Beckham dan Pesan Anti Perundungan

Beckham dan Pesan Anti Perundungan

  Senin, 9 April 2018 11:47   718

Adityo Darmawan Sudagung

Indonesia kedatangan seorang tamu spesial beberapa hari lalu. David Beckham, pesepakbola internasional terkenal asal Inggris sekaligus selebiriti kelas dunia. Selain karena tenar di bidang sepakbola dan dunia selebriti, Beckham juga datang sebagai Goodwill Ambassador UNICEF. Hal yang menarik dari kunjungan Beckham adalah unggahan foto-fotonya bersama Sripun dan kawan-kawan di akun instagram. Bukan saja hanya itu, Beckham mengizinkan Sripun, siswa SMP di Semarang yang menjadi ikon anti perundungan, mengambil alih instastory-nya dalam sehari. Berita ini menjadi sorotan di beberapa media internasional. Pontianak Post juga mengangkat kisah ini sebagai tajuk utama pada terbitan tanggal 29 Maret 2018.

Pesan yang dibawa Beckham sebagai UNICEF Goodwill Ambassador adalah penyelamatan anak-anak di dunia dari perundungan. Kampanye anti perundungan juga dilakukan oleh UNICEF di berbagai belahan dunia lain. Penelusuran penulis, kampanye anti perundungan UNICEF juga dilakukan di Kanada, Malaysia, Ukraina, dan Afrika Selatan. Kegiatan Beckham di Indonesia, Nepal, Uganda, dan El Savador merupakan bagian dari kerjasama dengan UNICEF melalui program the 7 Fund (UNICEF, 2018). Tujuan utama kegiatan ini adalah mengatasi perundungan, kekerasan, pernikahan pada anak-anak, dan memastikan kesempatan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan. Fokus utama di Indonesia adalah memberdayakan anak lak-laki dan perempuan untuk mau angkat bicara jika mereka melihat atau mengalami tindak kekerasan. Menurut data UNICEF, satu dari lima anak Indonesia berusia 13-15 tahun mengalami perundungan dan satu dari tiga anak mengalami kekerasan fisik (dikutip dari http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43565635). 

Kejadian tersebut hanya merupakan satu dari sekian banyak contoh keterlibatan individu dan aktor non-negara lain, seperti organisasi internasional, perusahaan multinasional, dan LSM internasional, memberikan kontribusi dalam upaya pembangunan dunia. Kajian mengenai ini mulai muncul dalam studi Hubungan Internasional menjelang berakhir Perang Dingin, yang juga menandai berakhirnya era dua kutub dalam sistem internasional. Begitu pun perkembangan teori dalam Hubungan Internasional yang memunculkan teori-teori baru mengikuti perluasan aktor hubungan internasional. Negara tidak lagi satu-satunya aktor yang mempengaruhi perkembangan dunia. Untuk itu, tulisan ini mencoba menjelaskan upaya Beckham sebagai aktor non-negara dalam kampanye anti perundungan melalui kerangka pikir kosmopolitanisme dalam studi Hubungan Internasional. 

Kosmopolitanisme, Beckham,  dan Pesan Anti Perundungan

Menurut Smith dan Owens (2005: 279), kosmopolitanisme sendiri menjelaskan cara pandang yang memfokuskan teori normatif politik dunia harus berkonsentrasi pada kemanusiaan secara keseluruhan atau individu. Teori ini dijelaskan juga oleh Stan Van Hooft dan Wim Vandekerckhove dalam “Questioning Cosmopolitanism” (2010: 13) sebagai suatu upaya mengakomodir program bantuan yang lebih baik dan luas, lebih terbuka, peduli terhadap pelanggaran hak asasi manusia di mana saja dan memberikan respon terhadap isu tersebut. Setidaknya terdapat beberapa ciri khas dari teori tersebut, antara lain fokus pada agenda kemanusiaan, khususnya pelanggaran hak asasi manusia secara keseluruhan atau individu, dan respon terhadap isu melalui proses akomodasi program bantuan yang lebih baik dan luas. 

Keterlibatan Beckham sebagai duta UNICEF yang dimulai sejak 2005 merupakan wujud dari aplikasi teori kosmopolitanisme dalam studi Hubungan Internasional. Program 7 Fund didirikannya sejak 2015 untuk menandai sepuluh tahun keikutsertaannya dalam gerakan membantu anak-anak di dunia melalui UNICEF. Salah satu isu global yang ingin dicapai melalui program tersebut adalah isu perundungan terhadap anak-anak. Isu perundungan tidak hanya milik orang Indonesia saja atau bahkan Semarang (domisili Sripun), tapi telah menjadi isu kemanusiaan global. Hal ini juga didukung fakta bahwa telah terdapat pertemuan global pada Mei 2016 yang dihadiri oleh peneliti, pembuat kebijakan, dan pakar pendidikan dari 19 negara yang mendiskusikan dampak perundungan pada anak sebagai dasar bagi pembahasan di Sidang Umum PBB (dikutip dari UNICEF, https://www.unicef-irc.org/article/1350-world-experts-make-recommendatio...). 

Aksi Beckham untuk pembangunan dunia sebenarnya tidak hanya berfokus pada Indonesia, Nepal, Uganda, dan El Savador saja. Penelusuran penulis menunjukkan bahwa sejak 2005 Beckham dan UNICEF telah membantu 22.000 anak Honduras dan 14.500 anak Kamboja dari kekerasan di sekolah, 300.000 anak Bangladesh mengenyam pendidikan pra-sekolah, 400.000 anak Djibouti mendapatkan vaksin polio, 15.000 anak Burkina Faso mendapatkan akses air minum bersih, dan 20.000 anak di Papua Nugini mendapat makanan untuk mengatasi gizi buruk (dikutip dari 7 Fund, https://7.org/david-beckham-7-fund-in-action/). Ia bergerak diawali dengan tujuan baik, yaitu ingin menciptakan dunia di mana anak-anak dapat tumbuh dengan aman: aman dari kekerasan, peperangan, kemiskinan, kelaparan, dan penyakit yang dapat dicegah (dikutip dari 7 Fund, https://7.org/david-beckham-and-unicef/). 

Data ini menunjukkan kepada kita bahwa seorang individu dapat memainkan peranan yang sangat besar dalam merespon isu-isu kemanusiaan global. Sejalan dengan pendekatan kosmopolitanisme yang telah dijelaskan bahwa gerakan kemanusiaan tersebut mampu juga mengakomodir bantuan yang lebih baik dan skala yang lebih luas. Jangkauan gerakan individu dalam isu kemanusiaan mampu menerobos sekat-sekat batas negara. Bukan tidak mungkin gerakan-gerakan kemanusiaan ini juga mampu mendorong terciptanya perdamaian di dunia. 

Dampak yang kemudian diharapkan terjadi setelah kedatangan Beckham adalah tercapai kesadaran publik mengenai pentingnya aksi anti perundungan di Indonesia. Sesuai dengan salah satu tujuan komunikasi internasional yang disampaikan oleh Tushu (2000: 3), yaitu tercapainya pemahaman bersama antar bangsa-bangsa di dunia. Upaya Beckham dan UNICEF ini jelas merupakan bentuk komunikasi internasional yang mencoba menyamakan persepsi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dunia tentang pentingnya aksi melawan perundungan. Diharapkan pula terdapat aksi-aksi bersama, di tingkat nasional dan daerah, antara setiap pemangku kebijakan dan masyarakat dalam menyikapi isu perundungan. 

Beckham telah datang membawa senyuman dan harapan untuk kehidupan anak-anak Indonesia yang lebih baik. Sekarang giliran kita yang berbuat menolak segala bentuk perundungan. Hingga pada waktunya nanti, orang-orang Indonesia yang akan berbagi kepada masyarakat dunia tentang pengalaman sukses mengalahkan perundungan. Perdamaian bisa dimulai lewat sentuhan individu-individu yang menyebarkan kebaikan.

Biodata Singkat Penulis: 

Lahir di Pontianak pada tanggal 23 Juli 1990. Penulis merupakan Pengajar di Prodi Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Tanjungpura. Bertempat tinggal di Jalan Tanjungsari no. 121, Pontianak. Penulis dapat dihubungi pada nomor seluler 082121161923 atau pos-el soedagoeng32@gmail.com.