Ancam Korban Tak Diluluskan

Ancam Korban Tak Diluluskan

  Rabu, 7 September 2016 09:30

Berita Terkait

SINTANG—Seorang kepala sekolah di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Melawi  berusia 32 tahun, menjadi terdakwa  kasus asusila, usai mencabuli seorang siswinya (15) berkali-kali.

Korban diancam kalau menolak melayani terdakwa, bakal tidak diluluskan ujian. Bahkan modus inilah yang selalu dilakukan agar sang siswi mau menuruti kehendaknya.

Kasus cabul kepala sekolah kepada muridnya sendiri itu sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Sintang,Senin (5/9)  petang. Sidang mengagendakan pembacaan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sidang dilangsungkan secara tertutup karena korban masih dibawah umur.

JPU, Aan, dalam dakwaannya,  menjerat terdakwa  dengan pasal 2 UU Nomor 35/2014 tentang perubahan  atas UU Nomor 23/2002 tentang perlindungan anak junto pasal 64 KUHP. Ancaman maksimal 15 tahun penjara atau minimal 5 tahun.

Bedasar faktar persidangan, terdakwa mencabuli korban lebih dari sepuluh kali. Sebagian kejadian masih bisa diingat korban kapan waktunya.

Selebihnya tidak ingat kapan korban dicabuli. Pencabulan pertama terjadi pada 3 Maret 2016. Aksi pertama terdakwa itu berlangsung di kamar korban. Terdakwa menyelinap masuk melalui pintu jendela, dengan meminta bukakan kepada korban.

Permintaan membukakan pintu jendela diselipkan  terdakwa dengan menyelipkan secarik kertas di buku korban. Kemudian terdakwa memberitahu kalau di dalam buku korban ada kertas. Selepas berhasil mencabuli korban, perbuatan terdakwa tidak berhenti. Tapi terus berlanjut hingga berkali-kali. Usai kejadian pertama, terdakwa mencabuli korban beruntut di beberapa malam. Semua di lakukan di kamar korban. Cara menyelinap masuk tetap sama, lewat jendela.

Terdakwa dalam memuluskan aksinya juga menyampaikan ancaman kepada korban. Hal demikian dilakukan kalau korban menolak ajakan berhubungan intim. Ancaman terdakwa  kepada korban yakni tidak diluluskan ujian. Seiring korban merupakan siswinya di kelas IX. Terdakwa turut mengiming-imingi korban dengan menjanjikan memperhatikan pendidikan korban. Bukan hanya semasa pendidikan di SMP. Namun akan membantu membiayai pendidikan korban hingga jenjang perguruan tinggi. Kemudian terdakwa juga kerap memberikan hadiah kepada korban, seperti parfum, handbody, jam tangan, dan sejumlah uang.

Sementara  terdakwa akan kembali menjalani persidangan pada Selasa mendatang. Sidang mengagendakan pemeriksaan saksi.

“Sidang lanjutan kita agendakan Selasa pekan depan,” kata Aan, selaku JPU. (stm)

Berita Terkait