Bagasi Berbayar Pengaruhi Omzet Sektor Wista

Bagasi Berbayar Pengaruhi Omzet Sektor Wista

  Rabu, 20 March 2019 09:58

Berita Terkait

PONTIANAK – Sejumlah pihak terus meminta peninjauan kebijakan bagasi berbayar. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak Andreas Acui Simanjaya mengatakan, kebijakan bagasi pesawat berbayar menghasilkan dampak yang merugikan pertumbuhan ekonomi di daerah. 

“Hal ini terindikasi dari menurut nya omzet penjualan oleh oleh yang kian menyusut hanya tinggal berkisar 30 persen  saja,” ujarnya kepada Pontianak Post, kemarin (19/3).

Dia menuturkan, fenomena ini terlihat dari pekerja bagian packing yang biasanya berjumlah puluhan orang dan bekerja dengan kapasitas penuh kini lebih banyak duduk menunggu order packing. Dunia pariwisata juga terimbas langsung.

“Penjual oleh-oleh yang di kota Pontianak di seputaran PSP, depan kaisar dan sepanjang jalan Gajahmada mengaku bisnis menjadi berangsur lesu  sejak di terapkan nya bagasi pesawat berbayar. Menurut saya kondisi ini berdampak juga pada pelaku UMKM yang mengandalkan toko penjual oleh oleh sebagai outlet utamanya,” imbuhnya.

Dampak turunan dari bagasi berbayar ini akan segera menyentuk sektor lain. Dia menyebutkan, penurunan permintaan hasil produksi UMKM mengakibatkan berkurangnya penyerapan bahan baku yang biasanya dipakai misalnya produk pertanian dan Nelayan.

Tentunya hal ini membawa dampak serius pada kesejahteraan masyarakat Kalbar secara umum. Sebab, katanya, penurunan penghasilan suatu kelompok akan menurunkan juga daya beli pada sektor lain, sehingga seluruh jaringan dan sistem ekonomi bisa terpengaruh.

“Penolakan untuk di beri oleh-oleh juga dilakukan oleh orang orang yang biasanya di belikan oleh oleh oleh koleganya. Sebab pemberian oleh oleh pada akhirnya menghadirkan kewajiban membayar bagasi di pesawat. Diharapkan pemerintah melalui dinas terkait bisa segera menyelesaikan hal hal yang berdampak negatif bagi masyarakat dengan regulasi yang tepat guna,” papar dua..

Dia menilai, industri penerbangan juga berfungsi sebagai faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi suatu daerah dengan memberikan beberapa kemudahan melalui kebijakan perusahaan penerbangan. “Misalnya berfungsi sebagai cargo cepat untuk komoditas yang di hasilkan di Kalimantan Barat sehingga bisa di pasarkan ke daerah lain dalam keadaan yang segar dan bermutu baik. Contoh durian Medan bisa terkenal di Jakarta karena dukungan maskapai penerbangan juga,” jelas dia.

Ketua Asita Kalbar, Nugroho Henray Ekasaputra juga mengkritisi penerapan  bagasi berbayar terebut. Dia menyebut bagasi berbayar sebagai bentuk kenaikan tarif terselubung. Dia menilai penerapan bagasi berbayar tersebut harus dikaji ulang.Pengenaan bagasi berbayar pengeluaran konsumen untuk biaya transportasi pesawat menjadi naik. Selain itu, sektor pariwisata juga akan terpukul. Selain berpotensi mengurangi minat orang untuk bepergian, pengurangan bagasi akan membuat belanja oleh-oleh sepi.

“Ujungnya sektor UMKM di bidang oleh-oleh juga terpukul.  mereka datang hanya menyaksikan even saja, tapi untuk berbelanja orang enggan, sebab khawatir bagasi yang dibawa melebihi dan harus mengeluarkan biaya lagi," katanya. 

Terlebih, Kalbar telah menyusun beberapa kegiatan besar di tahun ini, yang mana banyak usaha yang bergantung pada sejumlah even tersebut. Momen-momen besar, katanya, adalah waktu yang paling tepat bagi pelaku usaha untuk mempromosikan produknya.  Untuk itu, kebijakan yang dikeluarkan harus ditinjau ulang, terutama pemerintah sebagai regulator. Keberadaan wisatawan sangat dibutuhkan, terutama untuk menggerakkan sektor ekonomi masyarakat, serta menjadi pemasukan bagi pendapatan daerah.

Menurut dia, kondisi ini mengancam target kunjungan wisatawan yang ditetapkan pemerintah. “Target wisatawan asing untuk tahun ini ada 20 juta kunjungan. Sedangkan kunjungan wisatawan nusantara mencapai 270 juta. Kira-kira akan tercapai atau tidak dengan harga tiket pesawat yang mahal. Orang akan kapok ke tempat kalau mahal begini,” pungkasnya. (ars)

Berita Terkait