Banjir Kepung 14 Desa di Kabupaten Landak

Banjir Kepung 14 Desa di Kabupaten Landak

  Minggu, 17 February 2019 09:29
BERTAHAN: Warga Desa Hilir Kantor memilih bertahan di tengah kepungan banjir sejak Jumat (15/2) malam. MIFTAHULKHAIR/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Ketinggian Air Capai Dua Meter, Warga Terpaksa Mengungsi 

Banjir melanda sedikitnya 14 desa di tiga kecamatan di Kabupaten Landak sejak Kamis (15/2) lalu.  Ketinggian air bervariasi tergantung lokasi, mulai dari setengah meter hingga dua meter. Banyak warga yang mengungsi. Namun, sebagian memilih tetap bertahan di rumah masing-masing. 

MIFTAHUL KHAIR, Ngabang

WARGA yang menjadi korban banjir saat ini membutuhkan uluran tangan. Bantuan yang dibutuhkan utamanya adalah bahan makanan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Landak, Banda Kolaga, mengatakan banjir ini terjadi akibat intensitas hujan yang cukup tinggi di Landak sejak Rabu (13/2) lalu. 

Ada beberapa kecamatan yang mengalami banjir. Di Kecamatan Air Besar meliputi beberapa desa, yakni Desa Serimbu, Desa Jambu, Desa Sekendal, dan Desa Semuntik. Menurutnya, tim BPBD sudah turun dengan perahu karet untuk melakukan pengamanan banjir di Air Besar. Akan tetapi mereka masih tertahan di Desa Semuntik. “Sekendal, Jambu, dan Serimbu sudah mulai aman,” katanya saat dihubungi, Sabtu (16/2) sore.

Air dari hulu tersebut lalu mengarah ke Kecamatan Kuala Behe, terutama di desa yang berada di pinggiran sungai. Di Desa Kuala Behe, kedalaman air sekitar 50-60 cm dan sudah masuk ke rumah penduduk. Sementara di Desa Paku Raya kedalamannya hingga dua meter. Air pun masuk ke rumah warga dengan ketinggian satu sampai satu setengah meter. 

Selain itu, banjir juga melanda Desa Nyanyom. “Pengungsian mereka rata-rata ke rumah keluarga dan tetangga yang tinggi,” katanya. Sementara di Desa Raja dan Desa Hilir Kantor, ketinggian air pun mencapai dua meter. Warga terpaksa mengungsi ke Koramil 11 Ngabang sejak Jumat (15/2) malam. Sementara warga  lain memilih untuk menetap di rumahnya masing-masing atau menginap di rumah tetangga. “Ada 23 KK atau 74 orang dari Desa Hilir Kantor dan Desa Hilir Tengah yang diungsikan ke Koramil,” katanya.

BPBD, TNI, Tagana dan warga lain turun tangan membantu para pengungsi. Mereka mendapatkan bantuan sembako, seperti beras, sayur dan mi instan dari Koramil. Bantuan yang didapat yakni dua karung beras, mi instan, 10 kaleng ikan sarden, perlengkapan alat masak dan matras 50 lembar. 

“Iya kita ada posko banjir di Koramil Ngabang sejak Jumat (15/2) sore. Sementara ini juga ada sedikit bantuan sembako,” katanya. Terhadap hal ini, ia kembali mengingatkan kepada masyarakat yang berada di daerah hilir sungai, terutama di Kecamatan Sebangki agar waspada banjir kiriman. 

Dari pantauan Pontianak Post, hingga Hingga Sabtu (16/2) sore, ketinggian air di Desa Raja, Desa Hilir Kantor dan Desa Hilir Tengah, Kecamatan Ngabang mencapai satu hingga dua meter. Hingga saat ini pihak Pemkab Landak melalui BPBD telah mendirikan posko pengungsian di Aula Koramil Ngabang. Banjir juga membuat jalan raya Desa Raja tak bisa dilalui kendaraan bermotor. 

Meskipun dilanda banjir, sebagian besar warga tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Hanya ada kekhawatiran apabila debit air tiba-tiba bertambah di malam hari. "Kita takut air yang datangnya malam hari, takut tak sempat bekemas barang-barang, terutama barang elektronik. Kena air bisa rusak " tutur Yitno salah satu warga Desa Hilir Tengah. 

"Sudah biasa seperti ini Pak. Jadi warga sudah bersiap dalam antisipasi banjir, seperti mengevakuasi barang-barang dll, karena bisa dibilang hampir tiap tahun banjirnya," ujarnya lagi.

Sementara Kepala Dusun Tanjung, Supiadi Ikal mengatakan ketinggian di wilayahnya mencapai satu hingga dua meter. Air sudah naik sejak Kamis (14/2) malam. “Dalam satu malam meninggi airnya,” kata dia. Sebagian besar warga mengungsi tetapi ada juga yang menetap untuk menjaga barang berharga di rumah. 

“Kami dari dusun meminta warga sebisa mungkin untuk mengungsi. Tapi mereka takut rumahnya kemalingan karena tidak banyak barang yang bisa diselamatkan,” katanya. Hingga Sabtu (16/2) malam, belum ada tanda-tanda air akan surut. “Mudah-mudahan tidak naik lagi lah,” katanya. 

Warga desa masih berjaga-jaga akan banjir kiriman dari hulu sungai. “Karena kami mendengar kabar banjir di Kuala Behe sudah surut. Otomatis, air dari sana akan ke sini,” katanya lagi.

Ditanya mengenai kondisi sekarang, menurutnya para pengungsi memang sangat perlu bantuan, khususnya sembako. “Terutama untuk yang mengungsi ini mereka tak bisa masak karena banjir,” tutupnya.(*) 

Berita Terkait