Banjir Rendam Sepertiga Jatim

Banjir Rendam Sepertiga Jatim

  Jumat, 8 March 2019 08:53
ANAK PUN JADI KORBAN: Sejumlah balita dievakuasi menggunakan perahu karet di tengah banjir yang melanda Ponorogo, kemarin. Setidaknya 15 kabupaten di Jawa Timur terdampak banjir dengan kerusakan yang bervariasi. BAGAS BIMANTA RA/ RADAR MADIUN

Berita Terkait

15 Kabupaten Tergenang

JAKARTA – Meluapnya jaringan sungai Bengawan Solo membuat sebagian besar wilayah Jatim bagian barat terendam banjir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, setidaknya 15 kabupaten terdampak banjir dengan kerusakan yang bervariatif. 

Sebelumnya, BMKG telah memperingatkan adanya aktivitas Osilasi Iklim Madden Julian (MJO) di Samudera Hindia. Pengaruh Osilasi ini telah menyebabkan curah hujan tinggi di kawasan Indonesia. MJO adalah fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari barat (Samudera Hindia)  ke timur dengan membawa massa udara basah. 

Kapusdatin dan Humas BNPB, mengutip laporan dari BMKG, mengungkapkan, masuknya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ini meningkatkan potensi curah hujan bagi daerah-daerah yang dilalui. 

”Fenomena ini dapat bertahan hingga satu minggu. Selain itu, adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia Barat Sumatera yang membentuk  daerah pertemuan angin cukup konsisten di wilayah Sumatera, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Jawa menyebabkan curah hujan meningkat,” jelas Sutopo.

Khusus di Jawa Timur, hujan deras telah menyebabkan banjir melanda 15 kabupaten karena sungai-sungai dan drainase yang ada tidak mampu mengalirkan aliran permukaan sehingga banjir merendam banyak lokasi. ”Data sementara, banjir menyebabkan  lebih dari 12.495 Kepala Keluarga (KK) terdampak. Sebagian masyarakat mengungsi ke tempat yang lebih aman,” jelas Sutopo. 

 Berdasarkan data BNPB, dari 15 kabupaten yang terdampak, Kabupaten Madiun memegang peringkat nomor satu dengan dampak terparah. Banjir diperkirakan akibat  meluapnya sungai Jeroan yang merupakan anak sungai Madiun. 

Dari laporan BPBD Jatim, sebanyak 39 desa, delapan kecamatan, 4.317 Kepala Keluarga (KK) atau 17.268 jiwa terdampak banjir. Rumah rusak berat  terhitung dua unit. Banjir juga merendam 253 hektare sawah, merusak tiga titik tanggul sungai,  dua unit jembatan dan satu unit gorong-gorong. Ribuan ternak juga terdampak. “Bupati Madiun telah menetapkan masa tanggap darurat banjir selama 14 hari yaitu tanggal 6 -19 Maret 2019,” jelas Sutopo.

Kabupaten Bojonegoro menempati posisi kedua. Banjir akibat meluapnya air Sungai Pacal berdampak pada 23 desa, delapan kecamatan di Kabupaten Bojonegoro dengan ketinggian air 30 - 40 cm. Tercatat sebanyak 1.382 rumah dan 121 hektare sawah terendam.

Kabupaten lain yang terdampak banjir meliputi  Nganjuk, Ngawi, Magetan, Sidoarjo, Kediri, Tuban, Probolinggo, Gresik, Pacitan, Tranggalek, Ponorogo, Lamongan dan Blitar. “Daerah yang paling parah terlanda banjir adalah Kabupaten Madiun,” kata Sutopo. 

Menurutnya, BPBD Jatim bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan masyarakat terus melakukan penanganan darurat. Evakuasi, pemberian bantuan permakanan, pendirian tenda dan lainnya masih dilakukan. “Sampai saat ini pendataan dampak banjir masih terus dilakukan BPBD,” katanya.(tau)

Berita Terkait