Antisipasi Teroris Razia Kapal, Malah Jaring Anggota Gafatar

Antisipasi Teroris Razia Kapal, Malah Jaring Anggota Gafatar

  Minggu, 17 January 2016 09:22
MEIDY/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK – Tiga hari setelah insiden serangan teroris di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, kepolisian di Pontianak masih melakukan pengamanan di sejumlah objek vital dan pemeriksaan terhadap kedatangan orang, baik di pelabuhan dan bandar udara. Kedatangan kapal penumpang, KM Bukit Raya, dari Surabaya ke Pontianak di Pelabuhan Dwikora pun tak luput dari pemeriksaan. Polisi tak ingin kecolongan, sehingga ratusan penumpang yang datang diperiksa termasuk seluruh barang bawaan.

Meski polisi menyatakan dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan orang dan barang yang mencurigakan ke arah gerakan-gerakan yang membahakan, namun hasil pemeriksaan itu, dua orang penumpang terpaksa diamankan. Mereka yang diamankan ini karena membawa buku-buku dan selembaran yang mencurigakan. Kedua pria tersebut adalah, Udin dan Slamet, masing-masing datang dari Jombang dan Surabaya. Saat dilakukan pemeriksaan, salah satu dari mereka berpura-pura pingsan, hingga akhirnya keduanya terpaksa digiring ke Markas Kepolisian Sektor Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan Laut (KP3L).

Petugas membongkar dan melakukan pemeriksaan satu persatu barang bawaan kedua pria mencurigkan tersebut. Hasilnya, ditemukan selembaran yang berisi tentang visi, misi, dan tujuan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), buku organisasi terlarang tersebut, buku pemikiran sebuah aliran kepercayaan, ditemukan pula selembar formulir pendaftaran organisasi.

Tak hanya itu, polisi juga menemukan sebuah buku yang membahas kelistrikan, yang ada di dalam tas salah satu pria tersebut. Polisi pun tak ingin dikelabui dengan pengakuan yang berbelit-belit dari keduanya, buku tersebut pun diteliti untuk memastikan, apakah benar hanya soal listrik atau buku yang membahas tahapan rakitan membuat bom?

Salah satu yang diamankan, Slamet, tak memungkiri jika dia dulunya adalah bagian dari Gafatar. Namun, sejak 2011, dia sudah menyatakan keluar dari organisasi tersebut, karena dianggap berbeda dengan ajaran Islam pada umumnya. “Saya masuk 2006, diajak oleh salah satu anggota mereka, lalu 2011 saya keluar,” katanya.

Dia menuturkan, kedatangannya ke Kalbar, bukan bertujuan untuk menyebarkan atau merekrut anggota, tetapi untuk bekerja di Sintang. “Saya hanya mengadu nasib, cari pekerjaan yang lebih menjanjikan dari pekerjaan sebelumnya di Surabaya,” ucapnya.

Terkait adanya selembaran visi dan misi Gafatar, buku, dan dokumen lainnya di dalam tasnya, pria berkulit hitam itu berkelit tidak mengatahuinya. “Memang punya saya, tapi sudah lama sekali  tidak pernah saya dan keluarkan dari dalam tas,” dalihnya.

Sementara itu, wakil Kepala Kepolisian Resort Kota (Wakapolresta) Pontianak, AKBP Veris Septiansyah, menjelaskan jika pemeriksaan yang dilakukan mereka adalah upaya antisipasi terhadap gerakan terorisme yang mencoba-mencoba untuk masuk ke Pontianak. “Sementara ini dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan orang dan barang yang mencurigakan,” kata, Veris yang turun langsung memimpin pemeriksaan kedatangan penumpang di Pelabuhan Dwikora, Sabtu (16/1).

Hanya saja, Wakapolresta juga tak memungkiri saat mereka melakukan pemeriksaan, diamankan dua orang yang terindikasi anggota Gafatar. “Dari hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah buku, dokumen, selembaran, formulir organisasi, itu yang disimpan di dalam tas,” ucapnya.

Menurut Veris, keduanya pun saat ini masih menjalani pemeriksaan, karena dalam pemeriksaan awal, mereka masih tertutup. “Ini upaya kepolisian untuk mengantisipasi, menangkal upaya gerakan organisasi ini untuk menyebarkan pahamnya ke masyarakat,” sambungnya. (adg)

Berita Terkait