Anggap Kerja Sosial Namun Kapok Jadi KPPS

Anggap Kerja Sosial Namun Kapok Jadi KPPS

  Jumat, 19 April 2019 14:35
PAHLAWAN PEMILU: Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) tanpa kenal lelah menyelesaikan perhitungan suara hingga dini hari. Mereka layak menjadi pahlawan pemilu. SITI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Melihat Kerja Keras Para Petugas Penyelenggara Pemilu

Tujuh anggota Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) tampak lelah. Proses pemungutan dan penghitungan surat suara dalam Pemilu Serentak 2019 begitu menguras tenaga. Sesekali mereka berhenti sejenak untuk sekadar meregangkan otot.

SITI SULBIYAH, Sungai Raya

WAKTU menunjukkan pukul 01.00 dini hari, Kamis (18/4). Saat itu, anggota KPPS di TPS 45, Desa Sungai Raya Dalam, Kecamatan Sungai Raya baru selesai menghitung surat suara. Mereka masih perlu melanjutkan pekerjaan berikutnya, yakni merekap hasil penghitungan surat suara.

Satu di antara petugas PPS itu adalah Hanafi Sani. Usai penghitungan surat suara, pria berusia 70 tahun itu merekap hasilnya. Usianya yang tak lagi muda membuat pekerjaan yang dikerjakannya itu terkesan agak lambat.

“Saat merekap ini yang mengerjakan usianya sudah sepuh. Karena kondisinya mungkin lelah, saat merekap jadi agak lambat,” ungkap Ketua KPPS di TPS 45, Kuswinarto, saat menceritakan pengalamannya menjadi PPS Pemilu 2019.

Tidak hanya yang tua, ia dan anggota KPPS lain pun sudah merasa sangat lelah. Karena itu, sesekali mereka menghentikan pekerjaan, sekadar untuk beristirahat sejenak, meregangkan otot-otot. Pekerjaan merekap hasil penghitungan pun baru selesai pukul 03.00 dinihari.

“Jam tiga subuh baru selesai. Setelah itu kami istirahat sebentar, dan bakda subuh baru kami antar ke kelurahan,” ungkapnya. ”Itu pun masih ada yang ketinggalan. Jadi saya mesti balik lagi, lalu ke kelurahan lagi.”

Bagi Kuswinarto, pengalaman menjadi KPPS bukanlah yang pertama baginya. Di pilkada dan pemilu sebelumnya, ia pun terlibat langsung menjadi petugas demokrasi ini. Hanya saja diakuinya, Pemilu serentak di tahun ini agak jauh berbeda dari sebelumnya.  “Selama saya jadi KPPS baru inilah bertugas sampai subuh. Biasanya magrib sudah selesai,” tuturnya.

Di TPS 40, ada 237 pemilih yang terdata dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap). Jumlah yang dinilai cukup besar ini menjadi salah satu penyebab ia dan petugas lainnya di TPS tersebut bekerja hingga subuh hari. Di tambah lagi jumlah surat suara yang lebih banyak dari pemilu yang sudah-sudah. Jumlah partai yang cukup banyak juga turut membuat proses penghitungan menjadi lebih panjang.

Ia mengakui, proses penghitungan surat suara caleg lebih sulit dari penghitungan surat suara presiden dan DPD. Untuk surat suara legislatif, yakni DPR RI, DPRD I, DPRD II, KPPS harus lebih jeli dan hati-hati. Jangan sampai salah menyalin hasil perolehan suara caleg ke form C.

Namun demikian, pekerjaan yang cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran ini, dianggap sebagai bentuk kontribusi mereka terhadap penyelenggaraan demokrasi di tanah air. Kendati hanya diganjar dengan honor ratusan ribu rupiah, bagi Kuswinarto, pekerjaan menjadi KPPS merupakan kerja sosial.

“Gajinya sama dengan (pemilu) yang sebelumnya, Rp500 ribu. Memang tidak besar, tapi kami anggap sebagai kerja sosial,” ucapnya. Ia tidak memungkiri bahwa ada keluhan dari anggota KPPS lantaran tugas mereka yang menyita waktu hingga dini hari. Karena itu, ia ingin ke depan KPPS beranggotakan anak-anak muda, bukan lagi generasi tua yang energinya sudah menurun. “Untuk selanjutnya harus dari generasi muda. Generasi tuanya sudah kapok jadi KPPS lagi,” pungkasnya.*

Berita Terkait