Angin Kencang Porak-Porandakan 19 Rumah

Angin Kencang Porak-Porandakan 19 Rumah

  Jumat, 30 November 2018 10:10
PUTING BELIUNG: Angin kencang merusak sejumlah rumah warga di Gang Rawasari 1, Kelurahan Sungai Bangkong, Pontianak Barat, Rabu sore (28/11). Pasca kejadian warga mulai mengemasi dan memperbaiki rumah mereka yang mengalami kerusakan, Kamis (29/11).

Berita Terkait

Warga Mengungsi ke Tetangga 

PONTIANAK - Angin kencang dan hujan deras memorak-porandakan sedikitnya 19 rumah di kawasan Gang Rawasari, Jalan Sultan Syahrir, Pontianak, Rabu (28/11) siang. Kerusakan paling parah dialami lima rumah di kawasan tersebut.

Salah seorang pemilik rumah, Atik menuturkan saat kejadian ia dan anaknya sedang berada di dalam rumah. Sementara suaminya sedang tidak berada di tempat. Ketika itu hujan turun dengan deras dan tiba-tiba angin kencang datang menerjang. 

“Saya lihat sendiri dari balik jendela. Angin itu bergulung dan hitam,” cerita Atik kepada wartawan kemarin. Gulungan angin berwarna hitam itu sangat tebal sehingga rumah tetangganya yang hanya berjarak tiga meter dari kediamannya pun menjadi tak terlihat.

Atik merasa ngeri dan tak berani keluar rumah. Ia juga melihat atap rumahnya jebol lantaran diterbangkan angin. Air hujan masuk, membasahi semuanya dan menggenangi lantai.

“Saya sudah telepon suami berkali-kali tetapi tak ada jawaban. Di rumah saya hanya bisa nangis,” katanya. Setelah beberapa lama, akhirnya sang suami menelepon balik dan Atik kemudian menceritakan kejadian mencekam yang baru saja dialaminya. Sang Suami pun langsung pulang.

Jecky, suami dari Atik mengatakan saat kejadian ia memang sedang di luar. Ia hanya pasrah ketika mendapati sebagian atap rumahnya sudah melayang entah kemana. “Dalam rumah digenangi air. Dek rontok, seng sekitar sembilan keping yang melayang,” ujarnya.

Saat ditemui wartawan di rumahnya, Jecky sedang memperbaiki atap. “Yang melayang sembilan, tapi saya siapkan sepuluh keping seng,” kata Jecky.

Menurutnya, sejauh ini hanya atap dan plafon rumahnya saja yang rusak. Namun Jecky mengaku harus memeriksa perlengkapan elektronik karena ikut terkena rembesan air hujan. 

“Pastinya tilam sudah basah, kalau televisi mau dicek lagi, karena semalam juga terkena hujan,” ujarnya.

Lantaran kondisi rumah tak bisa ditinggali, Jecky bersama istri dan anak-anaknya mengungsi sementara waktu ke rumah tetangga.

“Semalam kami mengungsi. Hari ini mungkin sudah tidak karena kita lagi bersih-bersih dan betulkan seng," pungkasnya. 

Kondisi yang sama juga dialami Rudi, tetangganya. Namun, kerusakan rumah Rudi lebih parah. Atap rumahnya di bagian depan nyaris sudah tidak ada lagi karena diterbangkan angin. 

Rudi menceritakan hantaman angin hanya berlangsung dalam hitungan detik. Saat itu, sedianya ia ingin masuk kerja kembali setelah beristirahat siang. Namun, rencana itu urung karena turun hujan. Awalnya hanya gerimis tetapi kemudian semakin deras. 

Tak berselang lama, ia yang berada di ruang tamu melihat angin berwarna hitam pekat dan bergulung mengarah ke rumahnya. “Saya lihat itu pas membuka pintu rumah. Angin hitam dan bergulung. Atap rumah saya sudah terangkat dan angin masuk ke ruang tamu,” tuturnya. 

Angin yang masuk ke dalam rumahnya memorak-porandakan isi ruang tamunya. Saking kencangnya angin, kaca kaligrafi dan kaca bingkai foto yang melekat di dinding pun pecah berhamburan.

“Saya sudah lari ke dalam. Kalau saat itu masih di ruang tamu, saya mungkin ikut diterbangkan angin. Apalagi kaca yang pecah itu berhamburan dan bisa mengenai saya,” terangnya. Ketika itu di dalam rumahnya sudah tergenang air lantaran hujan yang begitu deras. Aliran listrik juga terputus. 

Ketika suasana agak reda, ia lantas mencoba melihat keadaan dari balik kaca di bagian samping rumah. Ternyata angin sudah bergerak ke arah belakang. Wujudnya seperti batang pohon dan berwarna hitam. 

Rumah Rudi tampak rusak parah. Teras serta ruang tamunya sudah tak beratap lagi. Bahkan ada sebagian kayunya yang lepas. Begitu pula di ruang tengah dan dapurnya. 

Ketua RT 4/RW 7, Gang Rawasari, Zulkarnain Abdurrahman mengatakan kerusakan paling parah adalah pada atap rumah warganya. 

“Atap kemudian dek jebol. Semua kerusakannya seperti itu. Paling parah ada lima rumah,” jelasnya. 

Zulkarnain pun mengaku sedang berada di dalam rumah saat kejadian. Ia menyaksikan langsung angin kencang berwarna hitam dan bergulung.

“Atap rumah saya sebagian juga rusak. Kemudian saya sempat terlempar karena angin. Satu kursi di ruang tamu juga terlempar karena angin,” kisahnya. 

Ia menambahkan, malam itu juga pihak-pihak terkait seperti dari kecamatan, kelurahan, BPBD, dan Tagana datang langsung ke lokasi. Sejumlah bantuan juga sudah disalurkan, utamanya bahan makanan. “Untuk material rencananya hari ini (kemarin, red),” sebutnya. 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak, Saptiko membenarkan bahwa sejumlah bantuan sudah disalurkan. Makanan siap saji diberikan khusus bagi korban yang rumahnya mengalami rusak berat. Sedangkan bantuan material akan diberikan sesuai dengan hasil pendataan. “Sekarang sedang dilakukan pendataan kerusakan,” katanya.

Mengingat adanya musibah ini, Saptiko mengimbau warga untuk waspada. Angin kencang disertai hujan deras bisa saja terjadi lagi. Warga hendaknya tidak berteduh di bawah pohon atau papan reklame karena dikhawatirkan tumbang atau roboh.(mse)

 

Berita Terkait