Aksi Teror Terhadap Polisi Makin Sulit Terdeteksi

Aksi Teror Terhadap Polisi Makin Sulit Terdeteksi

  Minggu, 2 July 2017 15:05
Suasana di sekitar kejadian penikaman anggota polisi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat malam (30/6). Dua anggota Brimob menjadi korban penikaman di Masjid Falatehan, Lapangan Bhayangkara Mabes Polri. (DERY RIDWANSAH/JAWA POS)

Berita Terkait

 Serangan teror bertubi-tubi yang menyasar polisi kian sulit terdeteksi. Bukan karena lemahnya pengawasan, melainkan karena metode teror dengan alat sehari-hari seperti pisau dan sangkur yang sulit dilacak. 

Pengamat terorisme Al Chaidar mengutarakan, pisau ataupun sangkur bukan alat ilegal sehingga bisa didapat semua orang. Namun, tetap memiliki kemampuan sebagai alat untuk membunuh. "Berbeda dengan teror menggunakan bom yang lebih mudah terdeteksi," ujarnya kemarin (1/7). 

Menurut dia, serangan teror dengan bom membuka banyak celah untuk dipantau Misalnya, melalui pergerakan atau pengiriman bahan peledak. Selain itu, perakitannya membutuhkan komunikasi dan konsultasi dengan pihak yang paham dalam perakitan bom. Jalur komunikasi itu memungkinkan polisi untuk mengendus dan menggagalkannya. "Tapi, kalau orang membeli pisau di pasar, siapa yang bisa mendeteksi," katanya. 

Karena itu, sejak tahun lalu Densus 88 Mabes Polri berhasil menggagalkan belasan rencana teror bom dengan meringkus para pelaku saat mengirimkan bahan peledak maupun saat berkomunikasi merencanakan skenario serangan bom.

Misalnya, rencana serangan teror di Surabaya. Pada 8 Juni 2016 polisi berhasil meringkus tiga terduga teroris pimpinan Hadi Utomo di Kenjeran, Surabaya. Dari mereka, polisi berhasil menyita bom yang sudah siap diledakkan serta dokumen rencana serangan teror.

Ada pula rencana bom yang menyasar istana presiden. Pada 10 Desember Densus 88 menangkap tiga terduga teroris di Bekasi. Rencana serangan itu terendus karena polisi mendeteksi adanya pengiriman bahan peledak dari Karanganyar, Jateng, menuju Bekasi. Selain itu, ada komunikasi antar pelaku saat menyiapkan rumah untuk perakitan bom dan pengiriman uang untuk biaya operasi teror.

Selain dua contoh itu, masih ada beberapa plot serangan teror yang dapat digagalkan melalui deteksi terhadap pergerak­an bahan peledak dan komunikasi antar pelaku. Namun, serangan teror dengan senjata berupa pisau atau parang me­mang sulit terdeteksi.

Akibatnya, beberapa polisi menjadi korban akibat serangan mendadak pelaku teror. Misalnya, tiga polisi yang diserang dengan pisau di Cikokol, Tengerang, Oktober 2016. Ada pula serangan teror dengan menggunakan parang di Mapolres Banyumas pada April 2017. Terbaru, serangan teror dengan pisau di Mapolda Sumatera Utara yang satu polisi meninggal pada 25 Juni lalu. Lima hari kemudian, terjadi lagi serangan dengan pisau di Masjid Falatehan dekat Mabes Polri yang melukai dua anggota Brimob. 

Karena itu, menurut Chaidar, plot serangan dengan pisau memang harus ditangkal dengan peningkatan kewaspadaan anggota polisi. Misalnya, dengan saling menjaga ketika bertugas di tempat umum atau ketika sedang beraktivitas bersamaan. "Sebab, sekarang masjid pun sudah menjadi lokasi serangan. Ini buruk," jelasnya.

Sementara itu, terkait kelanjutan pengusutan teror penusukan di Masjid Falatehan, polisi berhasil mengungkap identitas pelaku. Setelah dilakukan penelusuran, diketahui pelaku bernama Mulyadi. Dia selama ini bekerja sebagai penjual kosmetik di kompleks pertokoan Roxy, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. 

Kemarin Polri memeriksa kakak ipar dan kakak kandung pelaku. Walau belum diketahui dari mana Mulyadi bisa terjangkit paham radikal, sudah bisa dipastikan keterhubungannya dengan ISIS.

Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan, identitas pelaku telah diketahui, bisa dibilang 75 persen pelaku bernama Mulyadi yang kartu tanda penduduk (KTP)-nya ditemukan di saku pelaku. Alamat dalam KTP Di Pegaulan, Sukaresmi, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. "Sudah dilakukan pengecekan berulang-ulang," ujarnya. 

Awalnya, saat dicek, alamat dalam KTP tersebut tidak ditemukan atau tidak ada. Foto dalam kartu identitas yang dicocokkan dengan wajah pelaku kurang mirip. "Namun, pengecekan mendalam terus dilakukan." 

Hasilnya, ternyata berdasar kesaksian dari kakak iparnya, pelaku memang bernama Mulyadi. Alamat yang tertera di KTP itu merupakan milik kakak ipar. "Tapi, Mulyadi ini tidak tinggal di sana," papar mantan Wakabaintelkam tersebut. 

Kendati begitu, untuk memastikan identitas pelaku, akan dilakukan tes DNA. Nanti dicocokkan antara DNA pelaku dan keluarganya. "Apakah orang tua, kakak kandung, atau adik kandungnya," ujarnya. 

Saat ini baru diketahui aksi teror dilakukan pelaku tunggal, tapi semua itu harus dicek kembali. Maka, dilakukan analisis terhadap closed circuit television (CCTV) yang ada di sekitar lokasi kejadian. "Kita lihat, apakah ada yang lain," paparnya. 

Wakapolri Komjen Syafruddin menambahkan, penyerangan terhadap dua anggota Brimob di Masjid Falatehan depan Mabes Polri hampir pasti didalangi ISIS. Itu dilihat dari modus pelaku yang menyerang petugas dengan pisau yang membuat luka-luka di bagian pipi, mirip dengan penyerangan di Mapolda Sumatera Utara. "Hampir pasti ini ada keterlibatan ISIS," jelasnya. 

Menurut Setyo Wasisto, kelompok yang bertanggung jawab dalam aksi teror kali ini mungkin sama dengan kelompok yang menyerang polisi di Mapolda Sumut. "Sasarannya polisi, bisa dibilang sama dengan yang sebelumnya," jelasnya. 

Aksi teror menggunakan pisau secara membabi buta terhadap polisi itu diakui merupakan instruksi dari Bahrun Naim. "Memang dari dia instruksinya. Karena itu, Polri berupaya melakukan antisipasi," jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi adanya serangan teror lagi, Setyo mengatakan bahwa semua anggota diinstruksikan untuk memperketat penjagaan dan pengamanan diri dalam beraktivitas. "Diimbau untuk anggota jangan lengah dan membawa senjata dalam setiap aktivitasnya." 

Saat melakukan penjagaan, misalnya, sedang mengecek bawaan pengunjung, diharuskan ada satu anggota lain yang bersen­jata dan mengawasi situasi sekitar. "Kalau sedang salat itu juga harus ada yang berjaga bersenjata, laras panjang mungkin tidak perlu. Tapi, senjata laras pendek bisa dibawa. Lalu, ada juga yang berjaga dan gantian nantinya dalam beribadah," ungkapnya. 

Anggota yang tidak mendapatkan inventaris senjata api bisa memberlakukan buddy system, anggota bersama-sama menjadi sebuah unit yang saling menjaga. Yang tidak membawa senjata itu harus bersama dengan anggota yang bersenjata. "Sehingga, anggota saling menjaga dan bisa menangkal bila ada serangan mendadak," tegasnya.

Di sisi lain, kondisi dua anggota Brimob yang menjadi korban teror, AKP Dede Suhatmi dan Briptu M. Syaiful Bakhtiar, terus membaik. Walau begitu, masih ada kemungkinan keduanya kembali menjalani operasi. Untuk menjaga keselamatan mereka, penjagaan dilakukan dengan ketat. 

Korban Dede Suhatmi dan M. Syaiful Bakhtiar dirawat di area para korban aksi terorisme. Seperti Bripda Yogi Aryo yang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Kampung Melayu. Kedua korban dan Yogi Aryo dirawat di kamar yang tidak berjauhan di lantai 3 rumah sakit itu.

Setyo Wasisto menyatakan, kondisi dua anggota Brimob saat ini sudah cukup stabil pasca dilakukan operasi untuk menjahit luka di bagian wajah. Untuk Dede Suhatmi, luka di pipi kanan sepanjang sekitar 15 cm tembus ke bibir bagian atas. 

"Untuk Briptu Syaiful, luka pada bagian pipi kanan sedalam sepanjang 10 cm dan tembus ke pipi bagian dalam. Keduanya masih dalam perawatan, bisa jadi nanti dibutuhkan operasi kembali," terangnya. (idr/lum/c10/owi) 

Berita Terkait