Amarah Korban Rampok

Amarah Korban Rampok

  Sabtu, 24 September 2016 10:08

Berita Terkait

KETAPANG – Senjata makan tuan. Inilah yang terjadi dari kasus perampokan yang rekontruksinya digelar Polres Ketapang. Kasus perampokan terjadi 14 Juni 2016 lalu. Rekonstruksi digelar di salah satu ruangan Mapolres karena jauhnya lokasi kejadian yang terletak di Dusun Paket 3 Desa Podo Rukun Kecamatan Seponti Kabupaten Kayong Utara. Sebanyak 23 reka adegan diperagakan oleh pelaku dan korban.

Rekonstruksi ini sendiri baru digelar beberapa bulan setelah kejadian karena pelaku baru sembuh dari luka-luka yang dialami saat merampok. Rekonstruksi ini diikuti langsung oleh satu tersangka dan dua korban. Pelakunya baru keluar dari rumah sakit, makanya baru kita gelar rekonstruksi," kata Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP Putra Pratama,

di sela-sela rekonstruksi, kemarin (22/9).

Putra mengatakan, ada tiga pelaku dalam perampokan ini. Satu pelaku berhasil ditangkap, satu orang masuk dalam daftar pencarian orang

(DPO) dan satu pelaku lainnya tewas di tangan korban saat perampokan

berlangsung. Korban tewas bernama Lahi. Sementara pelaku yang berhasil

ditangkap Abdul Mutalib (32).

"Satu pelaku lagi DPO," jelas Putra.

Rekonstruksi diawali dengan kedatangan kedua pelaku kerumah korban, M

Agus Witanto (35), di Dusun Paket 3 Desa Podo Rukun Kecamatan Seponti

Kabupaten Kayong Utara sekitar pukul 19.00 WIB.

Kedua pelaku mengetuk pintu samping rumah korban. Keduanya mengaku akan membeli bensin. Kedua pelaku kemudian menunggu korban di pintu depan. Saat korban menuangkan bensin, kedua pelaku langsung menodongkan senjata api rakitan berupa pistol revolver dan pisau ke arah korban. Korban yang terkejut langsung mengangkat tangan dan tidak melawan.

Namun, tiba-tiba kepala salah satu pelaku, Muthalib terkena kursi yang

dilempar oleh istri korban, Yuliana (28).

Muthalib pun terkejut dan dengan cepat langsung menusukkan pisau ke

leher Agus. Tidak hanya disitu, ia juga menusuk perut agus dengan

pisau. Sementara pelaku lainnya, Lahi, mengejar Yuliana ke dalam rumah

sambil menodongkan pistol.

Mendengar teriakan istri dan kedua anaknya, tiba-tiba Agus melakukan

perlawanan terhadap Muthalib. Ia mencoba merebut pisau yang ditusukkan

ke perutnya. Meski tangan Agus luka parah, namun ia berhasil merebut

pisau dan menyerang balik Muthalib. Tanpa ampun, Agus menusukkan pisau ke tubuh Muthalib sebanyak 7 kali.

Namun, Muthalib berhasil melarikan diri ke dalam kebun dengan luka parah di sekujur tubuhnya. Agus juga memburu pelaku lainnya yang mengejar istrinya ke dalam rumah. Meski pelaku memegang senjata api, namun demi keselamatan istri dan anaknya ia melawan. Akhirnya, ia berhasil menikam Lahi dan langsung tersungkur dan tewas di lokasi kejadian.

"Kalau mereka minta baik-baik tanpa harus menodongkan pisau dan pistol, pasti saya kasi apa yang mereka minta," kata Agus usai rekonstruksi.

 Ia juga menjelaskan, sebenarnya dari awal ketika pelaku menodongkan pistol dan pisau, ia sudah tidak melawan. Namun, karena mendengar anak

dan istrinya teriak-teriak histeris dan dikejar oleh pelaku menggunakan pistol, keberaniaannya untuk melawan seketika muncul.

"Saya mendengar anak dan istri saya teriak, saya langsung melawan. Saya rebut pisau yang dipegang dia (Muthalib; red) dan saya menyerang balik," jelasnya.

Atas peristiwa tersebut, ia mengaku jika kedua anaknya yang masih berusia 3 dan 9 tahun trauma. Sejak saat itu, keduanya tidak mau lagi tidur di rumah dan menginap di rumah neneknya.

"Mudah-mudah tidak terjadi lagi. Saya berharap pelakunya juga dihukum seberat-beratnya," harapnya.

Sementara itu, Abdul Muthalib mengaku terpaksa merampok karena terdesak kebutuhan keluarga. Ia yang hanya bekerja serabutan tak mampu

memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

"Baru sekali itu saja. Saya tak punya uang, makanya saya mau diajak oleh Lahi untuk merampok," katanya.

Ia mengaku, perampokan tersebut direncanakan oleh Lahi tiga hari sebelum beraksi. Mereka mengintai rumah yang akan mereka rampok.

"Pisau itu punya Lahi tapi diberikan sama saya. Pistol yang dua itu juga punya Lahi," jelasnya.

Ia mengaku nekad langsung menusuk leher korban karena terkejut kepalanya terkena lemparan kursi. Ia juga tidak berniat melukai.

"Tak ada niat, hanya menodongkan saja. Tapi karena terkejut, saya langsung nusuk," ujar warga Teluk Batang Kayong Utara ini.

Karena korban yang melawan, ia pun harus menerima 7 tikaman pisau di sekujur tubuhnya. Namun, ia bersyukur masih bisa selamat dengan melarikan diri ke kebun.

"Saya minta maaf kepada korban. Saya salah. Apapun hukuman buat saya, akan saya terima," ucapnya.

Di sela-sela rekonstruksi itu, sambil menunduk Muthalib mengulurkan tangan kanannya ke arah Agus. Dengan tersenyum dan dengan sedikit menahan rasa sakit di tangan kanannya, Agus menyambut uluran tangan Muthalib. Dengan mata yang berkaca-kaca, Muthalib meminta maaf kepada

orang yang hampir ia bunuh. Meski ia sudah meminta maaf kepada korban, namun proses hukum tetap harus ia jalani. Atas perbuatannya, pelaku diancam dua pasal berlapir yaitu, pencurian dengan kekerasan dan kepemilikan senjata api. Ia pun terancam hukuman minimal 15 tahun penjara dan maksimal seumur hidup. (afi)

Berita Terkait