Anak Terlambat Bicara

Anak Terlambat Bicara

  Rabu, 9 January 2019 10:29

Berita Terkait

Di usia 24 bulan, anak belum bisa berbicara sepatah kata pun. Lebih memilih menggumam dan menunjuk saat meminta sesuatu. Padahal, biasanya anak seusianya mulai bisa mengucapkan kata dengan jelas dan merangkai kosa kata yang dimiliki menjadi suatu kalimat. Lantas, apa penyebabnya? 

Anak Terlambat Bicara

Terlambat bicara adalah masalah yang paling sering dikhawatirkan orang tua terhadap tumbuh kembang si kecil. Normalnya anak usia 1,5 tahun sudah bisa mengucapkan minimal lima kata secara konsisten. Namun, masih banyak anak di usia tersebut yang belum bisa mengucapkan kata dan lebih memilih menunjuk saat meminta sesuatu. 

Psikolog Sarah, S.Psi, M.Psi mengatakan sebelum menjawab kenapa dan apa yang membuat anak terlambat berbicara, orang tua perlu mengetahui dan mengenal perkembangan bahasa anak terlebih dulu. Bahasa yang dimaksud bukan hanya tentang berbicara dengan kosa kata. Tetapi, di awali dari mengeluarkan suara (bunyi), selain suara tangisan. 

Biasanya di usia tiga bulan pertama bayi sudah bisa mengeluarkan suara. Meski tak terdengar jelas dan bukan hal yang berarti. Tetapi, suara yang dikeluarkan bayi adalah bentuk ekspresi dirinya dari situasi yang dihadirkan. Biasanya suara ini terdengar anak saat orang tuanya mengajak bermain, bercengkrama, dan menyentuh fisik bayi (mencium dan memeluk). 

Di usia enam bulan, bayi mulai melafalkan huruf hidup, seperti A,I,U, E, dan O. Usia 12 bulan, anak mulai mengucapkan huruf hidup meski belum terlalu lancar. Usia 18 bulan, secara perlahan anak bisa memanggil nama-nama orang di dekatnya. Misalnya, ibu dengan sebutan bu dan ayah dengan sebutan ‘Yah’. 

“Di usia 18 bulan ini sudah ada huruf hidup dan huruf mati yang terdengar. Walaupun hanya satu kata, tapi memiliki makna dan arti yang dalam bagi orang tua,” ujarnya.

Saat mencapai usia 24 bulan, sudah ada beberapa kata yang bisa digabung menjadi sebuah kalimat oleh anak. Misalnya, ‘adik mau minum susu’, ‘adik mau makan’, atau lainnya. Ketika usianya mencapai tiga tahun, anak sudah bisa bercerita, walaupun apa yang diceritakannya cenderung loncat-loncat dan penyatuan kalimatnya masih terbalik. 

Lantas, apa yang bisa menyebabkan anak terlambat bicara? Pegawai di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kalbar ini menuturkan keterlambatan anak berbicara dapat disebabkan dua faktor, yakni fungsional dan nonfungsional. Faktor fungsional disebabkan karena kurangnya stimulasi atau rangsangan yang diberikan pada orang tua.

“Mengatasi faktor fungsional, orang tua bisa menstimulasi anak seperti membacakan cerita, berdialog, dan bernyanyi sambil menari dengan ekspresif. Dengan cara menyenangkan, anak tak akan merasa seperti diajarkan berbicara,” tutur Sarah.

Saat orang tua menstimulasi anak berbicara, usahakan menggunakan bahasa yang baik dan benar (Bahasa Indonesia atau bahasa ibu). Jangan mengikuti bahasa anak yang terkadang terdengar kurang jelas (seperti pelat). Orang tua yang mengikuti bahasa anak akan membuat anak berpikir, jika kata maupun kalimat yang disampaikannya benar. Usahakan orang tua tak membuat anak bingung.  

Faktor nonfungsional berkaitan dengan gangguan kelainan. Beberapa faktor kelainan yang dapat menyebabkan anak terlambat bicara adalah kelainan neurologi (saraf), fungsi pendengaran, gangguan perkembangan (autis), serta kelainan struktur rahang dan mulut. Jika keterlambatan bicara disebabkan faktor nonfungsional, terapi intensif harus diberikan pada anak.

“Orang tua bisa melibatkan beberapa ahli, seperti dokter anak, therapis, dan psikolog untuk menghadapi keterlambatan bicara pada anak,” ucapnya.

Selama terapi, orang tua juga berperan untuk menstimulasi anak. Menstimulasi anak berbicara tak membutuhkan waktu khusus. Saat anak habis mandi, orang tua bisa memeluk anak sambil mengatakan ‘anak mama harum’. Ada kedekatan fisik dan emosional yang tercipta antara orang tua dan anak. Semakin sering distimulasi anak akan semakin semangat untuk berbicara.

Sarah berpesan pada orang tua untuk tak menunjuk saat meminta tolong pada anak. Misalnya, ‘dek tolong ambil itu (gelas)’. Ketika anak dimintai tolong kembali untuk mengambil gelas, ia akan bingung bentuknya. Karena saat dimintai tolong, orang tuanya tak menjelaskan secara rinci seperti apa bentuk gelas. 

“Biasakan untuk menyebut dan berbicara secara jelas. Anak akan berbicara baik dan jelas, jika orang tuanya menstimulasi dengan baik. Begitu pula sebaliknya,” pungkasnya. **

Berita Terkait