Basa-Basi Berbisa

Basa-Basi Berbisa

  Kamis, 19 April 2018 11:00

Berita Terkait

BASA-basi merupakan kebiasaan orang Indonesia yang sudah dilakukan sejak lama. Namun di zaman sekarang basa-basi jarang mengarah pada hal positif. Umumnya basa-basi yang dilontarkan cenderung sensitif, seperti pertanyaan kapan lulus? Kapan nikah? Pacarnya mana? Kok gendutan? Kok kurusan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkesan sepele bagi yang menanyakannya. Namun basa-basi seperti itu dapat memengaruhi mood orang yang ditanya, loh.

“Pertanyaan seperti itu umumnya ditanyakan oleh ruang lingkup terdekat seperti keluarga inti dan sahabat. Tentunya basa-basinya bakal biasa aja, yang ditanya juga bisa santai menjelaskannya. Sayangnya, saat ini masyarakat sering membuka obrolan dengan pertanyaan seperti itu pada orang lain yang belum tentu dikenal secara dekat,” ujar Dewi Utami, M.S., dosen Ilmu Komunikasi Untan.

Menurut Dewi Utami, kebiasaan berbasa-basi seperti itu disebabkan kurangnya kesadaran diri dan kurangnya belajar cara berkomunikasi. Pastinya pertanyaan-pertanyaan sensitif yang ditanyakan dapat menimbulkan perasaan nggak nyaman pada lawan bicara. Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi yang membuat orang-orang jarang memikirkan dampak perkataannya.

Apalagi mayoritas orang Indonesia masih terpaku pada siklus hidup lulus-kerja-nikah-punya anak-nambah anak. Adanya siklus hidup tersebut bakal membuat masyarakat bertanya apabila seseorang belum melaluinya. “Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan terus ada. Keadaan ini berbeda dengan negara barat yang nggak mempermasalahkan udah sampe tahap mana siklus hidup seseorang,” tambahnya. 

Dewi Utami pun menyarankan agar basa-basi dilakukan dengan mengganti pertanyaan ke arah yang lebih positif. Buatlah obrolan yang menyenangkan dengan membangun topik yang menarik, seperti nggak menanyai detil kehidupan pribadi orang lain. Pada dasarnya kita nggak bakal tahu apakah orang yang kita tanya mempunyai masalah dengan pertanyaan-pertanyaan yang kita lontarkan. 

“Kembali lagi ke tujuan kita berkomunikasi sebenarnya untuk merajut sebuah hubungan. Tapi jika apa yang kita ucapkan asal ceplos berarti tujuan kita bukan membangun sebuah hubungan, melainkan hanya untuk kepentingan kita sendiri. Nggak peduli dengan perasaan lawan bicara,” jelas Dewi Utami.

Demi menghindari basa-basi kurang menyenangkan, ada baiknya tiap zetizen mempelajari cara berkomunikasi. Ada banyak artikel dan buku yang mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan baik dan benar.

“Jangan malas belajar berkomunikasi. Untuk yang mendapat basa-basi nyelekit juga nggak boleh baper. Sebaiknya kita menyiapkan jawaban-jawaban diplomatis yang membuat orang tersebut berhenti bertanya. Selain itu, kita juga dapat mengalihkan topik obrolannya sebelum pertanyaannya makin melebar,” pungkasnya. (bibiana)
 

Berita Terkait