Bawa Dongeng Jadi Nyata

Bawa Dongeng Jadi Nyata

  Jumat, 14 September 2018 10:00

Berita Terkait

DUNIA perfilman tampaknya gencar membuat film dari adaptasi dongeng klasik. Meskipun ceritanya sudah ketebak tetap saja film ini punya daya tarik dan dinantikan penggemar dongeng tersebut. Apa yang membuat dongeng ini menjadi favorit sampai dijadikan film? Yuk, simak pendapat sobat Z di bawah ini. (dee)

Beauty and the Beast

Sejak difilmkan tahun lalu, banyak orang yang mengelu-elukan film ini sebagai animasi paling lovable. FYI, kisah ini dirilis pada 1740 oleh penulis Prancis bernama Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve. Kisah ini terus berkembang hingga 1946 dan diangkat menjadi film oleh rumah produksi Prancis. Sementara itu, pada 1976 versi televisinya dirilis untuk kali pertama. Karakterisasi yang unik menjadi hal unik yang memperkuat kepopulerannya. Misalnya, perabotan rumah tangga yang hidup dan dapat bicara seperti Chip Potts hingga Lumiere.

Cerita yang Kaya Makna

Riska Farda Aini (@ikafard)

Fak. Hukum Untan

“Pesan yang paling kuat dalam cerita ini adalah jangan menilai dan mencintai seseorang atas dasar materi dan penampilannya saja sebab yang kita lihat sekarang belum tentu yang sebenarnya. Nah, kisah ini tuh seperti cerita aku sama doi yang awalnya aku pikir doi garang dan sangar abis. Maklum lah senior, eh pas pacaran justru malah berbanding terbalik dengan penilaian aku di awal. Lah, jadi curhat, hehe. Intinya aku suka cerita ini dalam bentuk dongeng, kartun dan filmnya. Semuanya suka! Meski terdapat perbedaan sedikit tapi  inti ceritanya sama, tentang pangeran yang dikutuk dan si cantik yang berani dan baik hati.”

Thumbelina

Kamu masih ingat gadis superkecil yang hidup di antara tumbuhan bunga? Yup, it’s Thumbelina! Petualangan gadis imut dalam mencari kehidupan di luar rumahnya memang selalu mendebarkan dan membuat kita penasaran. Siapa sangka, kisah pertamanya dirilis Hans Christian Andersen pada 1835. Kemudian, pada 90-an banyak production house yang mengadaptasi kisah tersebut menjadi animasi. Misalnya, Thumbelina: A Magical Story yang dirilis pada 1993 oleh rumah produksi di Jepang. Pada 2009, Thumbelina menjadi salah satu tokoh dalam film Barbie. Alhasil, kepopulerannya meningkat pesat.

Mengidolakan Thumbelina Si Pemberani

Apriliana (@aprl88)

SMA Panca Bhakti Pontianak

“Kalau weekend terus ada film Thumbelina di TV udah deh fix nggak boleh ada yang ganggu aku nonton. Sesuka itu aku sampe beli edisi boneka Barbie-nya. Aku suka karakternya, kecil-kecil cabe rawit. Thumbelina berani melakukan hal apapun yang beresiko besar padahal tubuhnya mungil. Alur ceritanya juga bagus dan secara nggak langsung ngajarin kita untuk mencintai tanaman. Pokoknya favorit deh!”

Winnie The Pooh

Siapa yang nggak gemas melihat beruang kuning pencinta madu yang satu ini? Sejak bukunya dirilis pada 1926, Winnie the Pooh terus bertransformasi dalam banyak bentuk. Misalnya, beraksi di panggung teater pada 1931. Puncak ketenarannya adalah stasiun televisi ABC menayangkan serial bertajuk The New Adventures of Winnie the Pooh pada 1988. Dilanjutkan dengan The Book of Pooh yang dilansir Disney Channel. Dan yang terbaru adalah film layar lebar dalam versi live action berjudul Christopher Robin yang tayang pada Agustus 2018. Sontak aja, banyak orang yang menggemari si beruang lucu itu. Apalagi, tiap ceritanya menunjukkan bagaimana persahabatan dapat bertahan. 

Canggung Namun Mengesankan

Hasti Maulidya Hutami (@hastimaulidyahutami)

STIE Pontianak

“Dari dulu aku suka Winnie The Pooh karena karakternya yang baik hati, lugu dan bentuk fisiknya yang menggemaskan. Pas tahu dongeng ini akan dibuat dalam bentuk film. I was excited! Makna filmnya tentang kesetiakawanan nyampe banget. Tapi sayang McGregor (pemeran Cristopher Robin) kurang mendalami perasaannya saat berakting dalam memerankan karakter Robin. Jadi, agak canggung. Wajar sih ya, berakting dengan bantuan teknologi CGI dan benda nggak nyata tentunya bukan pekerjaan yang mudah. So far sih, filmnya nggak mengecewakan kok.”

Berita Terkait