Anak SD Jadi Calon Raja

Anak SD Jadi Calon Raja

  Jumat, 1 February 2019 09:29
KISAH LEGENDA: legenda Excalibur ditampilkan lebih modern, lebih seru, dan lebih anak-anak di The Kid Who Would Be King. FOXMOVIES

Berita Terkait

The Kid Who Would Be King: Legenda Excalibur di Zaman Now

Tentu banyak orang yang tahu tentang legenda Excalibur. Pedang tersebut tertancap kuat di batu. Konon, kesatria yang mampu mencabut Excalibur dinobatkan jadi raja. Kisah legenda itu ditampilkan lebih modern, lebih seru, dan lebih anak-anak di The Kid Who Would Be King.

---------------

DI ’’kemasan’’ barunya, legenda Excalibur dituturkan lewat Alexander Elliot. Alex, sapaan Alexander Elliot, adalah seorang anak SD yang pemberani. Di hari pertama masuk sekolah, Alex menolong Bedders yang dipelonco Lance dan Kaye. Sejak saat itu, keduanya jadi sahabat. Di sisi lain, Alex pun dimusuhi habis-habisan oleh tukang bully tersebut.

Ketika dikejar Lance dan Kaye, Alex menyelamatkan diri dengan berlari ke area pembangunan. Dia tersandung benda misterius yang ternyata merupakan pedang Excalibur. Nah, tanpa mereka ketahui, pedang itu mengirim ’’sinyal’’ kepada penyihir Merlin.

Sayang, pedang tersebut juga mengirim sinyal kepada si jahat Morgan le Fay. Dia dan pasukan zombinya bakal menghabiskan seluruh Inggris demi merebut Excalibur. Merlin pun menyamar. Dia melatih Alex, Bedders, dan duo tukang bully menjadi kesatria dengan kekuatan sihirnya. Mereka mampu mengalahkan si jahat. Sayang, Excalibur rusak di pertarungan itu.

The Kid Who Would Be King berhasil menyegarkan dan menyederhanakan legenda lama Inggris tersebut. Tapi tanpa mengurangi keseruan. ’’Kisahnya cocok buat ditonton sekeluarga, tapi tetap ’tajam’ dan segar,’’ ungkap kritikus USA Today Brian Truitt. Lindsey Bahr, kontributor AP, juga memuji proporsi adegan action dan komedi di film itu sehingga kisahnya enak disimak.

Kontributor Entertainment Weekly Dana Schwartz menilai, film tersebut, sesuai targetnya, bakal mengena buat penonton muda. Sebab, cerita, action, hingga guyonannya dibikin sesuai anak zaman now. Buat penonton dewasa, menonton The Kid Who Would Be King bak bernostalgia.

’’Para pasukan ciliknya mengingatkan kita pada The Goonies (film anak-anak rilisan 1985) dan film petualangan anak era 1980-an,’’ papar kontributor The Wrap Monica Castello.

Sutradara Joe Cornish juga menekankan, The Kid Who Would Be King adalah salah satu proyek ambisiusnya. Para lakonnya adalah aktor dan aktris cilik. Dia ingin anak-anak belajar dari tokoh sebayanya. Film yang diproduseri 20th Century Fox itu juga diramu dengan pesan positif.

’’Aku ingin menekankan, seseorang tidak ditentukan dari siapa orang tuanya atau di mana mereka besar. Kamu adalah kamu,’’ paparnya sebagaimana dikutip Gizmodo. (EW/USA Today/fam/c22/jan)

Berita Terkait