Bangun Kinerja dengan Memahami Karakter

Bangun Kinerja dengan Memahami Karakter

  Senin, 5 February 2018 10:00

Berita Terkait

Sebuah perusahaan tak hanya mampu berkembang dan tumbuh dengan sehat, jika hanya mengandalkan jumlah produksi yang banyak. Hubungan yang baik antarpegawai juga menjadi elemen penting dalam mencapai keberhasilan. Sumber daya manusia pun jadi hal yang sangat vital,  bahkan investasi yang tak ternilai dalam perusahaan.

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

 “It’s more likely you spend most of your time at work”. Ungkapan tersebut sangat pas menggambarkan kondisi pekerja zaman ini. Ketika seseorang memutuskan mengabdi pada sebuah perusahaan, kehidupannya akan berubah 180 derajat. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di tempat bekerja. Interaksi yang terjalin dengan rekan kerja terasa lebih intens. Tak heran jika menjalin hubungan dengan rekan kerja adalah hal yang mutlak.

Menjalin hubungan yang baik dengan rekan kerja tidak hanya bermanfaat untuk menyelesaikan semua tugas kerja dengan lancar. Namun, juga bisa membantu agar bersemangat dalam bekerja. Hubungan baik ini juga memberikan kenyamanan dalam bekerja. 

Jika ada rekan kerja yang tidak suka dengan sikap Anda, ataupun sebaliknya, hubungan keduanya menjadi terganggu.

Ketidaknyamanan yang dirasakan turut mempengaruhi kinerja keduanya di perusahaan. Seperti yang dialami Rahadi. Pegawai swasta di sebuah kantor ternama ini merasa kesulitan saat bekerja sama dengan rekan sekantornya. Sifat rekan kerjanya yang terlalu menggampangkan sesuatu, tapi tidak menunjukkan hasil kerja yang maksimal, membuat Rahadi kerap dihinggapi rasa jengkel. Terkadang agar menutupi rasa jengkel, ia memilih menghindar.

“Takut saja dari rasa jengkel akan timbul perasaan sensitif lainnya, hingga tidak mampu menahan emosi. Tidak baik juga bagi psikologis diri,” curhatnya.

Psikolog Romi Arif Rianto, S.Psi mengatakan menciptakan hubungan atau relasi yang baik antar rekan kerja memang bukan hal yang mudah. Sudah pasti di setiap perusahaan ada satu dua karyawan yang punya sikap negatif kepada sesama rekan kerjanya. Alhasil, sikap inilah yang terkadang mempengaruhi kinerja tim atau perusahaan pada umumnya. Dampak buruk lain yang dapat terjadi dapat menyebabkan adanya pengajuan putus hubungan kerja (resign).

Untuk menghindari dampak buruk tersebut, perlu pemahaman karakter dan kepribadian. Pemahaman ini membuat seseorang mengerti cara menghadapi perilaku rekan kerja, atau keinginannya.

Setiap orang diciptakan dengan sifat dan karakter yang berbeda. Dan, tidak semua orang mampu menerima dan memahami karakter yang ada pada diri orang lain. Namun, jika bisa  membuat suasana kinerja yang aman dan nyaman, mengapa tidak dilakukan.

“Atau, jika memang kesulitan menghadapi rekan kerja, Anda bisa bekerja sesuai dengan porsi dan job desk yang dimiliki,” ujarnya.

Psikolog RSJ Provinsi Kalbar ini menyarankan agar berusaha menjalin kerja sama yang baik, meski dirasa sulit menghindari kondisi yang tidak kondusif, atau tetap dihampiri perselisihan. Bersikaplah dewasa dan coba mengatasinya dengan mengandalkan pendekatan berbasis kinerja. Anda dan rekan kerja hanya akan berinteraksi selama mengerjakan proyek secara bersama-sama. Tunjukkan jiwa profesionalitas dalam bekerja, walau ada pemberontakan di dalam hati.

Romi menganjurkan untuk saling mengintrospeksi diri, khususnya dalam memahami perselisihan dan pertikaian yang ada. Apakah perselisihan dan pertikaian ini bersifat vital, atau hanya sekadar perbedaan pendapat. Begitu pula melihat sudut cara kerja, tata kerja, serta sesuatu yang bersifat pribadi. Mungkin ada dari beberapa hal tersebut yang membuat Anda dan rekan kerap berselisih.

“Tidak jarang ada sikap atau perilaku rekan kerja yang mungkin ia anggap biasa dilakukan ke orang lain, namun tidak bagi pribadi seseorang. Sehingga, ia merasa tersinggung dan tersulut amarah,” ujar Romi.

Romi mencontohkan ada dua karyawan. Karyawan A memiliki anggapan rekan kerjanya kurang sopan, tersinggung, dan tidak dianggap, karena mengambil barang di mejanya tanpa mendapatkan ijin A lebih dulu. Walaupun, A mengetahui rekan kerjanya memang memiliki sifat dan perilaku demikian. Jika terlalu lama didiamkan, hal ini akan menyebabkan konflik yang besar.

“Padahal masalah seperti ini bisa dikategorikan tidak besar, dan bisa dibicarakan dengan baik-baik dan bahasa yang nyaman,” ungkapnya.

Atau, misalkan A memiliki sikap sistematis dalam bekerja, sedangkan B berdasarkan prioritas. Ada kalanya pemimpin menginginkan bawahannya bekerja sama agar mendapatkan hasil maksimal. Namun, perilakunya yang ingin lebih menonjol dibanding rekannya, membuat keinginan dan tujuan pemimpin tak dapat tercapai. Disinilah kompentensi pemimpin juga dituntut untuk dapat mengolah konflik yang ada. Tentunya agar semua dapat terlaksana dan optimal.  

Sekiranya bawahan tidak mampu menyelesaikan secara individu,  pemimpin bisa menjadi fasilitator dalam memperbaiki hubungan antar karyawan. Pemimpin bisa melakukan sesi mediasi terhadap bawahan yang memiliki konflik. Meminta keduanya saling mengutarakan masalah, dan bersama-sama mencari solusi. Romi mengingatkan, seorang pemimpin juga memegang andil dalam menciptakan suasana kerja yang nyaman dan aman.

“Buatlah kesepakatan bersama, sehingga jalinan hubungan bawahan satu sama lain dapat berjalan baik,” pungkasnya.**

 

Berita Terkait