Awal Kejayaan Portugal, Menyakitkan Tuan Rumah

Awal Kejayaan Portugal, Menyakitkan Tuan Rumah

  Selasa, 12 July 2016 10:01

Berita Terkait

SAINT-DENIS – Memiliki kultur sepak bola yang cukup kuat di Eropa, bermain di hadapan masyarakatnya sendiri, dan diperkuat oleh tim yang disebut-sebut sebagai generasi terbaik. Namun, semua itu tidak cukup untuk mengantarkan Prancis meraih trofi Euro ketiganya dinihari kemarin.

Selepas kekalahan 0-1 dari Portugal itu, tanda tanya besar pun menghantui tidak hanya masyarakat Prancis mungkin. Namun juga seluruh penggemar Les Bleus, sebutan Prancis. Apa yang menjadi faktor kekalahan mereka?

Sebab,  jika berbicara komposisi skuad, entraineur Didier Deschamps sama sekali tidak melakukan perubahan apapun.    Deschamps masih mempertahankan baik komposisi maupun formasi 4-2-3-1 yang digunakan kala memulangkan juara dunia Jerman dengan skor 2-0 di semifinal lalu.

Namun, pakar strategi yang juga editor Zonal Marking Michael Cox berpendapat, Deschamps begitu ingin mengimbangi pragmatisme yang digunakan oleh lawannya, treinador Portugal Fernando Santos.

Jadilah disel-sela pertandingan, formasi 4-2-3-1 itu berkembang menjadi 4-4-2 dengan duet striker Antoine Griezmann-Olivier Giroud. Namun, Griezmann beroperasi sedikit di belakang Giroud.

”Sepertinya kedua tim berusaha untuk mendapatkan keuntungan penguasaan bola dari posisi yang lebih rendah,” ujar Cox dalam tulisannya di The Guardian. ”Selain itu, mereka juga berusaha meminimalkan celah masing-masing untuk memperbesar peluang mencetak gol,” lanjutnya.

Sekilas tentu tidak ada yang salah dengan pemilihan taktik dari Deschamps. Namun, jurnalis ESPN Miguel Delaney mengritik, kebijakan tersebut justru menjadi bumerang baginya.Sebab, Deschamps tidak mengimbanginya dengan memilih para pemain yang bisa menunjang filosofi permainan yang ingin dipakai. 

Delaney berujar, sudah bukan rahasia jika Deschamps selalu salah dalam memilih starting line-up-nya sepanjang Euro ini. ”Kecuali mungkin saat menghadapi Republik Irlandia di 16 Besar. Saat Deschamps akhirnya menggeser Griezmann lebih ke tengah,” tuturnya.

Di laga final kemarin, keputusan Didi, sapaan Deschamps, merubah ke 4-4-2 membuat terjadi perubahan yang merugikan Les Bleus, sebutan Prancis. Di lini depan misalnya. Adanya dua striker membuat Giroud harus ”mengalah” dengan bermain sedikit melebar demi memberikan ruang lebih besar kepada Griezmann. Strategi yang sedikit tidak umum bagi targetman seperti Giroud, dan celakanya, sudah diantisipasi oleh Portugal semenjak Cristiano Ronaldo harus ditarik keluar pada menit 25.

Karena Giroud yang menjadi pemantul ditutup, otomatis Griezmann pun harus bekerja ekstrakeras dalam menyerang maupun membuka celah.Sementara di lini tengah, Paul Pogba terus diinstruksikan sebagai holding midfielder menopang Blaise Matuidi, sehingga tugas menyerang lebih banyak diserahkan kepada Moussa Sissoko.

”Sissoko tentu bukanlah pemain tanpa kualitas. Namun, dia tidak memiliki bakat secemerlang Matuidi maupun Pogba,” ulas Delaney.Masuknya Andre-Pierre Gignac dan terutama Anthony Martial di masa perpanjangan waktu memang membuat intensitas maupun pola serangan Prancis makin meningkat dan sukar diprediksi. Namun, Delaney berpendapat bahwa hal itu sudah terlambat karena posisi Prancis telah kebobolan.

”Ini menunjukkan kekalahan menyakitkan Prancis di final Euro 2016 semata-mata terjadi karena naifnya taktik yang dipakai Deschamps,” kecam Delaney. Deschamps tentu membela diri atas serangan yang diarahkan kepadanya. Dia mengatakan, gagalnya Prancis dalam mengulangi sejarah 1984 terjadi dikarenakan energi mereka yang telah terkuras saat melawan Jerman.

Laga melawan Jerman yang berakhir 8 Juli WIB hanya memberikan waktu recovery tiga hari sebelum mereka mempersiapkan final. ”Aku tidak ingin menjadikannya alasan. Namun, ada perbedaan penting antara tiga atau empat hari recovery,” terangnya dalam konferensi pers seperti dilansir Goal. ”Kami sudah mencurahkan seluruh enerji kami melawan Jerman. Jadi, jika saja kami mendapat istirahat sehari lebih lama saja, maka kami bakal lebih segar dan garang,” paparnya.

Terpisah, Sissoko mengatakan bahwa hasil di final ini bakal memberikan mereka pelajaran yang sangat berharga untuk menyambut kualifikasi Piala Dunia Rusia 2018. Di Grup A, mereka bakal mendapat tantangan dari Belanda, Swedia, Bulgaria, Belarusia, Luxembourg.

”Kami hanya sedikit tidak beruntung, dan kami menerimanya,” tutur Sissoko kepada AFP. ”Kami akan kembali dengan menjadi tim yang lebih kuat,” janji pilar Newcastle United tersebut.

Pun demikian dengan kapten sekaligus kiper Prancis, Hugo Lloris. Dia dengan legawa memberikan selamat kepada Seleccao das Quinas, julukan Portugal. ”Memang, mereka tidak menunjukkan sepak bola menyerang selama 90 menit. Namun, mereka memperlihatkan kuatnya karakter mereka dalam menginginkan trofi Euro,” papar Lloris kepada The Independent. (apu)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait