Bawa Tarian Melayu dan Dayak ke Las Vegas

Bawa Tarian Melayu dan Dayak ke Las Vegas

  Minggu, 5 June 2016 10:40
BERPRESTASI: Lidya Alvani Taslim (kiri), saat menuliskan jawaban pada sebuah kertas atas pertanyaan rekan media, Sabtu(4/6) di Yayasan Bhakti Suci. Ia mewakili Indonesia dalam Kontes Miss & Mister Deaf Tingkat International, di Las Vegas, Amerika Serikat, 30 Juni mendatang. HARYADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Lidya sama seperti anak lainnya. Meski menyandang status tunarungu, tidak mematahkan semangatnya untuk dapat berprestasi. Dia mampu dan membuktikannya. Buktinya, Runner Up Miss Dead Indonesia 2015 ini dikirim ke Las Vegas, menjadi kontestan di ajang Miss Deaf International, 30 Juni mendatang. 

AGUS PUJIANTO, Pontianak

ORANG bisu tidak boleh kalah dengan orang normal,” kata Millemus Tommy Taslim, adik kandung Lidya, menerjemahkan bahasa isyarat yang diperagakan kakaknya. Kedua bersaudara ini tampak rukun dan saling memahami setiap gerakan tangannya. 

“Orang normal dengan bisu harus sama. Meski punya kekurangan, harus punya motivasi untuk berprestasi,” sebut Tommy, meneruskan ucapan isyarat kakaknya yang sempat terputus.  

Lidya Alvani Taslim nama lengkapnya. Menyandang status tuna rungu sejak lahir, tak lantas membuatnya pupus harapan mengejar mimpi dan berprestasi. Dia berani tampil dan membuktikan diri hingga berhasil meraih Runner Up Miss Deaf Indonesia 2015. Berkat kebolehannya di modelling, dia terpilih menjadi wakil Indonesia menuju Las Vegas, Amerika Serikat, 30 Juni mendatang di ajang Miss Deaf International.

“Saya ingin menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar saya, dan teman penyandang  tuna rungu dan yang normal, agar saling mendukung, tanpa rasa minder terhadap perbedaan,” kata gadis berparas cantik itu. Saya sempat kesulitan berkomunikasi dengan Lidya, mengingat belum menguasai bahasa isyarat. Beberapa pertanyaan saya tulis melalui media buku, kemudian memintanya untuk menjawabnya. Sementara selebihnya, beruntung ada penerjemah.

Mendapatkan kesempatan berharga di ajang international bagi gadis kelahiran Pontianak, 11 Desember 1989 ini, sebuah kehormatan tersendiri. Semula, dia ditawarkan oleh Sehjira Deaf Foundation dan mengikuti seleksi Indonesia Deaf Tallent. Di antara lima peserta yang mengikuti, gadis berparas putih ini lolos ke tiga besar dan masuk ke final. “Ada lima orang yang ikut. Saya masuk ke final. Sangat bersyukur bisa jadi runner up,” tulis Lidya.

Gugup, gemetar, kaget, dan terharu. Begitulah perasaan gadis berpostur 160 sentimeter itu, saat mengetahui dirinya dinyatakan masuk runner up. Padahal, sebelum tampil, dia mengaku sedang menahan sakit dan lemas. “Tapi bersyukur, bisa memperoleh hasil maksimal,” tulisanya.

Kepercayaan diri Lidya tak terlepas dari peran keluarga dan orang tua dalam mendidik dan memotivasinya, hingga bisa menjadi seperti sekarang. “Saya bangga sekali, sekali pun anak saya memiliki kekurangan, dia mampu menunjukkan bakat dan berprestasi,” kata Ernilya Susanna, ibu kandung Lidya.

Diakui Erni, semula tak terbayangkan olehnya jika Lidya kecil bakal mengalami gangguan pendengaran. Padahal, sewaktu kecil, dia terlihat normal, seperti anak biasanya. “Tak ada tanda-tanda dia mempunyai kekurangan,” jelasnya.

Setahun berjalan, kejanggalan mulai Erni rasakan saat melihat perkembangan anakya. Saat itu, dia melihat Lidya kecil tidak merespons ketika dipanggil. “Waktu saya panggil, dia diam saja. Tidak ada respons. Saya curiga, lalu membawanya, memeriksakannya ke dokter,” kata Erni mengenang.

Benar dugaanya, hasil pemeriksaan dokter menyatakan, Lidya kecil mengalami gangguan pendengaran. Mengetahui itu, Erni sempat syok, juga sedih. Terbesit di pikirannya saat itu bagaimana mendidik anaknya, masa depannya, dan semua tentang Lidya di masa depan. “Kenapa bisa seperti itu, sedih juga saya dulu,” ungkapnya.

Seakan tak ingin larut dari kesedihan, Erni ingin bangkit. Dia percaya, Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik. Fikiran positif ini ia tularkan ke anaknya. Mulai kecil, Lidya sudah dibekali pendidikan yang berbeda dari anak lainnya. 

“Saya masukkan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Asih,” ujar warga Jalan Sungai Raya Dalam, Komplek Taman Sungai Raya No D 70 ini.

Selain dukungan moril, Erni tak henti-hentinya memberikan dorongan dan motivasi kepada anaknya tersebut, seperti menumbuhkan semangat dan tidak boleh takut menghadapi kenyataan hidup. “Dia tidak boleh takut harus percaya diri walaupun kamu (Lidya, Red) punya keterbatasan. Harus berani berjuang seperti orang biasa,” pesannya.

Bakat Lidya kecil, diakui dia, sudah terlihat di sekolah. Mulai berani tampil di depan umum seperti  modelling dan menari.

Bawa Tarian Kalbar

Sejumlah persiapan mulai dilakukan sebelum keberangkatan menuju Las Vebas, seperti belajar menari dan mempelajari bahasa isyarat international. “Persiapannya belajar bahasa international pakai tangan. Bahasa Indonesia beda dengan Inggris isyaratnya,” tulis Lidya.

Selain mengikuti dan akan membawa nama harum Indonesia ke kancah international, Lidya juga akan menampilkan dua tarian asal Kalbar ke Las Vegas, tarian Melayu dan Dayak. Sembari mematangkannya, Lidya mengaku sudah mempelajari kedua jenis tarian ini. “Sudah belajarnya, kostumnya juga sudah ada. Tinggal diperlancar lagi,” kata Millemus menerjemahkan bahasa isyarat Lidya.

Lidya optimis bisa membawa harum nama Kalbar dan Indonesia ke kancah international. “Optimis menang. Saya ingin menjadi contoh bagi penyandang disabilitas lainnya, dan memicu semangat anak disabilitas,” pesannya.

Erni, sang ibu, berharap jalan hidup anakya menapaki jalan kesuksesan sebagai penyandang disabilitas ini dapat ditiru dan menjadi semangat bagi anak-anak lainnya. Dia juga berharap mendapatkan dukungan dari masyarakat Kalbar dan Indonesia.“Harapan dukungan tetap kami butuhkan,” harapnya.

Ketua Yayasan Bhakti Suci, Hasim, memandang bagaimana prestasi Lidya patut mendapatkan dukungan dari semua pihak. Apalagi, gadis tersebut, menurut dia, membawa nama Kalbar dan kearifan lokal, seperti tarian Melayu dan Dayak ke kancah international. 

“Dukungan secara moril dan materil juga sangat diperlukan. Anak difabel yang bertalenta perlu ditonjolkan. Saya tergugah dan mengajak masyarakat Kalbar, untuk mendukungnya,” kata Hasim.

Selain itu, dia juga berharap Pemerintah Kota Pontianak dan Pemprov Kalbar trut men-support. Diingatkan dia, keberangkatan Lidya bukan tanpa biaya. “Tentu hal ini butuh dukungan semua pihak untuk membawa nama Kalbar ke kancah dunia,” gugah dia. (*)

Berita Terkait