Banyak Lahan Sawah Jadi Permukiman

Banyak Lahan Sawah Jadi Permukiman

  Minggu, 21 April 2019 08:59
PENAN PADI: Petani di Kawasan Jalan Arteri Supadio, Kabupaten Kubu Raya, memanen padinya yang sudah menguning, kemarin (20/4). Alih fungsi lahan sawah menjadi permukiman terus terjadi, termasuk di kawasan Pontianak dan sekitarnya. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Mengancam Ketahanan Pangan Nasional

JAKARTA – Alih fungsi lahan sawah menjadi tol ataupun permukiman terus terjadi. Banyuwangi menjadi wilayah dengan penurunan lahan sawah terbesar sepanjang 2015 hingga 2018. Direktur Indonesia Development and Islamic Studies Yusuf Wibisono mengatakan, pembangunan tol trans-Jawa secara tidak langsung mendorong alih fungsi ribuan hektare lahan pertanian. 

”Umumnya lahan pertanian itu beralih fungsi menjadi tempat peristirahatan atau SPBU. Jalan tol ini menarik minat investor,” ujarnya, kemarin (19/4). Pihaknya mencatat sepuluh kabupaten di Jawa kehilangan area sawah terbanyak dalam kurun waktu tersebut. Berdasar data yang dikumpulkan dari BPS, Banyuwangi telah kehilangan 21.730 hektare lahan pertanian. Disusul Kabupaten Bandung 9.374 hektare dan Kabupaten Serang 7.713 hektare. 

Pada periode 2015 hingga 2018, pemerintah telah meresmikan 756 km jalan baru. Terdiri atas 668,6 km tol trans-Jawa dan 87,5 km tol trans-Sumatera. Pembangunan tol trans-Jawa sebetulnya telah digagas pada era Presiden Soeharto. ”Namun, realisasinya tidak begitu signifikan. Pada era Presiden Jokowi baru terjadi akselerasi,” imbuhnya. Sepanjang 2015 hingga 2018 tercatat dibangun 680,4 km jalan tol di Jawa yang diperkirakan mengambil alih 4.457 hektare lahan pertanian.

Sedangkan 44.192 ha lahan pertanian dialihfungsikan di sekeliling gerbang tol dipicu ekspansi perkotaan. Sedangkan pada 2019 hingga 2021, adanya operasi jalan tol diperkirakan akan memicu konversi lahan pertanian hingga 70 ribu hektare. Setara dengan luas seluruh sawah di Kabupaten Bojonegoro. 

”Perilaku investor dan pengembang proyek properti yang mencari keuntungan dari kenaikan harga tanah membuat konversi lahan pertanian terjadi secara masif,” terang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu. Konsekuensinya, pembangunan kawasan berjalan tidak terkendali.

Lahan pertanian produktif mengalami konversi masal untuk aktivitas non pertanian, terutama permukiman dan industri. Meski demikian, di sejumlah wilayah juga terdapat penambahan luas lahan sawah melalui program lahan pertanian dan pangan berkelanjutan (LP2B). Ada tiga wilayah di Jawa yang mengalami penambahan luas area lahan sawah terbesar. Yakni, Kabupaten Sumenep seluas 10.375 hektare, Kabupaten Indramayu 9.293 hektare, dan Kabupaten Pati 9.084 hektare.

Pada 2018 luas lahan pertanian di Jawa diperkirakan tersisa 4,5 juta hektare atau sekitar 32 persen dari luas Jawa. ”Ketahanan pangan nasional yang hingga kini mengandalkan Jawa menjadi pertaruhan besar,” tutur Yusuf. Rangkaian pegunungan vulkanis yang melintasi pulau membuat Jawa secara alamiah menjadi sentra pangan Nusantara sejak dulu lantaran struktur tanahnya sangat subur.

Kebijakan pembangunan tersebut harus dibayar mahal dengan turunnya produksi pangan dan produktivitas lahan. Akibatnya, impor pangan menjadi andalan jalan keluar bagi pemerintah. Pada 2018 Indonesia mengimpor 10,1 juta ton gandum; 2,59 juta ton kedelai; 2,25 juta ton beras; dan 0,74 juta ton jagung. Pihaknya mengusulkan pemerintah bisa mengalihkan pembangunan tol trans-Jawa dengan mengoptimalkan moda angkutan kereta. Cara itu dinilai lebih efisien daripada membangun tol yang dikhawatirkan akan mengambil lahan pertanian cukup besar. Sebab, alih fungsi lahan pertanian dikhawatirkan dapat membahayakan sektor pangan nasional. (vir/c10/oki)

Berita Terkait