Ambil Satwa dan Tanaman Langka, Empat Warga Polandia Tersangka

Ambil Satwa dan Tanaman Langka, Empat Warga Polandia Tersangka

  Sabtu, 23 March 2019 13:30

Berita Terkait

PONTIANAK -  Empat warga Polandia, Oj (31), Hf (44), Tg (46) dan Bp (31) diamankan tim gabungan Imigrasi Kanwil Kemenkuham Kalimantan Barat. Mereka diduga telah mengambil tanaman dan satwa tidak dilindungi di kawasan hutan taman wisata alam Bukit Kelam, Kabupaten Sintang. Mereka juga diduga telah menyalahgunakan izin yang dikantongi sebagai warga asing.

Empat warga Polandia itu diamankan pada 18 Maret 2019. Dari tangannya tim gabungan berhasil menyita barang bukti yakni 284 jenis tanaman dan satwa tidak dilindungi yang disimpan di dalam tempat berbagai ukuran.

Setelah dilakukan identifikasi, 284 jenis tanaman dan satwa itu terdiri dari 45 ekor Kelabang, 96 ekor Laba-laba, 40 ekor Kumbang Tanah, 20 ekor Kaki Seribu, tiga ekor Katak Mulut Sempit, satu ekor ular Birang,42 ekor Kalajengking Cambuk, tiga ekor Kalajengking Cambuk tidak berekor, sepuluh ekor Kecoa Hutan, 19 ekor Kalajengking.

Sementara untuk jenis tanaman yang ditemukan, yakni dua rumpun anggrek Dendrobium, satu rumpun anggrek Mutiara, satu rumpun daun Kupu-kupu. Selain tanaman dan satwa itu, disita pula dari tangan para pelaku 314 wadah plastik yang mana 110 diantaranya dibawa langsung dari Polandia.

Keempat pelaku yang telah diamankan telah ditetapkan statusnya sebagai tersangka. Saat ini telah diamankan di Kantor Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORC) Kalimantan Barat untuk menjalani pemeriksaan.

Sampai dengan saat ini baik dari Balai Gakum KLHK Kalimantan maupun Imigrasi dan BKSDA Kalimantan Barat belum dapat mengungkap, apa sebenarnya tujuan dari keempat pelaku mengambil tanaman dan satwa tak dilindungi itu.

Bahkan dari keterangan penyidik Balai Gakum KLHK Kalimantan, keempat pelaku tak mau memberikan keterangan dari lembaga riset ataupun dari universitas mana yang memberikan mereka izin untuk melakukan penelitian di kawasan hutan taman wisata alam Bukit Kelam.

Kepala Divisi Imigrasi Kantor Wilayah Kemenkuham Kalbar, Husni Thamrin mengatakan, empat warga Polandia itu diduga telah mengambil tanaman dan satwa tidak dilindungi di Bukit kelam.

Husni menjelaskan, setelah mengamankan dua pelaku tim kembali melanjutkan pencarian. Sekitar pukul 16.00, dua pelaku lainnya berhasil ditangkap.

Husni menjelaskan, dari sisi keimigrasian keempat warga Polandia itu diduga telah melakukan pelanggaran pasal 123 huruf A Undang Undang nomor 6 tahun 2011 tentang keimigrasian dengan ancaman pidana penjara lima tahun dan denda Rp500 juta. Para pelaku telah melakukan penyalahgunaan izin tinggal. “Mereka datang ke Indonesia menggunakan visa bebas kunjungan,” sambungnya.

Tetapi, lanjut dia, di lapangan telah melakukan penelitian terhadap tanaman dan satwa. Sehingga jelas tindakan para pelaku telah menyalahi aturan.

Husni menyatakan, dari hasil pemeriksaan sementara keempat pelaku yang telah ditetapkan tersangka itu mengaku kegiatan itu hanya hobi bukan untuk penelitian.

Komandan Brigade SPORC Bekantan Kalbar, David Muhammad mengatakan, pihaknya sudah menerima pelimpahan keempat pelaku dari BKSDA Kalbar. Mereka saat ini sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“Untuk dan tanaman dan satwa sudah diidentifikasi hasilnya memang itu jenis yang tidak dilindungi,” kata David.

David menyatakan, karena tanaman dan satwa yang diambil adalah jenis tak dilindungi, maka keempat pelaku akan dikenakan pasal 50 Undang-undang nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan dengan ancaman pidana penjara satu tahun dan denda Rp50 juta. “Jadi kategori tindakan pelaku ini mengambil bukan mencuri,” tukasnya.

Dari hasil pemeriksaan, David menambahkan, para pelaku mengaku tanaman dan satwa itu diambil dari dalam gua Maria dan hutan Bukit Kelam. “Dalihnya hanya untuk dokumentasi lalu kembali dilepaskan. Tapi agak aneh, dengan banyaknya tanaman dan satwa yang diambil, apakah benar hanya untuk foto?” katanya.

David menyatakan, tentu pihaknya akan melakukan pendalaman untuk menyelidiki lebih jauh akan diapakan sebenarnya tanaman dan satwa itu.

Untuk diketahui para pelaku tersebut sudah berada di kawasan hutan Bukit Kelam selama kurang lebih dua minggu lamanya. Mereka tinggal di bibir gua Maria. Selama berada di dalam hutan, mereka mengumpulkan tanaman dan satwa pada malam hari.

Anehnya, dari pengakuan sementara para pelaku yang disampaikan penyidik Balai Gakum KLHK Kalimantan, mereka mengaku jika tanaman dan satwa itu ditangkap atau diambil, lalu dimasukan ke dalam wadah. Selanjutnya, pada keesokan hari, tanaman dan satwa itu didokumentasikan lalu kembali dilepas atau dikembalikan ke habitatnya.

Pelaku mengaku kegiatan mereka itu hanya hobi bukan untuk melakukan penelitian. Namun saat diperiksa para pelaku bungkam soal dari universitas mana mereka berasal. Beberapa pelaku diketahui sudah lebih dari dua kali datang ke Kalimantan Barat, di Kabupaten Kapuas Hulu. (adg)

 

Berita Terkait