Bekal Multikultur Anti Luntur

Bekal Multikultur Anti Luntur

  Jumat, 27 July 2018 10:00

Berita Terkait

PARIS - Mesut Oezil mungkin iri dengan apa yang terjadi di timnas Prancis. Bagaimana tidak. Di saat dia memutuskan pensiun dari Die Mannschaft lantaran perilaku diskriminasi dan rasial yang diterimanya, Les Bleus malah berjaya dengan paduan sempurna "budaya" multikultur mereka.

Bagaimana tidak. Dari 23 penggawa Prancis, hanya Florian Thauvin, Raphael Varane, dan Benjamin Pavard yang merupakan darah asli Prancis. Artinya, ada 20 pemain lainnya yang memiliki keturunan campuran.

Tetapi, apa yang ditunjukkan Prancis di Rusia hanyalah lanjutan. Sebab, mereka sudah melakukannya terlebih dahulu di Piala Dunia 1998 saat menjadi tuan rumah. Kala itu, bisa dibilang Prancis bergantung kepada pemain blasteran mereka di sosok Zinedine Zidane, Marcel Desailly, Lilian Thuram, dan Youri Djorkaeff.

''Prancis telah lama menjadi kelompok dengan personel yang sangat beragam. Mereka seperti tim global, semacam republik transkultural,'' ucap Laurent Dubois, seorang profesor sejarah Prancis di Duke University, yang menulis Soccer Empire: The World Cup dan Future of France seperti dilansir Los Angeles Times.

Namun, ada beberapa suara sumbang yang mengatakan bahwa multikultural yang ada di Prancis membunuh karakter dan ciri pemain asli. Trevor Noah, pembawa acara Daily Show, mengatakan bahwa kemenangan Prancis di Rusia terasa seperti tim Afrika. 

Itu merujuk kepada hanya ada 8 pemain Prancis yang berkulit putih. Sedangkan 15 sisanya berkulit hitam dan cokelat. Meski begitu, jangan tanyakan nasionalisme mereka. Sebab, 21 dari 23 pemain semuanya lahir di Prancis. Artinya, mereka hanya memiliki darah keturunan dari leluhur yang menjadi imigran sedangkan hati tetap Les Bleus.

Nah, leluhur mereka yang hidup dan menetap di Prancis lantas membesarkan keluarga dan membangun karier sebagai warga Prancis. Beberapa dekade kemudian, anak-anak dari para imigran ini telah memenangkan Piala Dunia untuk Prancis.

"Sepak bola memungkinkan kita menempatkan imigrasi memegang peran penting dan itu jadi pertanyaan yang mengguncang negara-negara Eropa sekarang,'' tutur Yvan Gastaut, seorang sejarawan University of Nice, kepada AP. “Bagi orang-orang yang melihat imigrasi sebagai hal berbahaya, kisah Piala Dunia ini tidak akan menyelesaikannya. Namun, memungkinkan kita untuk melihat realitas dunia,'' lanjutnya.

Nah, terlepas dari semuanya, sosok krusial untuk menentukan komposisi pemain yang disertakan ke Rusia tetaplah Didier Deschamps. Dan, Didi juga sudah merasakan prosesnya dengan tim multikultur pada edisi 1998. Pelatih 49 tahun tersebut lantas menduplikasinya dengan sempurna di Prancis tahun ini.

Eks pelatih Juventus itu juga menetapkan standar bahwa pemain yang masuk timnas harus ada berbincang empat mata dengan Didi. Itu dilakukan Didi untuk menjelaskan pola pemikirannya dan apa yang diinginkannya dari sang pemain untuk kemajuan tim di masa depan. Sistem ini ditirunya dari pelatih Prancis di Piala Dunia 1998 Aime Jacquet.

''Menjadi seorang pelatih adalah tentang mengenali bakat dan mengetahui bagaimana menggunakannya dalam konteks yang benar. Anda harus meluangkan waktu untuk mengenal mereka (para pemian, Red) lebih baik,'' kata Didi. ''Mereka memiliki kehidupan, kepribadian, budaya, latar belakang, dan bahkan pandangan hidup yang berbeda. Jadi Anda harus dapat mendengarkan mereka,'' pungkasnya. (io)
 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait