Banjir Rendam Ribuan Hektare Sawah

Banjir Rendam Ribuan Hektare Sawah

  Minggu, 10 March 2019 09:30
TERANCAM PUSO: Sawah petani yang terendam banjir di Ngawi, kemarin. Potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir,  longsor,  angin kencang, dan gelombang tinggi diprediksi masih akan terus terjadi di sejumlah wilayah. RIANA/JAWAPOS

Berita Terkait

Bencana Hidrometeorologi Masih Berlanjut 

JAKARTA –  Masyarakat Indonesia masih harus lebih waspada beberapa hari ke depan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Gefisika (BMKG) memperkirakan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir,  longsor,  angin kencang, dan gelombang tinggi masih akan terus terjadi. 

“Madden-Julian Oscillation (MJO) yang tumbuh dan berkembang di Samudera Hindia sejak beberapa hari lalu memberikan dampak berupa peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R. Prabowo kemarin (9/3). 

Saat ini, MJO diprakirakan mulai bergerak merambat ke wilayah Timur memasuki wilayah Indonesia. Pada periode 8-14 Maret 2019 diprakirakan potensi hujan lebat akan terkonsentrasi di sebagian wilayah pulau Jawa dan wilayah Indonesia Tengah dan Timur.

Pada periode yang sama kata Prabowo diprediksikan akan terdapat beberapa sirkulasi siklonik dan daerah konvergensi (pertemuan angin) yang juga dapat meningkatkan potensi curah hujan meski cenderung memiliki waktu kejadian yang relatif lebih singkat. 

Potensi gelombang tinggi mulai dari 2.5 hingga 4.0 meter juga diperkirakan masih akan terjadi di Selat Sunda bagian selatan, Perairan selatan Jawa hingga Lombok, Selat Bali hingga Selat Lombok bagian selatan, Samudera Hindia selatan Jawa hingga NTB, Perairan utara Kepulauan Kangean, Laut Jawa bagian timur. Selat Makassar bagian selatan, Laut Sumbawa, Perairan Kepulauan Sangihe - Talaud, Laut Flores, Laut Banda, Perairan Barat Kepulauan Kei, Perairan Utara Kep. Tanimbar, Perairan Manokwari hingga Biak.

Prabowo mengimbau masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologis terusan akibat curah hujan tinggi. “Beberapa bencana hidrometeorologis yang bisa terjadi dapat berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang, petir dan jalan licin,” katanya.

Sementara itu, dampak banjir di Jawa Timur telah menyebabkan dampak luas. Sektor pertanian menjadi yang paling parah.  Di Ngawi misalnya. Bencana banjir yang melanda beberapa hari terakhir telah menyebabkan kerugian petani sekitar Rp 33,2 miliar. Angka itu berasal total lahan padi siap panen seluas 1.200 hektare di enam kecamatan yang terendam.  

 ‘’Itu hasil pendataan petugas kami di lapangan, sebagian besar belum dipanen,’’ ungkap Kepala Disperta Ngawi, Marsudi kemarin (9/3).

Marsudi memerinci, luas lahan pertanian yang terdampak banjir kali ini mencapai sekitar 1.400 hektare. Dari luasan itu, 171,5 hektare di antaranya sudah semai dan tanam dengan usia padi 1-25 hari. ‘’Sisanya sudah siap dipanen, tapi keburu terendam banjir,’’ ujarnya.

Jika diasumsikan satu hektare lahan menghasilkan tujuh ton gabah basah dengan harga kisaran Rp 4.000 per kilogram, kerugian yang timbul mencapai Rp 28 juta. ‘’Itu hitungan kasarnya, dan jika semuanya tidak bisa dipanen alias puso,’’ imbuh Marsudi.

Apabila dikalikan dengan luas lahan dengan tanaman padi siap panen seluas 1.199,5 hektare, kerugian yang dialami petani mencapai puluhan miliar. Sayangnya, hanya sebagian kecil yakni sekitar 10,25 hektare yang telah diasuransikan. Itupun, kata Marsudi, klaim asuransinya hanya menggantikan biaya produksi sebesar Rp 6 juta per hektare. ‘’Juga syaratnya kondisi tanaman dinyatakan rusak atau puso,’’ sebutnya.

Marsudi menambahkan, padi yang sudah terendam banjir selama dua hari dipastikan rusak. Terutama yang roboh akibat diterjang banjir. Sedangkan yang masih tegak masih dapat dipanen, namun kualitasnya turun dan harga jualnya anjlok. (tau/tif/isd)

Berita Terkait