Ayo, Kamu Bisa, Nak!

Ayo, Kamu Bisa, Nak!

  Rabu, 15 May 2019 13:46

Berita Terkait

Rasa percaya diri penting bagi setiap anak. Namun, tak semua anak memilikinya. Ada yang tumbuh dengan sikap rendah diri. Tak berani tampil untuk menunjukkan eksistensinya. 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Kurangnya rasa percaya diri membuat anak menjadi pribadi tertutup. Tak berani tampil di hadapan orang banyak. Bahkan, tak jarang merasa takut berlebihan. 

Psikolog Endah Fitriani, M.Psi, mengatakan percaya diri berkaitan erat dengan perasaan. Sehingga harus bisa berjuang dan meningkatkan kualitas diri. Yakin bahwa mampu walaupun dengan keterbatasan yang ada.

“ Terpenting, rasa percaya diri yang ada membantu diri untuk berjuang terlebih dulu dan menyerahkan hasil di akhir,” kata Endah. 

Rasa percaya diri akan membuat setiap orang jadi pribadi yang lebih kuat dan mampu menghadapi kehidupan. Termasuk pula dalam menghadapi ulangan umum yang sedang berlangsung. Ketakutan tak bisa menjawab soal mungkin akan dirasakan. Namun, bukan berarti diri terlalu berlarut dalam ketakutan tersebut. Orang tua berperan penting untuk menyemangati buah hati tercinta. 

“Orang tua bisa meminta anak untuk membentuk benteng pertahanan diri agar tetap semangat dan optimis,” ujarnya. 

Endah mengatakan orang tua bisa menanamkan dalam diri anak bahwa ia bisa mengisi ulangan dengan baik. Yakinkan bahwa soal-soal yang telah dipelajari selama ini, baik di sekolah, tempat les, maupun di rumah akan keluar saat ulangan nanti. Jangan lupa berdoa sebelum mengerjakan ulangan. Setelah selesai serahkan seluruh usaha yang telah dilakukan kepada Allah.

“Apapun hasilnya, itulah kemampuan hasil dari proses belajar yang dilakukannya selama ini,” tutur Endah.

Seringkali setelah mengerjakan ulangan anak membahas jawaban dengan teman-teman sekelasnya. Ketika merasa jawaban yang diisinya salah, ia akan berkecil hati, sedih, hingga menangis. Menurut Endah, wajar merasa kecil hati dan sedih. Orang tua harus memahami dan memberikan pengertian pada anak. 

“Katakan pada anak untuk tetap berpegang teguh bahwa selama mengisi ulangan, ia sudah mengeluarkan seluruh kemampuan dengan baik. Jangan terlalu larut dengan ulangan yang telah lewat,” ungkap Endah. 

Sebaiknya terus memacu semangat untuk mempersiapkan ulangan selanjutnya. Orang tua bisa menasehati anak untuk menghindari perilaku merugikan diri sendiri karena rasa kesal tersebut.

“Buatlah anak untuk semakin menambah pertahanan dirinya. Bahwa ia harus tetap semangat menghadapi ujian selanjutnya dengan baik,” katanya.  

Ketika hasil yang didapatkan ternyata tak sesuai dengan yang diinginkan dan diharapkan, tumbuhkan kembali rasa percaya diri dan keyakinan bahwa kedepannya nilai bisa diperbaiki kembali. Jangan menyalahkan anak. Karena dia sudah berusaha dan orang tua harus berperan untuk membesarkan hati anak.

Endah menambahkan jika rasa percaya diri berkurang, dampak buruk yang bisa saja terjadi adalah anak akan tak memiliki eksistensi diri. Ia mudah dikucilkan oleh lingkungannya. Saat ramai, anak justru merasa terasing dan berada di dunia hampa. Semakin lama, anak bisa menjadi stress hingga depresi. Kondisi semakin buruk jika orang tua tak memberikan dukungan padannya. 

“Jangan sampai orang tua justru membuat anaknya semakin merasa rendah. Karena perlu diingat, orang tua memiliki peran besar dalam membentuk rasa percaya diri pada anak,” saran Endah. **

Berita Terkait