Baiknya Pileg dan Pilpres Dipisah, Ini Empat Alasannya

Baiknya Pileg dan Pilpres Dipisah, Ini Empat Alasannya

  Kamis, 18 April 2019 16:18
Hasil perhitungan cepat belum membuat kedua pasangan calon presiden puas dengan perolehan suara. Jokowi diunggulkan oleh hasil hitung cepat sedangkan Prabowo-Sandi mengklaim menang 62 persen dari hitungan suara ril pihak mereka. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Berita Terkait

JAKARTA - Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny Januar Ali atau Denny JA, mengusulkan pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) dipisah lagi seperti sebelumnya.

Menurut Denny, pileg dan pilpres serentak ternyata membawa efek buruk terhadap kultur politik. "Jika presiden digabung pileg, maka kita lihat lebih detail buruknya kultur politik yang akan tercipta," kata Denny JA di kantornya, Jakarta, Kamis (18/4).

Pria berkacamata ini mengemukakan empat alasan perlu perceraian pileg dan pilpres. Pertama, pemilu serentak menyebabkan pileg menjadi anak tiri. "Kami melihat 70 persen percakapan publik lebih ke pemilihan presiden. Pileg jadi anak tiri, hanya 30 persen," ungkap Denny.

Menurut Denny, terjadi perbedaan antara golput antara pileg dan pilpres. Berdasar quick count LSI Denny JA, golput pilpres hanya 19,27 persen, dan golput pileg 30,05 persen.

"Kami melihat mereka yang datang ke TPS fokus ke presiden tetapi tidak ke partai politik," katanya.

Kedua, kata Denny, membuka kultur pengkhianatan terhadap parpol. Ketika pileg dan pilpres digabung, caleg tidak hanya memperjuangkan dirinya tetapi juga capres.

Dalam realitas politik, ketika ke dapil dan capres yang diusung partai tidak populer, maka caleg akan melakukan manuver. Bisa jadi, caleg tersebut tidak memperjuangkan atau mengampanyekan capres yang diusung partainya.

Ketiga, sambung Denny, hanya partai yang terasosiasi dengan capres mendapat berkah positif seperti yang diperoleh Gerindra, PDIP, PKB. "Kami melihat data ada kemungkinan Golkar dalam sejarahnya tidak berada di urutan kedua. Nomor satu PDIP karena dekat dengan Jokowi dan Gerindra kedua karena dekat Prabowo Subianto. Jadi, untuk Golkar masih di posisi abu-abu, bisa nomor dua atau tiga," jelasnya.

Keempat, Denny menegaskan, para caleg akan tenggelam. Menurut dia, motif pemilih caleg semakin kurang karena ruang publik lebih banyak ke persoalan capres dan cawapres. "Akibatnya nama caleg tenggelam," tegas Denny.

Karena itu, Denny menegaskan eksperimen kawin campur pileg dan pilpres ini tidak mendorong kultur yang sehat dalam demokrasi dan politik.

"Kalau bisa bisa ini pertama dan terakhir (pemilu serentak)," tegasnya. (boy/jpnn)

Berita Terkait