan menjadikan tempat ini masih sangat alami dan terjaga kondisinya. Kawasan ini merupakan tempat yang sangat tepat didatangi. Bila ingin mencari tempat yang hijau dan tenang untuk melepas kejenuhan sejenak . Mengasingkan diri dari hingar bingar rutinitas kerja atau sekadar memanjakan mata menikmati keindahan bentangan alam.

Rafting di sini tidak menyeramkan. Kategorinya untuk semua kalangan. Selama satu jam kami terombang-ambing di atas perah karet, mengikuti aliran sungai. Beberapa kali kami terhempat di curamnya riam. Selain menawarkan landscape alam yang menakjubkan, gemericik air membuat siapapun ingin memanjakan diri dengan bermain air di lokasi ini. 

Perjalanan dilanjutkan ke utara, ibukota provinsi Jateng. Di Semarang kami akan menginap semalam sebelum menuju Kota Kudus. Ibukotanya Djarum. Hotel kami di Semarang berada di kawasan Simpang Lima. Landmark-nya Kota Semarang. Walau tiba agak makam, masih banyak waktu buat para peserta untuk menjelajahi gemerlap Semarang. (Aristono)

Berita Terkait