Antrean Gas Melon Mengular

Antrean Gas Melon Mengular

  Minggu, 16 December 2018 09:21
ANTRE: Antrean warga yang hendak membeli gas LPG 3 kilogram di Kota Pemangkat, Kabupaten Sambas, kemarin pagi (15/12). Mereka terpaksa ngantre di pangkalan lantaran mahalnya harga LPG di tingkat pengecer. ARIESTONO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sejumlah daerah di Kalimantan Barat mengalami kelangkaan LPG 3 kilogram (kg). Di Pemangkat, Kabupaten Sambas, misalnya, masyarakat sampai harus bersabar dalam antrean panjang, hanya untuk membeli gas melon di pangkalan. Pasalnya, di tingkat pengecer stoknya terbatas. Kalaupun ada harganya jauh melampaui harga normal.

"KAMI rela antre karena di warung (pengecer, Red) mahal sekali. Bisa Rp25 ribu – 27 ribu pertabung. Kalau di sini harganya Rp17 ribu pertabung. Lumayan jauh bedanya kan?" kata Ernina, salah seorang pengantre kepada Pontianak Post, ditemui di sela-sela antreannya.

Menurut dia, kelangkaan LPG 3 kg ini sudah berlangsung selama sekira sebulan. Mereka sampai harus rela antre ke pangkalan. Setiap kepala keluarga, menurutnya, dijatah hanya satu tabung. Mereka masing-masing wajib membawa KTP sebagai bukti identitas diri. Nama mereka sebagai pembeli lantas ditandai, agar tidak membeli gas lagi hingga isi tabung mereka kembali habis.

Dia berharap kelangkaan gas ini segera berakhir. Sebabnya LPG adalah kebutuhan utama mereka. "Mohon kepada pemerintah dan Pertamina untuk mengatasi ini. Karena kami susah sekali harus antre seperti ini. Lebih mudah membeli beras daripada beli LPG," ucap dia.

Dari informasi yang didapat koran ini, kurangnya stok di tingkat masyarakat, ternyata tidak berbanding lurus dengan pasokan LPG bersubsidi yang telah ditambah oleh Pertamina. Tim Pengendali Inflasi Daerah belum lama ini menemukan bahwa langkanya LPG 3 kg lantaran komponen ongkos transportasi, serta selisih harga yang jauh dengan LPG non-subsidi. Ditambah lagi, gas ini banyak dikonsumsi oleh bukan orang miskon.

“Kondisi infrastruktur yang mengganggu distribusi barang serta pengaturan harga yang dilakukan oleh Pertamina hanya sampai pada tingkat pangkalan. Hal ini membuat LPG 3kg menjadi komoditas yang menggiurkan untuk mendapatkan laba,” ujar Manajer K3 KPw Bank Indonesia Kalbar Djoko Juniwarto.

Jarak antara konsumen dengan pangkalan, diakui dia, juga menjadi kendala. Kata dia, keengganan konsumen yang berhak untuk membeli ke pangkalan, membuat peluang bagi warung dan perorangan untuk menjadi pengecer dengan margin Rp2 – 3 ribu pertabung. Digambarkan dia, semakin jauh lokasi dari ibukota kabupaten, maka margin pun bisa bertambah kisaran Rp5 – 10 ribu, sehingga tak mengherankan bila di beberapa titik harga LPG 3 kg pertabung mencapai Rp30 ribu. Ditambah lagi, dia menyebutkan, disparitas harga antara LPG 3 kg dan LPG nonsubsidi membuat banyak orang yang tak layak dan restoran, turut membeli produk yang bukan haknya. “Akumulasi dari hal-hal tersebut di atas mengakibatkan berapapun kuota yang diberikan Pertamina bagi suatu daerah tidak pernah cukup. Kelangkaan gas LPG 3 kg selalu saja terjadi di mana-mana,” aku dia.

Dia mencontohkan di Kayong Utara, berdasarkan data masyarakat miskin yang berhak menggunkan LPG 3 kg berjumlah 6.511 kepala keluarga (KK). Bila asumsinya perkepala keluarga satu bulan memerlukan empat tabung, maka, menurut dia, dalam setahun dibutuhkan 312.528 tabung. Sementara itu, sebut dia, kuota yang ada sebesar 914.625 tabung atau terdapat kelebihan sebesar 602.097 tabung atau 192,65 persen.

Kepala Biro Perekonomian Pemprov Kalbar Herkulana meyebutkan hal yang sama. Menurut dia, hasil dari pengamatan lapangan dan konsultasi dengan pihak Pertamina, LPG 3 kg banyak terserap ke pengecer. Pertamina dan kepolisian pun, diakui dia, tidak bisa melakukan pengawasan ke sana, lantaran aturannya hanya sampai ke pangkalan dan agen. “Kepada siapa pengecer ini menjual LPG 3 kg, tentu tidak bisa kita ketahui, karena jumlahnya banyak,” sebut dia.

PT Pertamina Wilayah Kalbar sendiri telah menambah stok dan pasokan LPG subsidi atau tabung tiga kilogram sebesar lima persen dari kebutuhan normal menjelang Perayaan Natal dan Tahun Baru di Kalbar. Executive LPG PT Pertamina Pontianak, Sandy Rahadian, menjelaskan, sepanjang bulan November 2018, Pertamina juga telah melakukan penambahan stok dan pasokan, yakni sebanyak 38.640 tabung atau menjadi sebanyak 3.174.800 tabung dalam bulan itu. Kemudian untuk Desember 2018, stok dan pasokan kembali diperbanyak mereka menjadi 182.560 tabung atau menjadi 3.318.000 tabung.

Sandy mengimbau kepada masyarakat agar menggunakan LPG dengan hemat, dan tidak membeli LPG subsidi dengan jumlah banyak. Pembelian dengan jumlah banyak diingatkan dia akan menimbulkan masalah lainnya. "Bagi masyarakat yang tergolong mampu kami imbau agar tidak lagi menggunakan LPG subsidi, dengan beralih kepada Bright Gas 5,5 kilogram atau 12 kilogram," pungkasnya. (ars)

Berita Terkait