Bahasa Sastra dan Bahasa dalam Sastra

Bahasa Sastra dan Bahasa dalam Sastra

  Kamis, 29 September 2016 09:30   2,256

Oleh: Khairul Fuad

 

SISTEM makna tingkat kedua second-order semiotic system, menyaran kepada bahasa sastra. Bahasa tersebut bukan persis sama dengan arti pada umumnya, melainkan lebih menyaran pada makna intensional, yaitu makna yang ditambahkan.  Unsur bahasa sastra mengalami  “ketegangan” antara pemahaman konvensi di satu pihak dengan penyimpangan dan pelanggaran konvensi di pihak lain (Pradopo, 1995: 220). Yang sering distilahkan dengan bahasa bersayap.

Oleh karena itu, bahasa sastra perlu memperhatikan beberapa faktor sebagai daya-dukung sebuah karya sastra. Pemerolehan bahasa (diksi) dalam lingkup sastra diupayakan untuk mendapatkan efek tertentu, yang diistilahkan oleh Horitius dengan keindahan. Bahasa sastra hakikatnya tidak bisa dipahami sebagai bahasa keseharian atau pada umumnya, tetapi dipahami sebagai bahasa yang mengandung latar tertentu.

Kain Tilam cerpen karya Yusach Ananda (DKKB, 1998: 80) mengandung dimensi yang luas terkait dengan berbagai latar dari pengarang dan cerpen itu. Kain tilam bukan semata bahasa yang digunakan oleh pengarangnya, melainkan terdapat unsur dengan pertimbangan-pertimbangan sastra. Sebagai wujud bahasa sastra, kain tilam dengan dirinya sendiri telah dipenuhi dengan kehidupan dan realitas (Hardjana, 1991: 25).

Ditambah lagi, Hardjana (1991: 25) mengatakan bahwa karya seniman tertentu (baca: sastrawan) dari aliran, zaman, dan kebudayaan tertentu tidak lepas dari rangkaian sejarah. Kain Tilam Yusach Ananda tidak bisa dipahami sebagai bahasa semata jika tidak diikutsertakan berbagai aspek yang terkait dalam rangkaian sejarah. Bahasa sastra merupakan wujud yang utuh dan terangkai secara sistematis dalam sebuah genre sastra tertentu yang membangunnya.

Kupu-kupu memiliki dimensi yang luas jika terkait dengan bahasa sastra, tidak bisa dipahami sesuai arti pada umumnya. Kupu-Kupu yang diangkat oleh Odhy’s (alm) (2006: 37) dalam puisinya merupakan makna dengan dimensi yang luas dan terangkai dalam satu-kesatuan yang utuh. Begitu juga, kupu-kupu milik Odhy’s akan berbeda sama-sekali dengan kupu-kupu milik Pradono misalnya. Terselip ruang kebatinan yang sama sekali berbeda.

Membangun bahasa sastra adalah membangun intimasi yang terkait erat dengan dimensi-dimensi subtil dan renik. Bahasa yang sama tidak bisa dianggap sama saat dalam milieu ranah sastra, masing-masing memiliki cakupan utuh dikarenakan berdiri-sendiri, tidak terkait satu dengan yang lain sama sekali. Keunikan bahasa sastra menandakan bahwa segala aspek yang dimunculkannya memang unik dan menarik.

Sementara itu, bahasa dalam sastra terdapat perbedaan dengan bahasa sastra, terkait erat penggunaan bahasa apapun sebagai tuturan sastra. Bahasa dalam sastra merupakan sarana atau media tutur sastra sehingga perlu diperhatikan kaidah-kaidah yang diatur oleh bahasa tersebut. Seyogianya tidak serampangan atau sembarangan penggunaan bahasa tersebut saat menelurkan karya sastra. Terutama, menelurkan cerpen atau novel, hanya kadang tidak berlaku pada puisi.

Dalam konteks sastra keindonesiaan diseyogiakan pumpunan dalam penggunaan bahasa Indonesia sesuai kaidah yang berlaku, yaitu Pedoman Ejaan Umum Bahasa Indonesia (PEUBI). Dengan demikian, penciptaan karya sastra tetap diperhatikan pemerolehan bahasa yang sesuai kaidah meski terkadang menerajang kaidah yang berlaku karena kebutuhan tertentu. Langkah seperti ini akan memberikan nilai tertentu terhadap karya sastra yang diciptakan.

Lebih lanjut lagi, penulis-penulis sastra tentunya telah melampaui ranah kebahasaan, setidaknya dalam lingkup tata-tulis yang semestinya. Mengingat, sastra merupakan sistem kedua setelah sistem bahasa sehingga sebagai sistem pertama telah dipahami dengan baik. Bahasa dalam sastra merupakan unsur yang penting untuk menempatkan kode-kode bahasa sastra dalam rangkaian wacana yang utuh. Pada gilirannya, kode terdapat ruang kontekstual tafsirannya.

Bahasa dalam sastra seharusnya ditempuh untuk mengantarkan kode-kode bahasa sastra yang tersembunyi agar tidak tunabaca. Piranti-piranti lunak bahasa, setidaknya seperti kata, kalimat, paragraf, dan wacana seharusnya dibangun secara utuh-inheren. Pada gilirannya, pembacaan dan keterbacaan karya sastra akan mudah diperoleh secara sangkil dan mangkus. Asa yang tetap terjaga, bahasa sastra dengan kodenya tersusun rapi melalui bahasa dalam sastra.      

Sastra sebagai produk literasi harus mengalami proses literasi karena faktor kebutuhan untuk dibaca orang lain (baca: pembaca). Jika tidak mengindahkan bahasa sebagai piranti lunak infrastruktur, sastra sebagai produk literasi akan mengalami kegagalan. Dengan mengindahkan bahasa pun sebenarnya tidak menciderai kebebasan para penulis sastra, tinggal kelihaiannya meramu apik bahasa sastra yang akan dituangkan melalui bahasa dalam sastra.(*)

 

*) Peneliti sastra Balai Bahasa Kalbar