Ayo Makan Ikan

Ayo Makan Ikan

  Jumat, 21 December 2018 10:00

Berita Terkait

“Ayo makan ikan setiap hari. Membuat kita sehat, kuat, beromega.”

-Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan-

DALAM acara Milenial Seafood Lovers (SeaLoveMi) yang merupakan acara peringatan Hari Ikan Nasional yang jatuh pada 21 November 2018 lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mengajak para anak muda untuk lebih banyak makan ikan. Menteri Susi menjelaskan, dengan mengonsumsi banyak ikan banyak manfaat yang bisa didapatkan. Pemerintah memang sedang menggalakkan kampanye makan ikan kepada masyarakat, mengingat pula kekayaan laut Indonesia yang melimpah. 

Ikan termasuk salah satu jenis seafood yang sangat sehat untuk dikonsumsi. Ikan yang banyak ditemukan di perairan laut Indonesia termasuk Kalbar ini memiliki kandungan yang rendah lemak jenuh, tinggi protein, dan merupakan sumber penting asam lemak Omega 3.

Edi Waluyo, S.Gz, M.Gz, Ahli Gizi, mengatakan kembali pada pola makan sehari-hari. Dalam pedoman menu gizi seimbang, di dalam makanan harus mengandung sumber tenaga (karbohidrat dan lemak), sumber pembangun (zat gizi protein), serta pengatur vitamin dan mineral.

Ikan termasuk dalam sumber protein hewani laut yang memiliki peran penting sebagai sumber pembangun, karena memiliki zat gizi protein yang dibutuhkan tubuh, di samping protein nabati. Dilihat dari segi sampling protein hewani, ikan mengandung asam amino yang cukup baik.

Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak menuturkan dengan mengonsumsi ikan sebagai sumber pembangun dapat membantu pembentukan regenerasi sel dalam tubuh. Serta, membantu pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Hal inilah yang membuat ikan sangat penting dikonsumsi.

Orang dewasa juga dapat merasakan manfaat saat mengonsumsinya. Ikan yang mengandung sumber lemak tak jenuh akan menggantikan sumber lemak jenuh yang diperoleh dari daging. Omega3 dan Omega6 ikan sangat baik untuk menjaga dan memperbaiki kadar kolesterol. Asalkan cara pengolahannya tepat.

“Intinya, jangan sampai kekurangan sumber protein hewani. Dampaknya pada anak-anak jika kekurangan salah satunya adalah kekurangan gizi protein (Kwashiorkor),” sarannya.

Edi menjelaskan seluruh sumber aktivitas enzim dan metabolisme yang terjadi di dalam tubuh seluruhnya berasal dari protein. Termasuk dalam mendistribusikan vitamin ke seluruh tubuh. Selain itu, setiap mengonsumsi makanan, maka protein harus terpenuhi.

“Untuk hitungan persentase, besaran protein dalam makanan harus mencapai 10-15% dari total asupan. Dalam satu hari sekitar 3-4 porsi,” ucap Edi.

Apakah sumber protein hewani lainnya seperti daging tak baik? Edi mengatakan sumber protein hewani apapun, termasuk daging tetap baik. Tetapi, dalam mengonsumsi makanan harus bervariasi. Misalkan, hari ini mengonsumsi daging, besok bisa diganti dengan ikan atau sumber protein lainnya.

Asam amino essensial dan zat gizi mikro pada ikan yang tinggi membuatnya sangat penting dikonsumsi. Jika dikaitkan dengan stunting yang kerap dialami anak-anak, salah satu penyebab bisa dikarenakan kekurangan sumber protein, bisa karena malas mengonsumsi ikan.

“Hal inilah yang membuat menteri kelautan dan perikanan kembali menggiatkan masyarakat untuk gemar mengonsumsi ikan,” tutup Edi. (ghe)

Berita Terkait