Antre Mengunjungi Gua Hira di Puncak Jabal Nur

Antre Mengunjungi Gua Hira di Puncak Jabal Nur

  Selasa, 27 September 2016 09:30
TEMPAT WAHYU PERTAMA: Jamaah haji asal Indonesia mendominasi antrean di mulut Gua Hira, puncak Jabal Nur, selepas subuh kemarin. FATHONI P NANDA/JAWA

Berita Terkait

MAKKAH – Jamaah haji dari berbagai negara sudah banyak yang pulang ke negara masing-masing. Meski demikian, suasana ziarah ke puncak Jabal Nur di Kota Makkah tetap sangat ramai. Sejak tengah malam hingga menjelang siang, ratusan orang silih berganti mendaki bukit yang di atasnya terdapat Gua Hira itu.

Mengunjungi gua tempat Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu itu memang sangat menguras tenaga. Bahkan pemerintah Arab Saudi tak bosan-bosannya membagikan selebaran yang isinya bahwa ziarah semacam itu bukan amalan wajib.  Namun, tetap saja bukit batu terjal dengan ketinggain 640 meter di atas permukaan laut selalu ramai dikunjungi.

”Ingin tahu saja di mana dulu Rasulullah menerima wahyu pertama kali. Memang sangat capek. Tapi rasanya sangat puas saat sampai di pincak,” tutur Bachruddin, 48, jamaah haji asal Jawa Barat yang berada di Puncak Jabal Nur selepas Subu kemarin.

Mendaki  bukit  yang terletak sekitar 6 km di sebelah Masjidil Haram itu  memang membutuhkan stamina prima. Tantangan lainnya adalah sengatan matahari dan cuaca kota Makkah yang panas. Karena itu, banyak jamaah yang menyiasati jam berkunjung ke Gua Hira dini hari sampai subuh.

Sejak memasuki perkampungan di kaki Jabal Nur, pengunjung sudah harus meniti jalanan aspal yang sangat menanjak.  Di batas akhir rumah-rumah penduduk dengan kaki bukit, para peziarah langsung dihadapkan pada tangga-tanga menuju puncak.  Bagi jamaah yang masih muda dan kuat, rute pendakian bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun kebanyakan jamaah haji menyelesaikan pendakian itu di atas satu jam. Lebih banyak istirahatnya dari pada berjalan meniti tangga dengan kemiringan bervariasi, antara 30 sampai 65 derajat.

Pada tengah malam, jamaah haji dari negara Pakistan, India, Turki, Jepang dan Tiongkok tampak mendaki dalam kelompok-kelompok kecil. Banyak di antara jamaah itu yang usianya sudah di atas 50 tahun. Sambil membawa tongkat, mereka meniti satu persatu anak tangga dengan diiringi bacaan salawat.

Sesampainya di pucak, mereka antre menuruni tangga menuju Gua Hira, sekitar 4 meter di bawah puncak Jabal Nur.  Para jamaah berdesak-desakan di depan mulut gua yang di atasnya terdapat tulisan surat Al-Alaq ayat 1 sampai 2. Teriakan-teriakan dalam bebagai bahasa meminta agar pengunjung tidak terlalu lama. 

Menjelang subuh, suara teriakan berganti dengan kata-kata dalam bahasa Indonesia. ”Gak usah salat di dalam gua Pak. Yang lain nunggu kelamaan,” teriak Saikhu, jamaah haji asal Kabupaten Malang.

Menjelang Subuh kemarin, jamaah haji Indonesia mendominasi antrean di depan gua yang hanya cukup dimasuki empat orang itu. Itu tampak dari seragam batik haji nasional yang mereka pakai.  Sebagian berebut masuk ke dalam gua, sebagian lagi puas memandangi situs sejarah itu dari atas puncak Jabal Nur.

Mengunjungi Jabal Nur memang paling enak pada dini hari hingga subuh.  Start di kaki bukit pukul 03.30, rata-rata para peziarah sudah berada di puncak bukit sekitar pukul 04.30.  Selama mendaki, mereka bisa beristirahat sambil menikmati gemerlap lampu gedung-gedung Kota Makkah yang sangat terang benderang. 

Setelah salat subuh berjamaah di puncak bukit, para peziarah bisa bersantai menunggu keindahan matahari terbit dari arah yang berlawanan dengan kiblat. Sajian minuman hangat maupun dingin, ditemani biskuit ataupun mi rebus sangat mudah didapat karena memang ada warung di puncak bukit itu.

”Saya tidak menyangka bisa mendaki sampai puncak Jabal Nur.  Dari bawah tampak sangat tinggi. Pelan-pelan akhirnya sampai juga,” tutur Elsa Rizki Setiawan, 29, jamaah haji perempuan asal Sukabumi.

Tidak semua peziarah yang datang memang akhirnya sampai ke puncak Jabal Nur. Beberapa di antara mereka ada yang kehabisan tenaga sebelum separo perjalanan. Ada yang muntah, keluar keringat dingin, bahkan menyerah dan duduk di pelataran rumah penduduk sebelum menyentuh tangga pertama Jabal Nur.

Hingga pukul 09.00, saat matahari sudah mulai menyengat, jamaah haji yang mendaki Jabal Nur masih tetap banyak.  Dari bawah tampak titik-titik putih memanjang, membentuk garis berkelok-kelok menuju puncak Jabal Nur. Sementara di kaki bukit, mobil-mobil taksi memadati jalan selebar delapan meter. Mereka menawarkan jasa mengantarkan jamaah haji pulang ke hotel dengan tarif pukul rata, 5 riyal per orang. (fat)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait