Bantu Proses Masuk Islam Sesuai Aturan dan Siap Berikan Bimbingan

Bantu Proses Masuk Islam Sesuai Aturan dan Siap Berikan Bimbingan

  Rabu, 15 May 2019 10:47
UCAP SYAHADAT: Imam Masjid Raya Mujahidin, Imam Mashub, saat membimbing Devia, mengucapkan dua kalimat syahadat, Senin (13/5).

Berita Terkait

Kiprah LDIPM Mujahidin Memfasilitasi Mualaf di Bulan Ramadan

Hujan di sore itu, Senin (13/5), tidak menghalangi niat Devia untuk datang ke Masjid Raya Mujahidin. Hari itu, wanita muda berusia 26 tahun ini, mengucap dua kalimat syahadat. Ia menyatakan keislamannya. 

SITI SULBIYAH, Pontianak

DI hadapan Imam Masjid Raya Mujahidin, Imam Mashub, dua kalimat syahadat itu terucap dari lisan Devia, wanita yang memutuskan untuk menjadi mualaf. Setelah dinyatakan sah oleh saksi, Deni, yang tak lain adalah sang calon suami, lantas doa pun bacakan. Imam Mashub saat itu mendoakan kebaikan bagi Devia agar diampuni dosa-dosanya, serta istiqamah dengan agama baru yang dipilihnya, yakni Islam. Semua orang yang ada di ruangan Lembaga Dakwah Ibadah dan Pembangunan Masjid (LDIPM) itu pun turut mengamini. 

Setelah peristiwa sakral itu, Imam Mashub memberikan beberapa nasihat penting. Devia diminta untuk belajar dasar-dasar Islam sebagai modalnya untuk menjalankan perintah-perintah wajib. "Nanti datanglah ke rumah saya secara rutin, untuk belajar," ajak Imam Mashub kepada Devia.

Sebelum mengucap dua kalimat syahadat itu, Imam Mashub terlebih dahulu memastikan bahwa Devia telah yakin 100 persen untuk memeluk Islam, tanpa paksaan oleh pihak mana pun. Ia juga menggali lebih dalam, motivasi serta kondisi keluarga Devia terkait pilihannya untuk pindah agama. 

"Saya merasa di Islam lebih adem saja," kata Devia menjawab pertanyaan Imam Mashub. Devia juga memastikan keluarga tidak melarangnya untuk memeluk Islam. Bahkan sebaliknya, keluarganya cukup memberikan dukungan. Apalagi keinginannya untuk memilih agama Islam sebelumnya telah ia sampaikan beberapa tahun silam. Keluarganya pun kala itu tidak terlalu mempermasalahkan.

Ketertarikan Devia pada Islam tidaklah tiba-tiba. Sejak berstatus mahasiswa di  tahun 2012, ia tumbuh dalam lingkungan yang mayoritas beragama Islam. Teman-teman dekatnya rata-rata muslim. 

Ketertarikannya semakin kuat untuk memeluk Islam sejak tiga tahun silam. Hanya saja waktu itu, ia belum tahu betul cara untuk berpindah agama. Barulah di tahun ini, ia resmi menyandang status sebagai seorang muslim. Ia pun merasa lega, karena dapat mengikuti kata hatinya, pilihan hidupnya. Momennya pun tepat, di bulan Ramadan.

“Setelah ini saya akan belajar Islam, belajar salat, belajar ngaji,” pungkasnya. Hampir setiap minggu, ada saja yang datang ke LDIPM Masjid Raya Mujahidin Pontianak, untuk menyatakan keislamannya. Hal ini pun dibenarkan oleh Staf LDIPM Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Mawardi Syamsudin, yang mengurus proses untuk menjadi mualaf ini.

“Dalam satu bulan, kira-kira ada empat sampai lima orang ada yang menjadi mualaf. Seminggu minimal ada satu orang,” sebut Mawardi. LDIPM Masjid Raya Mujahidin mencatat jumlah mualaf di tahun 2018 sebanyak 85 orang. Sementara di tahun ini, hingga Mei 2019, ada 32 orang. 

Lembaga ini, selain membantu proses masuk Islam sesuai dengan aturannya, juga akan mengeluarkan Surat Keterangan Memeluk Agama Islam, sebagai bukti bahwa seseorang telah berpindah dari agama lamanya ke agama Islam. Dari surat keterangan ini pula, mualaf dapat mengurus perubahan dokumen identitasnya.

Namun, untuk mendapatkan surat ini, sejumlah persyaratan harus dipenuhi oleh calon mualaf. Tidaklah cukup bila seseorang hanya menyatakan secara lisan keislamannya dengan melafazkan dua kalimat syahadat.

“Harus ada penanggung jawabnya atau saksi yang datang mendampingi. Bisa teman, keluarga, atau siapapun yang memastikan bahwa si calon mualaf benar-benar ingin masuk Islam,” kata Mawardi. Selain itu, calon mualaf juga harus melengkapi sejumlah dokumen, seperti KTP, surat pengantar RT, maupun surat pernyataan keluar dari agama asalnya. 

Mawardi juga sempat berbagi soal beragamnya cerita para mualaf saat hendak masuk Islam.  Ada yang prosesnya mudah, ada pula yang prosesnya cepat. “Yang sulit itu, kalau masuk Islam ngumpet-ngumpet. Atau kalau keluarganya tidak setuju dan melarang keras,” katanya. 

Ada pula yang masih di bawah umur namun berkeinginan untuk masuk Islam, sementara orang tua tidak mengizinkan. “Karena kalau di bawah 20 tahun harus ada persetujuan dari orang tua. Aturan itu kami mengacu pada aturan Kementerian Agama,” jelasnya.

Di sisi lain, diakuinya, dari kisah-kisah yang ia dapatkan itu, ada banyak hikmah yang bisa ia petik. Jalinan silaturahmi dengan para mualaf pun diakuinya masih terjaga hingga saat ini. “Ini menambah silaturahim antara kami yang ada di sini, juga dengan para imam yang memberikan bimbingan. Kami masih saling berkomunikasi bahkan saling tolong menolong,” katanya.*

 

Berita Terkait