Album Kehidupan Bernama Tato.

Album Kehidupan Bernama Tato.

  Senin, 2 November 2015 09:38

Berita Terkait

Bagi Dayak Iban, tato atau seni rajah tubuh memiliki arti dan filosofi tersendiri. Bagi mereka tato erat kaitannya pengalaman hidup, baik duniawi maupun spiritual.ARIEF NUGROHO, Pontianak

Anda tak perlu terkejut jika masuk ke perkampungan masyarakat Dayak dan kemudian berjumpa dengan orang-orang tua, baik pria maupun wanita, yang dihiasi berbagai macam tato indah di beberapa bagian tubuhnya.Gambar tato bagi masyarakat Dayak, khususnya Iban, bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki arti dan makna yang sangat mendalam.Tato ditubuh pria adalah sebagai simbol dari segala hal. Tanda inisiasi, simbol kekuatan magis, serta berhubungan dengan religi, dan untuk pengobatan. Juga kenangan perjalanan atau catatan kehidupan. Tetapi arti paling esensial dari tato tersebut adalah bukti kelelakian yang tahan akan penderitaan.

“Arsip tidak hanya melulu di atas kertas, tetapi juga ada pada tubuh,” kata Herpianto “Folk” Hendra, artis tato lulusan Seni Kriya ISI Yogyakarta kepada Pontianak Post, dua pekan lalu.Pria yang akrab disapa Hendra ini merupakan pegiat seni rajah tubuh tradisional khas Dayak Iban. Hendra memang bukan satu-satunya, tetapi sebagai pewaris, Hendra ingin tetap menjaga tradisi itu.

Sebagai artis tato yang kini membuka studio tato di Yogyakarta ini, Hendra keukeuh dengan metode hand tapping, yaitu metode yang biasa digunakan masyarakat Iban zaman dulu. Meskipun tidak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi akan menggerusnya.

Menurut Hendra, metode hand tapping ini sudah sangat jarang dilakukan. Bahkan bagi masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu sekalipun. “Masyarakat di sana sudah lama meninggalkan tradisi itu. Terutama bagi pemuda-pemudanya,” kata Hendra saat ditemui di sela-sela pekerjaannya.

Menurutnya, para tetua adat di desa itu saat ini sudah tidak lagi melakukan kebiasaan menato. Ya, karena usia mereka sudah cukup tua. “Mereka sudah cukup tua. Sehingga tidak lagi menato. Sekarang, tradisi itu kami yang meneruskan, dengan memberi pelatihan kepada pemuda-pemuda di sana,” terangnya.

Sebagai pemuda yang tumbuh di Kabupaten Kapuas Hulu, 18 jam dari Pontianak, Hendra mulai mengembangkan minat dalam seni dan tato modern di tahun 1997. Namun ia menyadari bahwa pendidikan yang diberikan terlalu Jawa-sentris. “Jadi saya pulang dan dieksplorasi budaya Iban sendiri,” katanya yang juga anak pensiunan tentara itu.

Tahun 2009, Hendra mulai menato tubuhnya. Tentu dengan metode yang sekarang ditekuninya: hand tapping. Dari situlah, keinginannya mulai tumbuh untuk terus mempelajari, menekuni dan akhirnya menjadi profesinya.Hendra tidak asal menekuni pekerjaannya itu. Ia melakukan riset dengan mengunjungi sebuah desa Sungai Utik. Di desa itu Ia berguru dengan seseorang yang kini dianggap sebagai master Iban, seperti Klaudis Kudi (74), salah seorang generasi tua Dayak Iban, yang hampir sekujur tubuhnya berhiaskan tato.

Bagi mereka, menato tubuh adalah tradisi nenek moyang. Saat perang suku, tato menjadi semacam tanda pengenal.Klaudis Kudi sendiri adalah tetua adat Dayak Iban di Kampung Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu. Selain Kudi, juga ada Antonius Kidau (73) dan Bandi atau Apay Janggut (81) yang memiliki tato hampir di seluruh tubuhnya.

Kudi dan Kidau menato tubuhnya saat sama-sama merantau ke beberapa tempat di Sarawak mulai sekitar tahun 1970.  Bandi juga menato tubuhnya saat merantau ke Miri, Sarawak, tahun 1959.Dulu tato dibuat menggunakan alat sederhana, yakni batang kayu yang ujungnya dilengkapi dengan jarum-jarum yang disatukan (lining dan shading). Di bagian ujung jarum diberi pembatas benang untuk membatasi seberapa dalam jarum akan masuk ke kulit.

Jarum-jarum yang sudah dicelupkan ke pewarna kemudian dipukul-pukulkan perlahan ke bidang kulit yang hendak ditato. Alat pewarna dibuat dari jelaga lampu minyak yang dicampur dengan air tebu.Untuk membuat tato, para sesepuh itu perlu mengumpulkan jelaga yang sengaja mereka buat dengan menaruh seng di atas lampu minyak. Jelaga akan terkumpul di seng yang langsung terkena api dari lampu minyak.

Air tebu bercampur jelaga masih harus dikeringkan selama beberapa hari hingga menjadi kristal. Kristal hitam itu kemudian dicairkan lagi saat hendak dipakai. Luka yang dihasilkan dari jarum-jarum itu akan menjadi koreng dan ketika koreng sudah sembuh tertinggallah warna hitam sesuai pola yang digambar saat menato. Pertama kali ditato, tentu badan terasa demam selama beberapa hari.Selain para sesepuh adat, Hendra juga belajar dari literature dan kalangan turis asing untuk menyempurnakan karyanya. “Setelah riset, aku belajar secara otodidak kemudian mencoba sendiri dengan media tubuh teman-teman,” lanjutnya.

Selain mahir menato dengan metode hand tapping, tubuh pria dengan pawakan kurus ini juga dipenuhi dengan tato khas suku dayak iban. Seperti ukir degug, kalapah, bilun, ketam itit, dan bunga terung.  “Bagi kami, tato adalah ‘album kehidupan’ kita. Aku tahu beberapa orang itu tidak sama, tapi saya harap seni dan budaya pendidikan dapat dokumen kita sehingga orang Indonesia tahu cerita kita,” katanya.

Susanto alias Santo (24), salah satu “pasien” Hendra mengaku sangat tertarik dengan tato khas Dayak Iban. Bahkan, tubuh pemuda yang kini bekerja sebagai desaign interior ini menato tubuhnya dengan motif khas suku itu. “Saya mulai menato tubuh saya setelah mendapat restu dari sesepuh adat di Sungai Utik,” katanya.Menurutnya, tato khas Iban memiliki filosofi yang dalam dan sesuai dengan karakter dirinya. “Selain bentuknya khas, saya ingin mencoba melestarikan tradisi tato ini. Karena sekarang ini, pemuda dayak sendiri sudah sangat jarang menato tubuhnya. Kalau pun ada, motif yang dipakai cenderung kontenporer. Dan kebanyakan dari mereka tidak mengetahui makna yang terkandung dalam motif tato itu sendiri,” katanya.Meskipun bukan keturunan Dayak, namun dia mengaku bangga menato tubuhnya terutama tato khas Dayak Iban.  (*)

Berita Terkait