Aset Budaya, Potensi Wisata dan Ajang Silaturahmi Lintas Etnis

Aset Budaya, Potensi Wisata dan Ajang Silaturahmi Lintas Etnis

  Rabu, 6 September 2017 10:00
BAKAR WANGKANG: Seorang warga mengabadikan proses ritual pembakaran replika kapal wangkang pada puncak pelaksanaan sembahyang leluhur di Komplek Pemakaman Yayasan Bhakti Suci, Jalan Adisucipto, Kubu Raya, Selasa (5/9). HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Tradisi Ritual Bakar Wangkang bagi Warga Tionghoa

Usai melaksanakan sembahyang leluhur, masyarakat Tionghoa menggelar ritual membakar kapal wangkang. Prosesi ini dilakukan sebagai puncak tradisi sembahyang leluhur pada hari ke-15 bulan ketujuh penanggalan Imlek. Warga etnis lain pun berbondong-bondong ikut menyaksikan. 

ASHRI ISNAINI, Sungai Raya

MESKI digelar sederhana, warga Tionghoa dari Kubu Raya dan Kota Pontianak tetap antusias menyaksikan ritual bakar kapal wangkang, Selasa (5/9)  sore. Upacara ini dipusatkan di Pemakaman Umum Yayasan Bhakti Suci, Jalan Adisucipto, Sungai Raya, Kubu Raya.

Pantauan Pontianak Post, selain warga Tionghoa, banyak warga dari etnis lain turut menyaksikan puncak acara sembahyang leluhur tersebut. Hamidah, warga Sungai Raya misalnya. Ia sengaja datang menyaksikan pembakaran wangkang karena menganggap tradisi ini sangat unik. Jadi, meski bukan warga Tionghoa, Hamidah sangat tertarik. “Ritual ini jarang ada di tempat lain. Sangat unik,” ujarnya.  

Hal senada disampaikan Edi Suyanto, warga asal Pontianak. Menurut Edi, ritual bakar wangkang merupakan salah satu tradisi yang harus dilestarikan. “Makanya saya bersama istri menyempatkan untuk datang. Lagipula lokasinya tidak jauh dari kediaman kami,” kata Edi Suyanto. 

Menurutnya, ritual bakar kapal wangkang merupakan klimaks dari rangkaian sembahyang kubur atau sembahyang rampas yang rutin dilakukan setiap tahunnya oleh masyarakat Tionghoa. 

Melihat banyaknya warga yang berdatangan menyaksikan acara ini, ia berharap ritual tersebut bisa dikemas lebih baik lagi di masa depan. “Jadi tidak sekadar menyaksikan puncak ritual pembakaran kapal wangkang. Dengan datang ke sini otomatis juga bisa menjadi wadah bagi masyarakat untuk saling mempererat persaudaran dan persatuan antarsesama,” paparnya. 

Wakil Bupati Kubu Raya, Hermanus yang turut menghadiri puncak pembakaran kapal wangkang mengaku kagum atas solidaritas masyarakat setempat untuk menggelar ritual ini.  

 “Seperti diketahui masyarakat Kubu Raya ini sangat majemuk terdiri dari banyak etnis. Makanya saya harap kegiatan yang bisa merangkul banyak pihak untuk kumpul bersama seperti ini bisa lebih ditingkatkan. Dengan begitu, solidaritas, persatuan dan kesatuan kita tetap terjaga,” ucapnya. 

Lantaran cukup jarang digelar di daerah lainnya di Kalbar, Hermanus meminta Dinas Pariwisata Kubu Raya ke depan bisa mengemas ritual pembakaran kapal wangkang ini supaya lebih menarik lagi. 

Jika melihat dari animo masyarakat, Hermanus melihat ritual ini bisa menjadi salah satu potensi pengembangan wisata budaya di Kubu Raya. “Silakan panitia penyelenggara termasuk Dinas Pariwisata membuat terobosan agar bisa mengemas kegiatan atau ritual ini lebih menarik dan memiliki ciri khas unik di Kubu Raya,” ucapnya.

Dengan demikian, ia yakin ke depan ritual bakar kapal wangkang akan mengundang lebih banyak orang luar untuk datang ke Kubu Raya.

 Sementara itu, tokoh masyarakat Tionghoa  Kubu Raya, Hamdan mengatakan pihaknya akan berusaha keras untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan ritual pembakaran wangkang di kabupaten ini. Mengingat pembakaran wangkang merupakan salah satu aset budaya daerah, ke depan ia berharap pemkab dapat membantu dari segi anggaran.

“Selain swadaya masyarakat, saya berharap Pemkab Kubu Raya dapat menyisihkan lebih banyak anggaran untuk menyemarakkan penyelenggaraan upacara ini. Saya yakin dengan kian semaraknya kegiatan ini, secara tidak langsung juga bisa mengundang wisatawan luar untuk bertandang ke Kubu Raya,” pungkasnya. (*)

 

Berita Terkait