Al Makin yang Habiskan Enam Tahun Meneliti Agama di Indonesia

Al Makin yang Habiskan Enam Tahun Meneliti Agama di Indonesia

  Selasa, 26 January 2016 08:49
TEKUN MERISET: Al Makin (kanan) bersama Imam Besar Abdul Rachman, bagian dari kelompok Lia Eden. AL MAKIN FOR JAWA POS

Dari riset Al Makin diketahui, ada ratusan agama di Indonesia dan banyak yang berpotensi lolos sebagai agama resmi. Kerap dicurhati perlakuan tidak adil dari masyarakat dan pemerintah.BAYU PUTRA, Jogjakarta

SAKING seringnya, Al Makin sampai hafal curhatan berbagai komunitas agama yang disampaikan kepadanya. Sebab, intinya serupa: Mereka mengeluhkan perlakuan diskriminatif dari masyarat dan pemerintah.’’Jangankan ibadah di tempat terang. Ibadah sembunyi-sembunyi saja banyak yang mencari. Mau dipukuli, dibakar, macam-macam,’’ tuturnya.Yang curhat memang kelompok-kelompok agama di luar enam agama resmi yang diakui pemerintah. Al Makin menjadi tempat menyampaikan unek-unek karena faktor kedekatan. Sebab, dia menghabiskan enam tahun untuk meneliti berbagai komunitas agama di tanah air.

Beberapa bulan mendatang, hasil penelitian dosen filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, itu diterbitkan dengan judul Challenging Islamic Orthodoxy: Lia Eden’s Povetic Movement and Public Responses. Penelitian utama pria kelahiran 12 September 1972 tersebut memang tentang perempuan yang memimpin kelompok Salamullah itu.

Doktor lulusan Ruprecht-Karls-Universität, Heidelberg, Jerman, tersebut melihat, mengalami, dan mencatat setiap aktivitas yang dilakukan komunitas itu. Termasuk mengikuti kegiatan ritual kelompok Lia Eden.

Prinsip yang selalu dia pegang, peneliti datang ke suatu komunitas tidak untuk menceramahi. Sebaliknya, ingin belajar. Karena itu, kerendahan hati menjadi kunci.

’’Intinya, saya memperlakukan mereka sebagaimana saya ingin diperlakukan mereka, kami bersahabat,’’ katanya saat ditemui di kantornya, lantai 2 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Sunan Kalijaga.

Dari penelitian panjang itu, Al Makin menemukan, sampai 1980-an, ada sekitar 600 orang di Indonesia yang menyatakan diri sebagai nabi. Data tersebut tercatat di Kejaksaan Agung. Ada yang mengaku nabi, otomatis ada ratusan pula agama di tanah air.

’’Kalau dari tahun 1980-an sampai sekarang, diperkirakan ada sekitar 300 nabi,’’ tuturnya.

Bahkan, lahan paling subur untuk tumbuhnya agama baru justru Jakarta. Cukup banyak orang yang mengaku nabi pascareformasi. Termasuk Lia Eden, Ahmad Musadeq, Bijak Bestari, hingga Agus Imam Sholihin.

Selain kelompok Lia Eden, Al Makin datang ke beberapa komunitas lain. Termasuk ke Bojonegoro, meneliti komunitas Samin. Menurut pria yang telah menulis lima buku itu, bisa dikatakan Saminisme merupakan agama alam. Masyarakat Samin akrab dengan filsafat pertanian.

Prinsipnya, siapa yang menanam, dia yang memanen. Bila tidak membayar pajak, tidak boleh menikmati fasilitas yang dibiayai pajak. ’’Bahkan, ada yang merasa, karena dia tidak membayar pajak, dia tidak mau melewati jalan beraspal,’’ ungkapnya.

Dia juga mendatangi kawasan Balige dekat Danau Toba di Sumatera Utara untuk meneliti agama Parmalim. ’’Dari Toba masih empat jam perjalanan darat,’’ tuturnya.

Pada masa penjajahan, Belanda membawa agama Kristen ke Sumut. Pada saat yang hampir bersamaan, gelombang dakwah Islam dari Padang, Sumbar, juga mulai masuk. Terjadilah resistansi di masyarakat sehingga membentuk agama tersebut.

Karena diskriminasi yang kerap mereka alami, masuk ke dalam komunitas agama bukan perkara mudah. Butuh pendekatan khusus. ’’Kuncinya adalah kejujuran sejak awal,’’ ujar peneliti asal Jogjakarta itu.

Peneliti harus jujur dan konsisten dengan tujuannya, yakni ilmu pengetahuan. Pria yang sudah menerbitkan lima buku mengenai budaya dan agama itu mengawali penelitiannya dengan berkawan dengan pengikut setiap ajaran. Setelah itu baru mengungkapkan niat untuk melakukan penelitian.

Selama masa penelitian itu, Al Makin harus bolak-balik antara lokasi penelitian dan Jogjakarta. Dia bisa tinggal bersama komunitas agama tertentu selama seminggu atau sebulan, baru kembali ke Jogjakarta. Di mana pun berada, dia tetap terus berhubungan dengan masing-masing kelompok agama.  

Dari situlah, ayah dua anak tersebut menyimpulkan bahwa pemerintah masih menganggap perbedaan sebagai sebuah ancaman, bukan potensi. Pemerintah belum bisa menghargai dan menempatkan mereka dalam posisi yang adil sebagaimana terhadap keenam agama resmi.

Dia juga bisa menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat religius. Munculnya banyak agama dan nabi merupakan dampak religiusitas itu. Segala sendi kehidupan masyarakat selalu dikaitkan dengan agama yang dianut, dan itu tidak bisa terbantahkan.

Karena itu, definisi agama versi Al Makin pun sedikit berbeda dengan definisi agama versi pemerintah. Bagi dia, agama adalah keyakinan tentang sesuatu yang gaib. Kemudian, keyakinan tersebut menghasilkan masyarakat. Sebuah keyakinan bisa disebut agama apabila ia bisa bertahan hidup dan melahirkan banyak pengikut, meski pendirinya sudah meninggal.

’’Kalau gagal menghasilkan pengikut dan mati bersama pengikutnya, maka dia gagal sebagai agama,’’ terang penghobi snorkeling dan diving itu.

Agama memiliki simbol, ritual, dan tempat suci yang dihormati. Di Indonesia, banyak sekali yang memenuhi kriteria tersebut. Hanya, mereka tidak mendapatkan proteksi sebagaimana enam agama yang diakui pemerintah.

Menurut pemerintah, mengacu pada definisi yang dikeluarkan Kementerian Agama pada 1953, agama dibawa rasul atau nabi, memiliki kitab suci, dan dipeluk masyarakat dunia alias menjadi fenomena global. Bila tidak memenuhi itu, tidak bisa disebut agama.

’’Kalau definisi itu diterapkan secara konsisten saat ini, banyak agama di Indonesia yang lolos,’’ ucapnya. Salah satunya adalah Subud yang memiliki pengikut di 80 negara.

Al Makin mengakui, sebelum melakukan penelitian, tidak pernah terbayang ada ratusan komunitas agama di Indonesia. Yang jelas, dia selalu tertarik ketika mendengar informasi adanya orang di sebuah daerah yang mengaku sebagai nabi. Dia akan berupaya datang dan bersahabat dengan sang nabi.

Saat ini, tutur dia, yang perlu digarap bagi generasi muda adalah menanamkan kesadaran bahwa dunia, khususnya Indonesia, memiliki keragaman. Di sekitar mereka tumbuh berbagai macam agama. Tidak cukup sebatas toleransi ala Orde Baru. Misalnya, membiarkan gereja berdiri di kampung yang mayoritas berpenduduk muslim.

Aliran kepercayaan yang selama ini banyak diketahui publik, menurut ayah Nabiyya dan Dei itu, sebenarnya juga agama. Hanya, pemerintah menyebutnya dengan istilah aliran kepercayaan.

Secara terpisah, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Prof Dede Rosyada menjelaskan, kemunculan agama dan nabi yang begitu banyak di Indonesia memang tidak lepas dari sisi religiusitas masyarakat yang begitu kental. Ditambah, adanya dukungan pemerintah. ’’Indonesia ini unique country ya, karena negara mengurusi agama,’’ terangnya.

Senada dengan Al Makin, Dede menyarankan masyarakat untuk menghormati setiap keyakinan yang berbeda dengan yang diyakininya. Masyarakat cukup meyakini agama yang memang membuat mereka nyaman. ’’Amalkan ajaran agama masing-masing dan jangan mengganggu (agama, Red) yang lain,’’ tambahnya.

Kini Al Makin tinggal menunggu penerbitan bukunya di Leiden, Belanda, oleh penerbit Springer. Buku itu diterbitkan di Negeri Tulip bukan untuk menghindari sesuatu, misalnya meningkatnya radikalisme dan kekerasan kepada kelompok minoritas. Tapi, lebih pada mengekspor ilmu pengetahuan.

Toh, nanti buku tersebut juga akan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia. ’’Kita punya banyak ilmu, namun sangat sedikit yang ditampilkan di dunia internasional,’’ ujarnya. (*/c5/ttg)