Bayi Marta Dikeluarkan

Bayi Marta Dikeluarkan

  Sabtu, 24 September 2016 09:57

Berita Terkait

PONTIANAK - Marta Priviyana, korban pembunuhan oleh kekasihnya Aloysius Fernando alias Ando diduga kuat akan melahirkan sebelumnya nyawanya dihabisi di rumah kontrakan Jalan Parit Haji Muksin II Komplek Mega Mas Blok D31, Kubu Raya.

Sebelum dibunuh, korban mengalami rasa nyeri hebat pada perutnya yang tengah hamil sekitar delapan bulan.

Jenazah Marta ditemukan oleh warga di sebuah perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau.

Kepala Puskesmas Kampung Kawat yang menangani visum jenazah korban, Dokter Sangap Ginting mengungkapkan, usai melakukan identifikasi terkait penyebab dan perkiraan waktu kematian korban, ia melihat perut korban yang besar membuncit seperti hamil. Ia kemudian meraba bagian perut, dan merasakan ada sesuatu yang keras di dalam perut korban.

"Saya curiga dia hamil, kemudian saya coba periksa dalam dari bagian kemaluan korban dan meraba bagian dalam ternyata menyentuh bagian kepala dari bayi itu," ujar Ginting, Kamis (22/9).

"Sekilas saya berpikir mana tahu (bayi) masih hidup. Ketubannya sudah menonjol, bukaannya sudah lengkap, kalau dia (korban) hidup itu, itu seperti kita membimbing dia untuk mengejan. Yang menghalangi kepala bayi itu sudah terbuka, saya pecahkan air ketuban dan keluarlah airnya," sambungnya.

Biasanya, jika dalam persalinan normal, apabila ketuban sudah pecah dan bukaan sudah lengkap, imbuh Ginting, tidak lama pasti bayi akan lahir.

"Nah ini tidak mungkin kita bimbing karena korban sudah meninggal, jadi ya kita biarkan," katanya.

Beberapa jam kemudian, tim dari kepolisian datang dan melakukan serangkaian identifikasi, mengambil dokumentasi foto korban di setiap bagian dengan membolak-balikkan tubuh korban.

"Saat proses identifikasi dari kepolisian, tahu-tahunya nongol kepala bayi itu sampai sebatas leher, seperti bayi lahir pada umumnya. Kemudian dikeluarkan bayi itu," jelasnya.

Tak lama setelah itu, satu jam kemudian bagian plasenta keluar dengan sendirinya, disusul dengan mengeluarkan rahim korban.

"Jika dia masih hidup, bayi itu sudah cukup bulan, organnya juga sudah lengkap," katanya.

Proses keluarnya bayi itu, menurut Ginting, dipicu karena adanya tekanan gas akibat proses pembusukan bakteri di dalam perut. Gas tersebut, secara otomatis mencari celah jalan keluar, dan memberikan tekanan kepada jasad bayi itu, sehingga bayi itu keluar dengan sendirinya.

"Proses pembusukan di dalam itu menghasilkan gas, yang mencari ruang melalui jalan lahir, sehingga mendorong bayinya keluar disusul keluarnya rahim dari dalam," jelasnya.

Aparat kepolisian saat ini tidak lagi kesulitan untuk mengungkap identitas seseorang. Saat ini Polri memiliki alat bernama MAMBIS (Mobile Automatic Multi Biometric Identification System).

Alat mendeteksi identitas dengan cepat dan presisi melalui finger print  ini lah yang digunakan Direktorat Reskrimum Polda Kalbar untuk mengungkap identitas jenazah Marta Priviyana, korban pembunuhan yang jasadnya ditemukan tanpa identitas di perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau.

Alat sidik jari produkan Amerika ini tidak banyak dimiliki oleh negara-negara Asia lain. Bahkan alat ini diklaim hanya dimiliki oleh Indonesia dan Amerika saja.

Kecanggihan dari alat ini adalah bisa mengetahui identitas seseorang dengan cepat hanya dengan menempelkan jari pada finger print. Kemudian akan muncul data identitas sesuai dengan yang tercantum minimal di e-KTP.

Tidak hanya bisa membaca identitas dari sidik jari, alat ini ini juga memiliki tingkat presisi yang tinggi menggunakan tehnik iris mata. Hanya dengan meneropong kaca yang terletak dalam alat ini, dengan sendirinya akan muncul data identitas kependudukan seseorang.

Alat ini digunakan oleh Inafis atau Indonesian Finger Identification System dalam melakukan identifikasi.

"Dengan identifikasi ini, kami berhasil melacak identitas korban hingga menumukan pelaku pembunuhannya," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar Kombes Pol Krisnandi.

Menurut Krisnandi, dengan instrumen ini, identitas seseorang bisa terlacak dengan mudah.

"Alat ini lah yang saat ini dimiliki Polri," lanjutnya.

Terpisah, Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Suhadi mengatakan, Intrumen tersebut jika di link kan dengan program  E KTP, hasilnya akan lebih hebat lagi. Artinya seluruh pemilik E KTP akan terekam datanya di Mabes Polri, sehingga kalau terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, polisi akan dengan cepat mengungkapnya, hanya sayang, program ini tidak mendapat respon dari pengelola E KTP.

"Mudah-mudahan dengan adanya bukti kecanggihan tekhnologi pengambilan sidik jari melalui Instrumen MAMBIS ini dapat menarik empaty perhatian semua pihak," katanya.

Kasus pembunuhan yang dilakukan pelaku Aloysius Fernando, mahasiswa universitas terbesar di Kalimantan Barat ini, siang tadi Kamis (22/9) dilakukan rekonstruksi oleh Tim penyidik Direktorat Reserse Umum Polda Kalbar dibawah Pimpinan langsung Dir Reskrimum Kombes Pol Drs, Krisnandi SH, MH, terungkap bahwa pelaku melakukan pembunuhan terhadap korban lantaran kesal karena sebelumnya korban mengalami nyeri perut yang sangat hebat karena akan melahirkan.

Menurut pengakuan tersangka, siang itu, Senin (19/9), korban mendatangi rumah kontrakan pelaku di Komplek Mega Mas Jalan Parit Haji Muksin 2 Blok D nomor 31, sempat baring-baring bersama pelaku dan oleh pelaku korban sempat diurut punggungnya dengan minyak urut, sehingga korban tertidur, namun ketika bangun korban merasa kesakitan dan bertriak-teriak sambil memukul mukul dada pelaku, sehingga pelaku emosi dan membekap korban dengan menggunakan bantal yang ada diatas kepala korban.

Setelah korban sudah tidak bernyawa, pelaku menutup pintu dan keluar rumah membeli voucher Listrik bersama temannya, kemudian sekitar pukul 22.00 pelaku menyeret korban dibawa keluar rumah dan dimasukkan dalam mobil Avanza KB 1198 HY, kemudian pelaku kembali kerumah, selanjutnya pada pagi harinya Selasa 20 September 2016 sekitar pukul 06.00 pelaku membawa korban ke Simpang Tayan dan dibuang di lingkungan Perkebunan Sawit PT SMP.

Atas perbuatannya itu, tersangka dijerat dengan pasal 340 KUHP pembunuhan yg direncanakan dan Yungto Pasal 338 KUHP, karena korbannya tidak hanya satu nyawa, tetapi dua nyawa yakni Marta (25) dan anakanya yang masih dalam kandungan korban.(arf)

Berita Terkait