Akui Masyarakat Masih Membakar Lahan

Akui Masyarakat Masih Membakar Lahan

  Kamis, 26 July 2018 11:10
KARHUTLA. Suasana simulasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan pada Apel Gelar Pasukan Operasi Bina Karuna II di Komplek Sabang Merah kemarin. SUGENG/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Bupati: Pemerintah Mesti Turun Tangan

SANGGAU – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sanggau berusaha semaksimal mungkin bersama dengan TNI-Polri dan sejumlah instansi dan lembaga lainnya termasuk pihak swasta untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Dengan hadirnya komitmen bersama tersebut, Rabu (25/7) pagi kemarin dilaksanakan Apel Gelar Pasukan Operasi Bina Karuna II Tahun 2018 yang dipusatkan di Komplek Sabang Merah, Kota Sanggau dipimpin langsung oleh Bupati Sanggau, Paolus Hadi.

 “Saya tidak mau lagi ada asap. Oleh karena itu kepada masyarakat yang masih berusaha dengan cara membakar lahan, kedepan harus ada solusi. Kita memang harus mengerti bahwa masyarakat kita masih ada yang membakar lahan. Pemerintah mesti turun tangan, harus ada solusi sehingga kita tidak hanya bisa memberi himbauan tetapi mereka juga harus punya usaha bagaimana (bertani) kedepan,” terangnya.

 “Tentu ini berkaitan dengan ekonomi dan hajat hidup orang ramai. Yang kita tidak mau adalah asap. Saya juga berharap kepada masyarakat Kabupaten Sanggau mari kita bersama-sama berkomitmen menjaga kondisi itu,” katanya.

 “Dan tentu sekali lagi kepada kita semua termasuk insan pers memberi informasi supaya masyarakat mengerti dan bisa serta menjaga tempatnya masing-masing,” tambahnya.

Saat ini, kebutuhan akan lahan sudah semakin sempit karena lahan sudah semakin berkurang. Nah, bila masih berusaha dengan melakukan cara lama pasti lahan akan semakin sempit nantinya.

 “Sudah saatnya kita punya teknik dan teknologi baru kedepan yang bisa dipakai masyarakat secara sederhana. Karena yang saya pahami membakar itu yang mereka (petani) butuhkan adalah pupuk alam. Mungkin karena pupuk inilah (dari abu sisa pembakaran) yang mereka butuhkan,” ungkapnya.

Dari sinilah harus dapat menemukan celah dan memberikan temuan yang dapat menunjang (penelitian). Dirinya yakin dengan bersama-sama pasti ada ide-ide besar untuk menemukan solusi di masa yang akan datang karena yang dibutuhkan adalah padi untuk diolah menjadi beras.

 “Dan tentu tim (pencegahan karhutla) yang sudah diorganisir dapat berjalan dengan baik termasuk persoalan perlindungan kepada masyarakat terhadap bencana asap ini,” ujarnya.

Mengenai kemungkinan penambahan sarana dan prasarana (sarpras) penanggulangan bencana karhutla dan asap, Paolus menyampaikan bahwa pemerintah telah memfasilitasi kecamatan dengan kendaraan berupa mobil dan juga dengan peralatan portable.

 “Tadi saya lihat ada perlatan potable yang bisa dibawa dengan sepeda motor, ini baik dan ivonasi-inovasi ini harus kita lanjutkan. Setiap desa sudah ada tim dan melalui dana desa juga boleh menganggarkan untuk membeli peralatan-peralatan (untuk) mencegah kebakaran,” katanya.

 “Ya mungkin sekarang kita konsen dengan soal hutan, tetapi berikutnya terjadi juga kepada masyarakat kita di kampung-kampung kalau kebakaran rumah, rumah mereka langsung habis (terbakar). Semoga upaya ini dapat terorganisir secara baik. Kalau timnya ada kita pun merasa tenang,” tegasnya. (sgg)

Berita Terkait