Bangun PLTS Serta Pengembangan Smart City

Bangun PLTS Serta Pengembangan Smart City

  Rabu, 28 September 2016 09:30
MoU : Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono saat penandatanganan MoU dengan perusahaan Tiongkok dan PT Inti, Selasa (27/9).

Berita Terkait

Pemkot Pontianak resmi menjalin kerja sama dengan Shanghai Electric Group Co Ltd dan Zhong Sheng Hua Tai International Energy Co Ltd untuk pengelolaan sampah menjadi energi listrik. Selain itu untuk pengembangan smart city kota ini juga bekerja sama dengan salah satu BUMN, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti).

Kerja sama tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, Zhi Qiang Gu dari Shanghai Electric dan Direktur Bisnis PT Inti, Adiaris di Hotel Grand Kartika, Selasa (27/9).

Terkait pengelolaan sampah menjadi energi listrik, dalam MoU disebutkan rencana  pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) yang terletak di Tempat Pengelolaan Akhir Sampah (TPAS) Batu Layang. “Ke depan, setelah penandatanganan MoU ini, kami akan melakukan pembicaraan lebih detail, berupa feasibility study (FS) serta kelayakan untuk program pembangunan PLTS tersebut,” ujar Edi.

Kerja sama dengan perusahaan yang berkedudukan di Tiongkok ini, lanjut dia, berawal dari kajian-kajian teknis maupun non teknis yang dilakukan beberapa waktu silam. Inti dari kesepakatan tersebut, diharapkan pengelolaan sampah di Kota Pontianak akan semakin baik. Bila hal ini terwujud, Edi optimis persoalan sampah di Pontianak akan tuntas plus mendapat suplai daya listrik sekitar delapan megawatt sampai 10 megawatt.

Meskipun ketersediaan daya listrik tersebut diperkirakan belum bisa mengcover kebutuhan masyarakat Kota Pontianak, dirinya menilai daya listrik ini paling tidak sebagai sumbangsih untuk pasokan daya listrik bagi PLN.

Edi berharap, melalui kerja sama ini, Kota Pontianak lebih bersih dalam pengelolaan sampah. Apalagi, dengan kondisi topografi  di TPA Batulayang di mana sulit bila menerapkan sanitary landfill karena berlahan gambut. “Dengan sampah diolah menjadi energi listrik, ini akan lebih efektif dan bermanfaat,” ucapnya.

Tidak hanya itu, bila proyek kerja sama ini berhasil, TPA akan menjadi salah satu destinasi unggulan karena dikelola menjadi PLTS sebagai pusat edukasi yang ramah lingkungan.

Sementara untuk jenis sampah, Edi menyebut, sampah yang diolah untuk menjadi sumber  energi listrik berasal dari berbagai jenis sampah secara keseluruhan. Untuk menghasilkan sumber daya listrik sebesar itu, kapasitas sampah yang dibutuhkan sebanyak 1.000 ton per hari. Sementara rata-rata produksi sampah di Kota Pontianak hanya sekitar 350 ton per hari. Tapi pihaknya optimis hal itu bisa diupayakan. “Kekurangan-kekurangan sampah ini akan ditambah dari sampah hasil olahan sawit dan lainnya,” sebutnya.

Presiden Shanghai Electric, Zhi Qiang Gu, menyatakan, proyek ini akan ditangani Shanghai Electric secara keseluruhan, mulai dari desain, hingga pelaksanaan di lapangan. Perusahaan yang dipimpinnya ini merupakan perusahaan di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang membantu mencarikan solusi bagaimana pengelolaan sampah menjadi energi.  “Proyek ini merupakan investasi bersama antara Pemkot dengan perusahaan sehingga dalam pengelolaannya dilakukan secara bersama-sama, demikian pula pembagian keuntungannya,” jelasnya melalui penerjemah.(bar)

Berita Terkait