Banjir Mengamuk di Mana-Mana

Banjir Mengamuk di Mana-Mana

  Sabtu, 9 March 2019 13:52
TERENDAM: Banjir melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Di Jawa Timur, banjir merendam sejumlah jalan tol sehingga memutus jalur transportasi. Sementara di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur banjir menewaskan sejumlah warga. R. Rendra Bagus Rahadi/Radar Madiun

Berita Terkait

JAKARTA – Bencana banjir terus meluas. Setelah merendam 15 kabupaten di Jawa Timur,  Banjir besar dilaporkan juga melanda Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Banjir disertai longsor terjadi di Kecamatan Komodo dan Kecamatan Mbliling kemarin (7/3).

Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, hujan deras yang turun di daerah Manggarai Barat ditambah kondisi topografi perbukitan dan tanah labil telah menyumbang terjadinya banjir dan longsor.

Setidaknya dua orang dilaporkan sudah meninggal dan enam orang luka-luka. Kerugian material meliputi tiga unit rumah rusak berat, satu unit jembatan rusak, dua unit sepeda motor tertimbun longsor, satu unit kios rusak berat tertimpa longsor, dan jalan tertutup longsor. ”Sejauh ini ruas jalan Ruteng – Labuan Bajo lumpuh total akibat longsor,” jelas Sutopo kemarin (8/3).

Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Manggarai Barat bersama TNI, Polri, SKPD dan relawan masih melakukan evakuasi dan kaji cepat di lokasi kejadian. Komunikasi terbatas karena sinyal telepon genggam sering tidak tertangkap. ”Kebanyakan merupakan daerah blank-spot sinyal di lokasi bencana. Pendataan masih dilakukan BPBD,” kata Sutopo.

Sementara itu, luapan sungai Citarum masih menggenangi sebagian wilayah Kabupaten Bandung setelah hujan deras yang terjadi sejak Rabu (6/3).  BPBD setempat melaporkan sekitar 22.105 Kepala Keluarga (KK) terdampak. Sementara luasan wilayah terdampak dilaporkan mencakup 12 desa/kelurahan di 10 kecamatan di Kabupaten Bandung.

Daerah yang banjir mencakup Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang, Rancaekek, Cileunyi, Majalaya, Banjaran, Cicalengka, Kutawaringin, dan Ibun. ”Banjir disebabkan luapan Sungai Citarum dan drainase yang tidak mampu mengalirkan aliran permukaan. Tinggi banjir antara 40 cm hingga 280 cm,” kata Sutopo.  

Banjir sesungguhnya bukan hal yang baru bagi masyarakat sekitar bantaran Sungai Citarum di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Terlebih lagi di daerah Kecamatan Baleendah dan Majalaya karena dalam setahun masyarakat dapat mengalami banjir sekitar 10 kali.

Meskipun banjir melanda cukup luas dan rumah warga terendam banjir, namun Sutopo mengatakan hanya ada 90 KK atau sekitar 283 jiwa yang mengungsi.

Sementara itu, beberapa wilayah terendam banjir di Jawa Timur perlahan-lahan mulai surut kemarin. Di Kabupaten Madiun yang terparah, sebagian besar wilayah dilaporkan sudah surut dan aktivitas warga berangsur-angsur normal. Genangan air tertinggi masih 50 sentimeter.  

Sementara genangan sudah dilaporkan surut di Kabupaten Nganjuk, Blitar, Banyuwangi, Jember, Trenggalek, Pacitan, Tuban, dan Kediri. Sementara di Kabupaten Ngawi, air cenderung meluas ke arah kota. Di kabupaten terdampak lain, tren air sudah mulai surut dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 25 hingga lebih dari 50 sentimeter.  

Sutopo menyakini bahwa kapasitas daya tampung lingkungan sudah terlampaui. Banjir diperparah dengan semakin rusaknya daerah hulu-hulu sungai akibat pembukaan lahan untuk pertanian maupun permukiman.

Jika membaca tren-tren tahun sebelumnya, kata Sutopo biasanya banjir lumrah terjadi di wilayah dataran rendah. Tapi saat ini semakin banyak banjir terjadi di dataran tinggi saat terjadi hujan deras seperti di Kota Bandung, Kota Cimahi, Pasuruan, Dieng dan lainnya. Awal Maret lalu, Banjir melanda wilayah Pengalengan Jawa Barat yang dikenal sebagai dataran tinggi.

“Gundulnya hutan, berkurangnya kawasan resapan air, DAS kritis, sungai makin dangkal dan sempit, drainase yang tidak memadai, sungai penuh sampah dan lainnya adalah penyebab banjir,” jelas Sutopo.  

Banjir di Bandung, kata Sutopo, juga butuh penanganan DAS Citarum secara komprehensif. Daerah Baleendah dan sekitarnya merupakan permukiman dan industri yang padat penduduknya.  Kondisi topografi cekung dengan dasar Sungai Citarum dangkal karena sedimentasi.

Seringnya banjir melanda permukiman menyebabkan masyarakat sudah beradaptasi dengan kondisi alam yang ada. Masyarakat sudah menyiapkan perahu dan mengetahui kemana mereka harus mengungsi. “Jarang ada korban jiwa meskipun mereka sering dilanda banjir,” kata Sutopo.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Herizal mengungkapkan, Osiliasi Madden Julian (MJO) fase basah telah mengamplifikasi aliran monsun pembawa hujan di bagian tengah dan timur Indonesia.

“Pemantauan curah hujan tinggi pagi ini menunjukkan sebagian tempat di NTB, NTT, Sulsel, Papua mendapatkan hujan dengan intensitas tinggi bahkan ekstrem. Lebih dari 100 mm/hari,” kata Herizal.

Herizal mengungkapkan, peningkatan intensitas hujan di bulan maret sebenarnya sudah diprediksikan oleh BMKG sejak sebelum Februari. “Prediksi akumulasi hujan bulanan waktu itu memang mengindikasikan bulan Maret lebih basah daripada Maret pada umumnya,” jelasnya.

Menurut Herizal, prospek untuk pekan depan ini hingga awal dasarian pertengahan Maret, wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, mulai Jawa Timur ke timur hingga NTT, Sulawesi selatan dan Papua masih perlu mewaspadai peningkatan intensitas hujan.

“Selain faktor MJO pada atmosfer, kelimpahan massa uap air juga disuplai dari lebih hangatnya suhu permukaan laut di perairan sekitar Jawa Bali NTB dan Laut Jawa bagian timur bila dibandingkan dengan perairan sekitarnya,” jelasnya.(tau)

Berita Terkait