Akhlak Mulia Meraih Surga

Akhlak Mulia Meraih Surga

Jumat, 22 December 2017 08:52   279

Ar Rafi’i berkata, “Seandainya aku diminta untuk merangkum filosofi seluruh ajaran Islam dalam dua kata, maka akan kukatakan keluhuran akhlak. Ketika ditanya apa dasarnya ?.  Rasul SAW bersabda, “Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”” (HR.Imam Malik). 

Mengapa Nabi Muhammad di utus? Allah SWT berfirman, “Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Al Anbiya 107). 

Dalam satu hadis dikisahkan ada seorang wanita yang dikenal ahli ibadah, tetapi di akhirat menjadi penghuni neraka. Apa sebabnya? Ketika di dunia ia sengaja mengurung seekor kucing  di dalam rumahnya, tidak diberinya makan, tidak pula diberinya pintu keluar sehingga sang kucing bisa keluar untuk mencari makan sendiri. Akhirnya kucing itu mati karena kelaparan. Diriwayatkan pula satu ketika beberapa orang menemui Rasulullah SAW dan melapor, “Ya Rasulullah. Fulanah terkenal rajin mengerjakan salat, berpuasa, dan berzakat. Hanya saja, ia sering menyakiti tetangganya.” 

Rasulullah SAW menjawab, “Dia di neraka.” Bayangkan, orang yang berakhlak buruk digambarkan Nabi SAW sebagai orang yang bangkrut. 

Nabi SAW bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”

Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut adalah yang tidak mempunyai uang atau harta.”

Beliau SAW menjelaskan, “Orang yang bangkrut diantara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakatnya. Namun ia pernah mencela orang, mencaci orang, memakan harta orang, memukul, dan menumpahkan darah orang. Maka, ia pun harus memberikan pahala amal baiknya kepada orang–orang itu. Jika amal baiknya sudah habis sebelum dibayar semua, diambil lah dosa mereka untuk diberikan kepadanya. Maka ia pun dilemparkan ke neraka.” (HR.Muslim). 

Dalam hadis lain Rasulullah SAW mengancam, “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” 

Para sahabat bertanya, “Siapa ya Rasul?”. 

Beliau SAW menjawab, “Orang yang tetangganya merasa tidak aman dari keburukannya.” (HR.Muslim–Ahmad). 

Contoh sederhana misalnya seorang wanita menjemur cucian yang masih basah, lalu bekas airnya berjatuhan di atas cucian tetangganya yang tinggal di bawahnya. “Dengan begitu ia terkena hadis di atas,” ujar Dr.Amr Khaled dalam bukunya Buku Pintar Akhlak.

Seseorang tetangga yang membunyikan tape dengan suara nyaring sehingga mengganggu orang di sebelah rumahnya yang sedang sakit atau istirahat, itu pun termasuk dalam hadis tersebut. 

Disebutkan dalam satu hadis, “Ada seorang wanita yang salat, puasa, dan zakatnya biasa–biasa saja.Tetapi ia tidak menyakiti tetangganya.” Maka Rasul SAW menjawab, “Dia di surga.” (HR.Ahmad).

Muncul pertanyaan. “Mana lebih penting antara salat , puasa , doa, zikir, haji, dan seterusnya?”. Dr.Amir Khad, salah seorang motivator Muslim kaliber dunia menjawab, “Akhlak lebih penting. Sebab tujuan utama seluruh ibadah adalah membenahi akhlak. Kalau tidak, maka ibadah tersebut akan jadi semacama latihan olah raga saja.” 

Sebab  Allah SWT berfirman, “Dirikanklah salat. Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al Ankabut 45).

Dari ayat tersebut maka bila salatnya tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, berarti salatnya itu hanya berupa gerakan olahraga saja. Ia mengerjakan salat, tetapi akhlaknya tidak membaik. 

Dalam hadis Qudsi Allah berfirman, “Aku hanya menerima salat dari orang yang dengannya ia tawadhu pada keagungan-Ku, tidak menyakiti makhluk-Ku, berhenti bermaksiat pada-Ku, melewati siangnya dengan zikir pada-Ku, serta mengasihi orang fakir, orang yang sedang berjuang di jalan-Ku, dan orang yang sedang ditimpa musibah.” (HR. Al Zubaidi) 

Imam Ja’far Al Shadiq, buyut Nabi SAW berkata, “Tidak diterima salat seseorang yang tidak memiliki kepedulian terhadap orang yang lapar dan terlantar.” 

Nabi mulia Muhammad SAW bersabda, “Jika kalian sedang berpuasa, jangan berbuat kotor dan membentak. Jika di maki atau diajak berkelahi, katakan ‘Aku sedang puasa’.” (HR.Muslim).

Dikisahkan, satu ketika Nabi SAW berkunjung ke rumah salah seorang sahabatnya. Sebelum masuk, Nabi SAW mendengar sahabatnya itu berkata keras dan kasar kepada pembantunya. Si tuan rumah menerangkan kepada Nabi SAW bahwa ia sedang berpuasa. Nabi SAW menegaskan agar ia berbuka saja sebab tidak ada gunanya dia berpuasa hari itu, lantaran telah memaki pembantunya. 

Nabi SAW mengingatkan bila kelembutan melekat pada sesuatu, pastilah ia akan menghiasinya. Apabila terlepas, ia juga akan memperburuknya.” (HR.Ahmad). 

Simak pula peringatan Nabi SAW, “Orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada Hari Kiamat adalah orang yang dijauhi manusia karena takut pada kejahatannya.” (HR.Ahmad–Al Hakim).

Satu hari Nabi SAW bertanya kepada sejumlah sahabat. “Maukah kalian kuberitahu siapa yang paling kucintai?” 

“Tentu ya Rasulullah,” jawab mereka. 

Nabi SAW menegaskan, “Orang yang paling aku cintai ialah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR.Ahmad).

Dikisahkan lagi satu utusan datang kepada Nabi SAW.  Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling dicintai Allah?”

Beliau SAW menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” (HR.Ahmad–Ibnu Majah).

Subhanallah. Rasul SAW mulia itu memberikan iming–iming pasti  kepada umatnya yang berakhlak baik. “Dengan akhlak yang baik seorang mukmin akan mencapai derajat orang yang berpuasa dan qiyamullail.” (HR.Abu Daud–Ahmad).Wallahu’alam. **

Uti Konsen