Banjir Kiriman Tiba di Ngabang

Banjir Kiriman Tiba di Ngabang

  Selasa, 11 June 2019 09:34
NGABANG TERENDAM: Banjir kiriman kini menyerbu kota Ngabang. Sementara, banjir di daerah Mandor mulai surut. Warga sebagian mengungsi ke Posko Bencana Koramil/11 Ngabang. Ada 12 jiwa mengungsi di posko tersebut. Akibat banjir, sampan pun kini naik ke jalan. MIFTA HULKHAIR/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Warga Masih Bertahan di Rumah

NGABANG – Banjir kiriman dari daerah hulu Sungai Landak tiba di Ngabang. Sempat meninggi pada Minggu (9/6) malam, namun debit air mulai menurun Senin (10/6) siang. Sebagian besar masyarakat pun memilih untuk bertahan di rumahnya masing-masing.

Berdasarkan pantauan Pontianak Post, Senin (10/6) di Desa Hilir Tengah, Hilir Kantor dan Desa Raja Kecamatan Ngabang masih tergenang banjir dengan ketinggian bervariasi. Ketinggian air di perkarangan dan jalan perumahan sekitar 10 cm hingga 2,5 Meter. Sedangkan ketinggian air dalam rumah antara 20 cm sampai 1 Meter. 

Jalan utama di Desa Raja masih belum dapat dilalui kendaraan bermotor.

BPBD Landak pun menyiagakan perahu karet bagi warga yang hendak mengevakuasi brang-barang dari rumah mereka. Ditemui Senin (10/6) siang di posko pengungsian banjir di Koramil/11 Ngabang mengatakan Kecamatan Ngabang banjir karena air kiriman dari Kuala Behe, Air Besar dan Meranti. Kemudian banjir di Ngabang mulai terjadi Sabu (8/6) siang.

Dengan kondisi itu, beberapa desa yakni Desa Munggu, Desa Ambarang, Desa Hilir Kantor, Desa Raja dan Desa Hilir Tengah. Di Desa Mungguk didapat data 1370 jiwa terdampak banjir. Ketinggian air tidak merata. Ada yang ketinggian antara 10 cm sampai 2,5 meter di pekarangan. Kemudian di dalam rumah mulai 0,3 cm sampai 1,5 meter.

“Air tertinggi sekarang di Dusun Pesayangan Desa Raja. Karena mereka berada di daerah pinggiran sungai. Daerah mereka yang pertama kali terendam banjir,” katanya.

Banjir juga menggenangi sejumlah wilayah lain. Di Kecamatan Sebangki, Desa Kuala Takah tepatnya di Dusun Kuala Takah mulai terndam banjir kiriman. Kenaikan air sekitar 1 meter. Menurut laporan warga setempat, Sungai Takah dan Sungai Bidana mulai meluap ke kebun karet mereka, sehingga mereka tidak bisa bekerja seperti biasanya.

“Sekitar 32 KK terendam di Kuala Takah,” katanya.

Selain itu, banjir turut merendam lima dusun di Desa Kuala Behe. Dusun Sejaya 115 KK, Dusun Nyawan 100 KK, Dusun Senuang 30 kk, Dusun Kandis 95 KK, Dusun Belimbing 80 KK. Total 520 KK terdampak. Dengan sejumlah pusat aktivitas masyarakat ikut terendam. Sementara di Desa Paku Raya, Dusun Paku Raya 154 KK dengan ketinggian air 1-2 meter, Dusun Jawat 46 KK 1-1,5 meter.

Akibat dari itu, tidak semua masyarakat mengungsi ke posko pengungsian yang telah disediakan Pemkab. Termasuk di Ngabang sekarang, mereka lebih memilih berdiam diri di rumah karena merasa aman di lantai dua rumah masing-masing. “Mereka juga membuat barak untuk mereka bisa terhindar dari air,” terang Banda.

Ia pun mengimbau kepada seluruh Kepala Desa untuk segera mendata warganya yang terdampak banjir. Hal itu menurutnya dapat membantu kerja BPBD untuk mendistribusikan berbagai bantuan. Mulai dari evakuasi hingga bahan makanan. Semua bantuan akan disalurkan secara bertahap mulai dari desa terparah.

Bantuan untuk para korban terdampak banjir pun diakuinya mulai mengalir dari berbagai pihak. Kesemuanya akan dibagikan sesuai porsi yang telah ditentukan pihaknya. Pihaknya juga telah menghubungi SKPD terkait menyoal bantuan yang dapat diberikan kepada warga.

“Kami minta warga untuk bersabar. Semuanya tetap akan mendapatkan bantuan, tapi tidak bisa cepat,” katanya.

Hingga Senin (10/6) siang baru 12 jiwa yang mengungsi di Posko Bencana Koramil/11 Ngabang. Tiga Keluarga itu berasal dari Dusun Tanjung. Hana (41) salah seorang pengungsi mengatakan, mereka dievakuasi pada Minggu (9/6) malam menggunakan perahu. Sekitar pukul 22.30 WIB air semakin tinggi dengan cepat.

“Di dalam rumah air sampai segini (menunjuk pinggang),” katanya sambil memeragakan tinggi air.

Tiga keluarga tersebut, katanya, terpaksa mengungsi lantaran tidak memiliki lantai dua di rumah mereka. Sementara keluarga lain, masih memilih bertahan di rumah masing-masing atau rumah tetangga. “Ada lantai dua, tapi kami tetap tidak berani. Takut roboh kalau untuk menampung semuanya,” tambahnya.

Selama tinggal di posko, para pengungsi mendapatkan bantuan berupa alas tidur, alat masak hingga sembako. “Alhamdulillah masih bisa masak di sini, walaupun seadanya harus berbagi,” tutup Hana.

Polsek dan Asrama Terendam

Hari pertama masuk kerja, seluruh personil Polsek Ngabang laksanakan apel pagi di atas genangan air. Senin (10/6). Akibat dampak bencana banjir, kondisi Polsek Ngabang dan asramanya hingga saat ini masih digenangi air.  Hak ini diakibatkan adanya banjir kiriman dari wilayah perhuluan. Dengan bertelanjang kaki dan celana yg digulung setinggi lutut apel tetap dilaksanakan. Menurutnya,Ini adalah moment pertama bagi Kapolsek Ngabang Kompol Bradanata Sembiring melaksanakan apel diatas genangan air.

"apel sudah merupakan kewajiban, dengan kondisi seperti inipun kita tetap laksanakan apel, karena melalui apel kita dapat berbagi informasi," tutur pria berdarah Batak yang akrab disapa Pak Sembiring dan baru bertugas di Polsek Ngabang selama dua minggu.

Usai pelaksanaan apel, Kapolsek langsung mengelar halal bil halal saling bersalaman sesama personil Polsek Ngabang. "kebetulan ini masih suasana lebaran, dengan momen ini mari kita ikat erat kerukunan dan kekompakan kita dengan saling berjabatan dan maaf memaafkan," ucapnya ramah.

Mandor Surut

Terpisah, Kapolres Landak AKBP Gede Bowo Imantio memastikan bahwa air sungai mandor berangsur-angsur surut. Saat ini air sudah dalam keadaan normal kembali serta tidak adanya rumah warga yang terletak dibantaran sungai yang terendam banjir.

"Saya memastikan langsung apakah air meningkat atau surut dan saat ini air sudah surut dan tidak ada lagi rumah warga yang terendam banjir dan ketinggian ari dari dasar sungai saat ini diperkirakan 1,5 m s/d 2 meter dan ini dapat dikatakan normal," ucapnya saat mengunjungi lokasi banjir di Desa Mandor, Minggu (9/6) malam.

Kapolres juga menjelaskan bahwa tidak ada rumah warga yang hanyut saat banjir bandang desa mandor berberapa waktu lalu namun ada salah satu rumah warga yang terletak persis ditepi bantaran sungai mandor yang mengalami kerusakan dan hampir roboh akibat dampak banjir tersebut.

"Untuk rumah yang dikabarkan hanyut serta 268 KK warga mengungsi tidak benar adanya,” katanya. (mif)

Berita Terkait