Arridho, Masjid Kuno Saksi Perkembangan Islam di Sandai

Arridho, Masjid Kuno Saksi Perkembangan Islam di Sandai

  Jumat, 25 May 2018 10:00
MASJID BERSEJARAH: Arridho merupakan salah satu masjid tua di Kabupaten Ketapang, tepatnya di Desa Sandai Kiri, Kecamatan Sandai. Masjid ini diyakini sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Indralaya. | ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Ekspedisi Ramadan di Selatan Kalbar

Setelah berdirinya Kerajaan Indralaya atau Negri Laye di Kecamatan Sandai, perkembangan Islam terus mengalami kemajuan. Masjid Arridho menjadi saksi perkembangan peradaban Islam di pedalaman Ketapang itu.

ARIEF NUGROHO, Sandai

SUARA azan menggema memanggil umat Islam untuk melaksanakan salat berjemaah. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 WIB. Siang yang terik itu pun membawa saya ke Masjid Arridho atau Al Redha di Desa Sandai Kiri, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang. Masjid ini berada di pelosok kampung atau sekitar satu kilo meter ke arah kanan dari jalan utama Kecamatan Sandai. 

Letaknya persis berada di pinggir Sungai Pawan. Jika ada orang yang belum pernah datang ke masjid ini maka dia pasti akan kebingungan. Beruntung ada seseorang yang bersedia menunjukkan arah menuju masjid tersebut. Setibanya di masjid, saya pun bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan salat zuhur berjemaah. 

Sepintas tidak ada yang aneh dalam masjid tersebut. Tidak ada kesan atau pertanda jika masjid itu merupakan peninggalan Kerajaan Indralaya. Bangunannya berdinding marmer. Ornamen kaligrafi dan tiang utama masjid tertutup papan berukir, seolah tidak ada kekhasan untuk menunjukkan masjid itu kuno.

Usai salat berjemaah, saya pun bertemu dengan Ustaz, Ahmad Husairi dan H Heri Fachrizal. Keduanya adalah pengurus masjid sekaligus tokoh agama di desa itu. Menurut cerita keduanya, Masjid Arridho atau Al Redha (dalam sebutan orang setempat) ini dibangun di pinggir Sungai Pawan, yang mana lokasinya berada beberapa ratus meter dari lokasi berdirinya masjid saat ini.

Menurut H. Heri, Masjid Arridha dibangun oleh Raden Lipe yang tak lain adalah adik dari Pangeran M Zainudin, Raja Indralaya. Beberapa tahun kemudian, masjid tersebut hancur karena abrasi sungai. Hanya empat tiang utama yang tersisa. Masjid tersebut kemudian dibangun kembali dengan letak yang berbeda (posisi sekarang). 

 "Karena mengalami abrasi, tahun 1922 masjid ini kembali dibangun. Letaknya pun pindah dari posisi yang terdahulu," kata Heri. Masih ada beberapa peninggalan masa lalu yang tersisa di masjid ini, di antaranya empat tiang dari kayu belian, beduk dan juga papan jadwal penanda salat lima waktu.

"Yang tersisa hanya empat tiang utama di depan itu, beduk sama ini," kata Heri sembari menunjukkan papan jadwal penanda salat yang terbuat dari papan. Tidak lama setelah itu, kata Heri, orang-orang mulai berdatangan dari berbagai daerah seperti Banjarmasin. Satu di antaranya adalah Gusti Hasan, yang makamnya ada di belakang masjid ini. Sejak dibangun kembali hingga saat ini, masjid tersebut sudah empat kali direhab. 

Sebelum masjid berdiri, daerah tersebut dikuasai oleh orang-orang hindu dayak. Namun setelah masuknya Islam yang ditandai oleh masuknya Kerajaan Indralaya, agama-agama yang lain mulai menyingkir dan masuk ke pedalaman.

"Masuknya pangeran Muhammad Zainudin itulah pembawa agama Islam pertama kali dengan berdirinya Kerajaan Indralaya," katanya. 

Masjid Arridha dibangun di atas wakaf tanah kerajaan. Saat ini luas bangunan masjid 20x16 meter yang dapat menampung sekitar 500 jemaah. Masjid tersebut tidak hanya digunakan untuk pelaksanaan salat tetapi juga kegiatan keagamaan lainnya, seperti pengajian, khataman Quran, tadarusan dan beberapa kegiatan lain.

"Salat lima waktu itu sudah pasti. Khusus malam Jumat tadarusan dan khataman Alquran. Untuk bulan Ramadan ini, untuk tadarusan dilakukan setiap malam," sambung Ustaz Husairi. (**)

Berita Terkait